Ternyata Tuhan Punya Wakil di Bumi

Selasa, 12 Januari 2021 – 17:30 WIB

Palu Hakim (Foto: Istimewa)

Palu Hakim (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Profesi apa di dunia ini yang dapat menentukan hidup dan matinya seseorang? Bahkan dengan kewenangan yang dimiliki bisa mencabut nyawa seseorang. Ya seorang hakim. Hakim disebut-sebut sebagai profesi mulia (officium nobile). Bahkan gelar “Yang Mulia” hanya disematkan kepada hakim.

Hakim juga sebagai kawal terakhir dalam hukum. Sebagai garda terdepan dan terakhir dalam menegakkan keadilan maka seorang hakim haruslah sosok yang ideal dalam artian tidak terpengaruh dan dipengaruhi oleh pihak manapun (independensi) dan profesional.

Meski ada pengacara menyimpang, jaksa yang korup tapi, selagi hakim memiliki integritas dan menjunjung tinggi kebenaran maka keadilan masih bisa ditegakkan.

Keadilan yang ditegakkan juga bukan keadilan untuk salah satu pihak. Sebagai wakil tuhan di dunia setiap keputusan hakim harus mengandung irah-irah Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu berarti tanpa mencantumkan hal tersebut putusan hakim tidak punya kekuatan apa-apa. Sebagaimana diatur dalam Pasal 197 (2) KUHAP maka putusannya batal demi hukum.

Diberikan amanah yang begitu besar menjadikan hakim tidak hanya bertanggungjawab pada diri sendiri tetapi juga mutlak bertanggungjawab kepada sang pencipta dan pemiliki hukum, Tuhan.

Dalam sebuah peradilan, hakim memegang peranan penting dalam memutus sebuah perkara.

Saat ini, satu-satunya sisa Kedaulatan Tuhan adalah lembaga pengadilan. Dalam perspektif teori kedaulatan, jabatan hakim merupakan jabaran dari teori kedaulatan tuhan yang menyeimbangkan teori keadulatan lainnya, yaitu teori kedaulatan rakyat yang dimanifestasikan dalam lembaga parlemen dan kedaulatan raja yang dimanifestasikan dalam lembaga eksekutif.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah hanya ada tiga (3) orang hakim.

Hakim yang masuk surga adalah hakim yang mengetahui kebenaran serta memutuskan dengan kebenaran. Sedangkan 2 tipe hakim yang tersisa yaitu hakim yang mengetahui kebenaran namun tidak memutuskan dengan kebenaran, dan hakim yang tidak mengetahui kebenaran dan memutuskan dengan ketidak-benaran itu maka nerakalah yang siap melahap mereka.

Hadis tersebut hendaknya dijadikan pegangan hakim di Indonesia dalam memutus setiap perkara. Hakim wajib tidak memihak di dalam atau di luar pengadilan dan menjaga marwah seorang hakim.

Putusan hakim memiliki dampak yang luarbiasa. Jika hakim memberi vonis hukuman mati maka satu (1) nyawa manusia melayang. Jika hakim menjatuhkan vonis penjara maka hilang hak kemerdekaan seseorang. Hakim juga bahkan dapat memutus bebas seorang terdakwa.

Bayangkan jika hakim dalam memutus suatu perkara tidak atas dasar kebenaran? Dapat dibayangkan betapa banyak orang yang merasakan pesakitan.

Sebagai penutup, saya berharap seluruh hakim di segala penjuru negeri dapat menjaga amanah yang diberikan sebaik-baiknya sebagai wakil tuhan di muka bumi ini agar keadilan dapat ditegakkan.

Penulis: Tia Heriskha