Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Integritas dan Independensi Hakim, Masih Adakah?

Jumat, 10 Mei 2019 – 09:30 WIB

Rosi Firdausiyah! Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang

Rosi Firdausiyah! Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang

Saat ini praktik korupsi di Indonesia sudah mencapai titik nadir. Belakangan hampir setiap minggu kita dipertontonkan dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan lembaga anti rasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada pejabat/aparat penegak hukum. Namun, ada yang lebih menyedihkan.

Di bawah kepemimpinan Ketua Mahkamah Agung (MA), Hatta Ali, tercatat setidaknya ada 20 orang hakim yang terlibat kasus korupsi. Ada hakim pengadilan tinggi, ada hakim pengadilan negeri dan ada pula panitera.

Berbicara tentang hakim, tidak berlebihan jika hakim disebut sebagai wakil tuhan di bumi. Mengapa? Sebab nasib hajat seseorang ditentukan oleh hakim melalui putusannya. Putusan hakim dapat berimplikasi serius bagi para pihak yang berperkara di pengadilan. Sebagai contoh, putusan hakim dapat merenggut kebebasan seseorang, dapat membuat hak kepemilikan terhadap suatu harta berpindah tangan, bahkan putusan hakim dapat menentukan nasib hidup/ mati nya seseorang.

Oleh karena itu peran hakim sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman harus mampu memberikan rasa keadilan yang seadil-adilnya bagi para pencari keadilan. Namun, melihat banyaknya hakim yang terlibat kasus suap, masih adakah keadilan yang tercipta bagi pencari keadilan? Apakah keadilan hanya milik mereka yang berkuasa dan berduit saja?

Jika praktik suap menyuap di pengadilan terus terjadi, orang yang tidak mempunyai uang dan akses akan menjadi korban. Bahkan bukan pihak yang berperkara saja yang akan dirugikan namun juga masyarakat secara luas.

Mengapa hakim yang merupakan profesi mulia masih banyak dicederai oleh oknum yang melakukan korupsi? Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Tentu hal ini menjadi problematika yang sangat kompleks.

Faktor penyebabnya adalah lemahnya mental para hakim. Mereka tidak bisa mempertahankan integritasnya sehingga mudah sekali untuk diusap.

Jika berbicara soal kesejahteraan hidup, tentu ini bukanlah yang menjadi faktor utama. Kenyataannya banyak hakim yang kaya namun melakukan korupsi. Hal itu dikarenakan sifat tamak dari seorang manusia yang tidak pernah merasa cukup dan puas. Mereka terus berhasrat untuk memperkaya dirinya sendiri.

Faktor lain yaitu, penegakan hukum. Seperti yang kita ketahui pidana yang dijatuhkan kepada seseorang yang melakukan korupsi terbilang cukup ringan. Penegakan hukum dalam kasus korupsi perlu dipertegas agar dapat memberi efek jera.

Hakim harus mempunyai integritas dan independensi dalam memutus setiap perkara. Integritas adalah konsistensi/keteguhan seseorang yang tidak dapat digoyahkan oleh apapun sehingga dapat mempertahankan prinsipnya. Selain integritas hakim juga harus mempunyai independensi.

Independensi hakim bukanlah pemberian negara atau pemberian hukum. Independensi itu build in atau inherent dalam hati nurani dan akal sehat seorang hakim. Independensi adalah nyawa yang menggerakan syaraf keadilan hakim.

Independensi juga merupakan paradigma sehingga keseluruhan totalitas fisik dan nonfisik hakim sebagai hakim sebagai wakil tuhan penegak keadilan di muka bumi memiliki legalitas moral, sosial dan spiritual yang kuat.

Hakim harus mempunyai kekuatan moral dan intelektual yang tangguh agar dapat mengendalikan pikiran dari perilaku tercela, konflik kepentingan dan tindakan-tindakan yang potensial mendistorsi independensinya sebagai seorang hakim. Dengan demikian keadilan bagi setiap orang dapat diwujudkan.(*)

Ditulis oleh Rosi Firdausiyah! Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang