Nyata! Banyak Kasus Pelecehan Seksual di Kampus Tidak Terungkap, Ini Penyebabnya

Kamis, 11 April 2019 – 23:00 WIB

Chika May Andani! Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang (Foto : Dokpri)

Chika May Andani! Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang (Foto : Dokpri)

Belakangan, banyak kabar tidak mengenakkan yang terjadi di kampus. Masih membekas di ingatan kita kasus Agni (bukan nama sebenarnya) salah satu mahasiswa di Yogyakarta yang mengalami pelecehan seksual oleh rekan sekampusnya pada saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Maluku. Sebagaimana diberitakan, pihak kampus seakan tidak berpihak pada Agni. Bahkan Agni sempat disamakan dengan “ikan asin” yang memancing kucing (dalam hal ini laki-laki).

Kasus Agni seolah membuka mata publik bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja di kampus. Tidak lama berselang setelah kejadian Agni, banyak pengakuan dari beberapa mahasiswa kepada pers bahwa mereka mengalami pelecehan seksual di kampus. Mirisnya pelaku adalah dosennya sendiri. Bahkan ada yang terjadi berulang kali. Cukup memprihatinkan, kasus-kasus pelecehan ini justru terjadi di perguruan-perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Menurut pengakuan dari beberapa mahasiswa yang pernah mengalami pelecehan seksual di kampus, mereka enggan melaporkan kasus yang mereka alami. Selaras dengan survei yang dilansir “lentera sintas Indonesia” tahun 2016, sebesar 93% korban pelecehan seksual enggan melaporkan kasus.

Bukan tanpa sebab! Mereka tentu punya alasan sendiri mengapa mereka enggan melaporkan dan hanya bercerita kepada orang terdekat. Ya alasannya sama seperti yang kita pikirkan bersama. Alasan mereka tidak melapor karena mereka takut akan adanya ancaman/tindakan diskriminasi. Ditambah mereka akan di beri label negatif oleh masyarakat, disalahkan, dipojokkan dan tidak memperoleh dukungan dari banyak pihak.

Dalam RUU-PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual) ada 9 bentuk perbuatan yang termasuk ke dalam tindak pidana kekerasan seksual meliputi; pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual dan/atau penyiksaan seksual.

Pelecehan seksual adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk tindakan fisik atau non-fisik kepada orang lain, yang berhubungan dengan bagian tubuh seseorang dan terkait hasrat seksual, sehingga mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan.

Perlakuan yang diterima oleh Agni dan korban lain, jelas termasuk pelecehan seksual. Menurut Nadia Karima Melati (aktivis) pelecehan seksual yang terjadi dikampus tidak dapat ditindaklanjuti dikarenakan :

Pertama di kampus tidak ada posko untuk melapor. Sehingga pihak pelapor tidak tahu harus melapor kepada siapa.

Kedua tidak ada sanksi yang akan didapat oleh pelaku pelecehan seksual sehingga pihak pelapor tidak akan mendapat apa-apa.

Ketiga tidak ada dokumentasi. Jika tidak ada data maka kampus akan berdalih kampus mereka baik-baik saja dan bebas dari kekerasan seksual.

Kesimpulannya, ternyata belum ada mekanisme penanganan perkara pelecehan seksual yang terjadi di kampus. Kasus pelecehan seksual di kampus harus segera dicarikan solusi. Sebelum semakin banyak lagi perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual. Lalu, apa yang dapat kita perbuat?

Dengarkan kisah mereka, dengan rasa simpati dan empati. Jangan mendiamkan, menghakimi apalagi sampai menyalahkan korban pelecehan seksual. Institusi Pendidikan seperti kampus harusnya menjadi garda terdepan dalam pembentukan karakter bangsa dan menanamkan nilai-nilai pancasila.(*)

Ditulis oleh Chika May Andani! Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang