Perlunya Sistem Manajemen Keselamatan yang Baik dan Benar dalam Pengelolaan Bandar Udara

Kamis, 28 Mei 2020 – 18:20 WIB

Perlunya Sistem Manajemen Keselamatan yang Baik dan Benar dalam Pengelolaan Bandar Udara

Perlunya Sistem Manajemen Keselamatan yang Baik dan Benar dalam Pengelolaan Bandar Udara

JAKARTA, REQnews - Keselamatan penerbangan selalu menjadi hal serius selama bertahun-tahun, sebuah kecelakaan pesawat dapat terjadi karena banyak faktor, diantaranya faktor pesawat itu sendiri, faktor human error, faktor cuaca, atau bahkan tidak berfungsinya fasilitas-fasilitas bandara.

Penerapan SMS (Safety Management System) pada suatu bandara tidak dapat diterapkan ke bandara lainnya. Sehingga pengembangan SMS terbentuk mengikuti karakteristik bandara tersebut.

Pengertian sistem manajemen keselamatan sangatlah luas dan dapat dilihat dari berbagai perspektif, berikut menurut ICAO (2006) memberikan pengertian keselamatan adalah keadaan di mana suatu resiko dari terlukanya seseorang atau kerusakan harta benda berkurang untuk dipertahankan didalam atau dibawah suatu tingkat yang dapat diterima, melalui suatu proses berkelanjutan dari identifikasi masalah dan manajemen resiko.

Pentingnya SMS karena Keselamatan penerbangan selalu menjadi hal serius selama bertahun-tahun hal ini dikarenakan resiko kematian yang di akibatkan oleh suatu kecelakaan pesawat terbang sangat tinggi jika dibandingkan dengan moda transportasi lainnya.

Kementrian Perhubungan menunjukan bahwa pada tahun 2011 sampai 2015, jumlah penumpang yang memakai moda transportasi udara mencapai 6.221.954 juta untuk domestik sedangkan untuk penumpang internasional mencapai 436.862.

Sebuah kecelakaan pesawat dapat terjadi karena banyak faktor, diantaranya faktor pesawat itu sendiri, faktor human error, faktor cuaca, atau bahkan tidak berfungsinya fasilitas-fasilitas bandara. Faktor-faktor tersebut pada dasarnya sudah menjadi tanggung jawab masing-masing pihak terkait seperti pihak pengelola bandara sebagai institusi penyedia jasa layanan lalu lintas udara (air traffic service provider).

Penerapan SMS pada suatu bandara tidak dapat diterapkan ke bandara lainnya karena setiap bandara adalah unik dan mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Bandar Udara juga dibagi menjadi dua bagian utama yaitu Sisi udara(airside) dan Sisi darat (landside). gedung-gedung Terminal menjadi perantara diantara kedua bagian itu. Safety management system berperan penting di kedua bagian tersebut.

Disadari juga bahwa safety management system memiliki ketentuan dan landasan hukum Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan yang mengatakan tentang secara khusus dalam undang-undang tersebut tertera pada bagian keempat, sistem manajemen keselamatan penyedia jasa penerbangan, yakni pada pasal 314 sampai dengan pasal 317.

Pada pasal 314 ayat 1 disebutkan bahwa setiap jasa penerbangan wajib membuat, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakan secara berkelanjutan sistem manajemen keselamatan dengan pedoman program keselamatan penebangan nasional. Lebih lanjut pada pasal 315 diatur bahwa sistem manajemen keselamatan penyedia jasa penerbangan paling sedikit memuat: Kebijakan dan sasaran keselamatan, Manajemen resiko keselamatan, Jaminan keselamatan, Promosi keselamatan.

Ada pun beberapa Keputusan Menteri Perhubungan tentang Safety Management System tersebut adalah; Keputusan Menteri Perhubungan, KM 24 Tahun 2009, tentang peraturan keselamatan penerbangan sipil bagian 139 tentang Bandar udara ini berisi tentang kewajiban penyelenggara bandar udara yang memiliki sertifikat bandar udara, Keputusan Menteri Perhubungan, KM 20 Tahun 2009, tentang sistem manajemen keselamatan mengatur tentang pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan oleh penyedia jasa penerbangan, Peraturan menteri perhubungan: KM 8 tahun 2010, tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional dibuat sebagai pedoman dan acuan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan penerbangan nasional.

