Investasi Pertanian di Era Revolusi Industri 4.0, Cocok kah?

Selasa, 09 April 2019 – 23:00 WIB

Djulio Laurenzo, Mahasiswa Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara (Foto : Dokpri)

Djulio Laurenzo, Mahasiswa Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara (Foto : Dokpri)

Pengetahuan tentang investasi itu vital di zaman yang semakin maju ini, sangat pening! Namun kerap kali menjadi ketakutan dan keraguan tersendiri dan menurut Bank Indonesia, rata-rata inflasi tahunan berkisar 2-3%, artinya setiap uang IDR 100.000 (seratus ribu rupiah) yang kita tabung, 2.000-3.000 rupiah sudah lenyap termakan inflasi.

Jika kita selidiki, seorang karyawan dengan gaji UMR (Rp 3.700.000) ingin mempunyai hunian termurah di Jakarta seharga Rp 500 juta (berdasarkan detik finance), maka ia harus memproyeksikan 135 tahun untuk mendapatkan hunian pribadi, itu pun tanpa memperhitungkan kebutuhan pribadi, alias gaji tersebut tidak boleh dipakai sama sekali dan belum termasuk inflasi.

Lantas apakah hal tersebut sesuai dengan UUD 1945 mengenai kesejahteraan rakyat? Iya, namun kita harus pintar menganalisis kesempatan dan peraturan yang ada untuk menghasilkan pendapatan di era revolusi industri. Salah satunya dengan investasi di bidang pertanian, karena DNI (Daftar Negatif Investasi ialah sektor bisnis yang disusun pemerintah sebagai informasi bagi para calon investor tentang berbagai aturan dan kepemilikan bersama) sangat menguntungkan kita sebagai WNI.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), semenjak 5 tahun lalu, angka investor yang bergerak dalam bidang pertanian di Indonesia telah meningkat sekitar empat belas ribu triliun rupiah. Perkembangan tersebut meningkat drastis karena stabilnya aset solid dalam pasokan terbatas yang nilainya tidak mungkin turun, juga tingkat keamanan modal yang tinggi serta tingkat risiko yang rendah.

Selanjutnya, Inflationary government policies yaitu kenaikan jumlah uang beredar dan monetisasi utang pemerintah, merupakan ketakutan setiap investor, namun dapat dihindari, karena nilai tanah pertanian umumnya meningkat lebih cepat dibanding inflasi, membuat tanah pertanian menjadi pelindung inflasi yang efektif.

Maka, menurut BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), aset riil pertanian di atas 5% setiap tahun, secara historis telah berulang kali mengungguli aset utama termasuk saham, obligasi, dan real estate komersial di berbagai pasar dan skala waktu. Oleh karenanya, kaum milenial jangan melupakan investasi di bidang pertanian, tidak akan ketinggalan dan pastinya untung kok.(*)

Ditulis oleh Djulio Laurenzo, Mahasiswa Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara