Lambaian Tangan Seorang Koruptor

Rabu, 12 Juni 2019 – 17:30 WIB

Ilustrasi ekspresi koruptor saat ditahan KPK (Foto: istimewa)

Ilustrasi ekspresi koruptor saat ditahan KPK (Foto: istimewa)

REQNews - Biasanya, beragam ekspresi ditampilkan para tersangka korupsi saat berhadapan dengan kamera televisi ataupun foto usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun institusi penegak hukum lainnya. Kebanyakan ekspresi yang ditunjuk adalah senyum sambil melambaikan tangan.

Beberapa contoh koruptor yang pernah melakukan lambaian tangan dan senyum pasca penetapan mereka sebagai tersangka korupsi, di antaranya Setya Novanto, terpidana kasus korupsi KTP Elektronik, Miryam S Miryani, terpidana kasus KTP Elektronik, Rita Widyasari tersangka tindak pidan pencucian uang izin perkebunan kelapa sawit, Eddy Rumpoko.

Hal serupa juga pernah dilakukan Walikota Batu-Malang Jawa Timur suap pengadaan barang dan jasa, Bupati non aktif Buton, Samsu Umar Samiun suap penanganan sengketa pilkada Buton 2019, Aditya Nugraha Moha, anggota komisi XII DPR RI FPG, tersangka kasus dugaan suap Pengadilan Tinggi Manado.

Pasti banyak yang bertanya-tanya dong, kenapa sih mereka seperti biasa-biasa saja meski secara tidak langsung mereka sudah menyandang status koruptor. Yaps, itulah Indonesia.

Kini, lambaian tangan seorang koruptor sepertinya tak bisa dilihat publik. Sebab terhitung sejak 2 Januari 2019, lembaga antirasuah tersebut menerapkan pemasangan borgol kepada tersangka yang ditahan.

Aturan borgol bagi tahanan korupsi mengacu pada pasal 12 ayat 2 peraturan KPK Nomor 01 Tahun 2012 tentang perawatan Tahanan pada rumah tahanan KPK,yang menyebutkan bahwa dalam hal tahanan dibawa ke luar rutan dilakukan pemborgolan.

Tapi tunggu dulu, soal aturan tersebut, semua pasti sudah banyak yang tahu. Karena dalam tulisan kali ini saya hanya ingin membahas ekspresi atau bahasa tubuh para koruptor tersebut. Sepakat ya gaes kita bahas ekspresi, bukan aturan hukum soal pemborgolan seperti di atas tadi.

Oke, dimulai dari pengertian bahasa tubuh (body language), adalah komunikasi non verbal (tanpa kata). Bahkan 70 persen dari komunikasi sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa non verbal.

Menurut om Richard E.Potter dalam Intercultural Communication (cengage Leraning, 2014) nih, bahasa tubuh adalah proses pertukaran pikiran dan gagasan dengan penyampaian berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, sentuhan, artifak, serta postur gerakan tubuh.

Tak hanya itu, bahasa tubuh juga dianalogikan sebagai bahasa yang diucapkan oleh tubuh kita, bisa dilakukan secara sadar, dan dapat juga dilakukan tanpa sadar. Bahasa tubuh yang dilakukan secara sadar bisa dan mudah dimanipulasi, disesuaikan dengan apa yang diucapkan.

Dalam literature kriminologi, terdapat suatu pembahasan tersendiri mengenai perilaku seseorang. Bahasa tubuh seseorang, memiliki makna dan arti yang berbeda serta tergantung pada situasi dan kondisi yang dialaminya.

Senyum dan lambaian seorang tersangka korupsi dan seseorang yang tidak berkaitan dengan kasus hukum, tentunya memiliki tujuan yang tidak serupa. Untuk itu, bahasa tubuh sebagai perilaku non verbal seseorang dapat merupakan hal yang bersifat negatif ataupun positif dari yang bersangkutan terhadap pihak lain serta situasi dan kondisi tertentu yang dihadapinya.

Coba kita lihat pendapat pakar bahasa tubuh Ray Birdwhistle. Menurut dia, dalam setiap komunikasi biasa terdapat 35 persen komponen verbal dan 65 persen komponen non verbal. Buat kalian tahu nih gaes, komponen verbal adalah komunikasi non verbal atau perilaku non verbal.

Secara naluriah, seseorang tidak ingin diketahui kecemasan yang dimilikinya. Hal tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri dan menguntungkan orang lain. Dalam kaitannya dengan perilaku kebohongan, bahasa tubuh berupa senyuman dan lambaian tangan memilki makna tersendiri.

Secara umum, senyuman dapat diartikan sebagai keadaan individu dalam situasi aman. Namun, hal tersebut tidak dapat berlaku bagi koruptor. Dalam kenyataannya, perilaku tersebut (senyum seorang koruptor) secara tidak langsung ingin menggambarkan bahwa dirinya aman-aman saja dan tidak merasa bersalah. Hampir semua masyarkat umum dapat mengidentifikasi senyum campuran (blended smile) yang menunjukan emosi negatif.

Bahasa tubuh selaku perilaku non-verbal lainnya yang berhubngan dengan tanda kecemasan adalah menggerak-gerakan tangan. Menggerakan tangan tersebut dapat berupa menyentuh maupun tidak menyentuh salah satu bagian tubuh seperti melambaikan tangan, memegang hidung dan sebagainya.

Menutupi kecemasan dan kegelisahan dengan bahasa tubuh diatas, bagi beberapa pihak merupakan salah satu cara menutupi kegelisahan dan kecemasan yang dialaminya.

Artinya, perilaku melambaikan tangan yang dilakukan oleh pelaku yang tersandung masalah hukum, dengan seseorang yang divonis bersalah, misalnya pelaku korupsi, memiliki arti dan tujuan serta maksud yang sangat berbeda.

Dari catatan Indonesia Carruption Watch (ICW), 60 persen koruptor yang ditangani KPK pada tahun 2017 divonis ringan 1-4 tahun , 33,33 persen divonis sedang (4-10 tahun), dan hanya 1,96 persen yang dihukum berat (lebih dari 10 tahun). Mungkin rangkaian kemewahan inilah yang membuat para koruptor bisa kembali tersenyum dan melambaikan tangan meskipun telah menggunkan rompi orange dan mulai diborgol.

Belum lagi ketika dipenjara, banyak fasilitas nyaman yang bisa dibeli. Dengan modal uang hasil korupsinya itu, koruptor bisa mengatur sendiri penjara menjadi hotel, yang memilii fasilitas intim, layaknya bukan terpidana.

Karena itulah, pemberantasan korupsi semestinya tak hanya fokus pada hal-hak yang bersifat tidak substansi. Semua pemangku kepentingan harus saling bahu-membahu untuk mewujudkan efek jera terhadap pelaku kejahatan luar biasa ini.

Nah, jika ditarik kesimpulan, bahasa tubuh berupa senyuman maupun menggerakan tangan, dapat memberikan informasi tertentu mengenai kecemasan, kegelisahan,dan ada tidaknya kebohongan seseorang.

Wait, patut diingat bahwa tidak setiap orang dengan tanda-tanda kecemasan maupun kegelisahan, dan ada tidaknya berbohong, karena bisa saja hal tersebut terjadi akibat situasi dan kondisi terentu yang dialaminya. Sedangkan setiap orang yang berbohong atau bersalah, pasti akan mencerminkan perilaku di atas.

Dengan demikian, pengungkapan kejahatan lebih singkat, sehingga penyidik KPK dan aparat penegak hukum lainnya tidak perlu melakukan pemeriksaan terhadap tersangkan berjam-jam lamanya. So, silakan kalian mengartikan bahasa tubuh para koruptor saat diperiksa di KPK ya gaes!

(Krisogonus Dagama Pakur, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Trisakti)