Selanjutnya program keselamatan penerbangan nasional ini menjadi pedoman dan acuan bagi penyedia jasa penerbangan dalam menyusun sistem manajemen keselamatan SMS, Peraturan Menteri Perhubungan No. 6 Tahun 2014, tentang keselamatan penerbangan sipil bagian 830 Civil Aviation Safety Regulation Part 830 tentang Pemberitahuan dan Pelaporan Kecelakaan dan Kejadian Serius Pesawat udara sipil serta prosedur investigasi kecelakaan dan kejadian serius pesawat udara sipil, Peraturan Menteri : PM 44 Tahun 2015,  tentang Keselamatan Penerbangan Sipil bagian 173 Civil Aviation Safety Regulation Part 173 tentang perencanaan prosedur penerbangan Flight Procedure Design.

Dari beberapa keputusan yang sudah di rangkum di atas, ada juga Petunjuk pelaksanaan dan landasan hukum lainya disini terdiri dari: Advisory Circular, AC No 1505200-37 tentang pengenalan SMS untuk Operator Bandara, Advisory Circular No 1505340-IJ tentang standar untuk marka bandara, Advisory Circular No 1505200-18C tentang Inspeksi Mandiri Keselamatan Bandara, Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No.SKEP223X2009 Tentang Petunjuk dan Tata Cara Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan Operasi Bandar Udara, Keputusan Direksi PT Angkasa Pura I Persero No. KEP.38OP.012009 Tentang Sistem Manajemen Keselamatan di Bandar Udara yang di kelola PT Angkasa Pura I Persero, Keputusan Direksi PT Angkasa Pura I Persero No. KEP.64HK.032009 Tentang Pembebasan dari Hukuman dalam Sistem Manajemen Keselamatan Non-Puntive Reporting Policy PT Angkasa Pura I Persero, Kebijakan keselamatan Corporate Safety Policy Direksi PT Angkasa Pura I Persero serta General Manager PT Angkasa Pura I Persero.

Bandar udara pun diwajibkan untuk melaksanakan identifikasi dan pencegahan resiko yang diakibatkan perbendaan karasteristik pesawat-pesawat tersebut. Jika diperlukan meninjau kembali mengubah posisi parkir pesawat udara. Dan jika terjadi perubahan marka danatau posisi parker pesawat, bandara udara wajib memberitahu kepada operator penerbangan.

Penerapan SMS(Safety Management System) yang diukur oleh Keselamatan Penerbangan memiliki kontribusi yang positif dan signiikan terhadap tinggi rendahnya Keselamatan Penerbangan. Dengan demikian tinggi rendahnya Keselamatan Penerbangan dijelaskan oleh Penerapan SMS. Besarnya kontribusi Penerapan SMS yang secara langsung berkontribusi terhadap Keselamatan Penerbangan sebesar 35,4 persen.

Penggunaan Sistem Informasi yang diukur oleh Keselamatan Penerbangan memiliki kontribusi yang positif dan signiikan terhadap tinggi rendahnya Keselamatan Penerbangan. Dengan demikian tinggi rendahnya Keselamatan Penerbangan dijelaskan oleh Penggunaan Sistem Informasi. Besarnya kontribusi Penggunaan Sistem Informasi yang berpengaruh total Secara simultan penerapan SMS dan Penggunaan Sistem Informasi berkontribusi secara signifikan terhadap Keselamatan Penerbangan.

Penerapan SMS dan Penggunaan Sistem Informasi berkontribusi secara signifikan terhadap Keselamatan Penerbangan pada bandar udara. Dengan besaran kontribusi tersebut, penerapan SMS dan penggunaan Sistem Informasi merupakan salah satu bagian yang sebaiknya mendapatkan perhatian organisasi untuk mencapai keselamatan penerbangan.

Penulis: Lusianus Dicaprian Nganjang, mahasiswa S1 Program Studi Teknik Dirgantara, Fakultas Teknik Transportasi dan Logistik, Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Jakarta.