Benarkah Vaksinasi Covid-19 Berbahaya? Ini Penjelasannya

Jumat, 06 Agustus 2021 – 20:42 WIB

Ilustrasi Vaksin (Foto: istimewa)

Ilustrasi Vaksin (Foto: istimewa)

JAKARTA, REQnews - Indonesia dan negara-negara lain masih terus berjuang untuk mengatasi pandemic COVID-19. Berbagai upaya pengendalian terus dilakukan oleh pemerintah, salah satunya vaksinasi COVID-19. Benarkah vaksinasi Covid-19 berbahaya?

 

Seperti halnya produk-produk obat lainnya, maka vaksin melalui uji yang ketat terhadap keamanan, imunogenitas, dan efikasinya di laboratorium pada hewan percobaan dan dalam tiga fase uji klinis pada manusia sebelum diberi lisensi.

Vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia sudah melalui uji pra klinis menggunakan hewan untuk melihat respon imun, menentukan dosis yang aman saat uji klinis, dan mencoba ketahanan hewan post imunisasi terhadap infeksi penyakit, yang kemudian dilanjutkan dengan tigas fase uji klinis.

Pada fase pertama uji klinis, dilakukan beberapa tahapan dengan melakukan preliminary evaluation dari keamanan, imunogenitas, rentang dosis suatu vaksin baru.

Sukarelawan diharuskan sehat dan dilakukan pada sedikit sampel (20-80 orang). Setalah itu, dilakukan open blinded tets.

Fase uji klinis kedua dilaksanakan serupa dengan fase pertama, namun jumlah sampel lebih banyak, sekitar ratusan. Pada fase kedua ini dilakukan penilaian terhadap keamanan, imunogenitas, dosis yang akan digunakan, jadwal pemberian, dan cara penyuntikan. Terkahir, pada uji klinis fase ketiga melibatkan sampel yang lebih besar, sekitar ribuan hingga puluhan ribu sampel.

Uji klinis fase ketiga ini dilakukan untuk menilai keamanan dan efikasi secara luas dan melihat efek samping yang lebih jarang. Setelah tiga tahapan uji klinis dilaksanakan, dilanjutkan dengan keamanan vaksin pasca-lisensi dengan dilakukan pengawasan keamanan pasca lisensi. Pengawasan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) ialah pengawasan yang dirancang khusus untuk menentukan terjadinya kejadian yang tidak diinginkan yang muncul setelah imunisasi.

Pembentukan kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit infeksi secara aktif bisa dilakukan secara alamiah dengan menderita langsung penyakit tersebut atau secara buatan melalui imunisasi.

Cakupan imunisasi yang tinggi dan merata akan membentuk kekebalan kelompok (Herd Immunity) sehingga dapat mencegah penularan maupun keparahan suatu penyakit.

Herd Immunity merupakan situasi dimana sebagian besar masyarakat terlindungi/kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect), yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang rentan dan bukan merupakan sasaran vaksinasi.

Kondisi tersebut hanya dapat tercapai dengan cakupan vaksinasi yang tinggi dan merata.

Walaupun secara umum vaksin yang sudah melalui uji coba sangat aman dan sangat efektif namun seperti halnya dengan produk farmasi lainnya, vaksin pun tidak seratus persen bebas dari efek samping, karena walaupun sangat jarang kejadian KIPI bisa terjadi.

KIPI yang terjadi umumnya sangat ringan seperti demam dan kemerahan di lokasi suntikan. Kita tetap harus waspada terhadap kemungkinan akan adanya efek samping proses pemberian imunisasi dan vaksin. Setiap pemberian pengobatan dengan produk farmasi termasuk pemberian vaksinasi dapat timbul efek yang tidak diharapkan yang bisa ada kaitannya dengan bahan farmasi tersebut ataupun tidak ada kaitannya sama sekali dengan bahan farmasi tersebut yang kita kenal dengan kejadian koinsiden.

Kepercayaan public terhadap keamanan dan efek vital vaksin harus diupayakan terus karena ia merupakan kunci sukses program vaksinasi.

Bahaya dari wabah Covid-19 tidak hanya bisa dilihat semata dari tingkat kematian yang disebabkan oleh virus namun harus mempertimbangkan bagaimana cara virus tersebut menular, Covid-19 dapat menular melalui droplet yang menyebabkan virus ini sangat mudah menular, kecepatan penularan dapat mengakibatkan fasilitas kesehatan tidak mampu merawat pasien yang terjangkit Covid-19 karena ketersediaan tenaga dan alat yang tidak mumpuni dan dapat menyebabkan malapetaka.

Disini peran vaksin sebagai pemutus rantai penyebaran adalah kunci dari negara Indonesia bisa terlepas dari pandemic Covid-19 dan keluar dari keterpurukan ekonomi.

Kepercayaan program vaksinasi pada masyarakat seringkali menurun dikarenakan informasi salah yang didapatkan melalui media sosial dan media yang juga membesar-besarkan kejadian KIPI pada peserta vaksin.

Isu atau rumor tentang kejadian ikutan yang terkait vaksin bila tidak ditangani dengan cepat dan efektif akan dapat mengurangi kepercayaan pada vaksin dan dapat mengakibatkan konsekuensi yang dramatis seperti cakupan imunisasi dan insidensi penyakit. Beberapa situasi yang menyuburkan rumor termasuk konflik sosial yang serius, ketidakpastian ekonomi dan politik, transisi sosial dan pertentangan budaya dan keyakinan, Riwayat diskriminasi dan manipulasi, kurangnya transparansi dari organisasi yang terpisah atau otoritarian.

Agar kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi dapat dipertahankan, perlu dilakukan hal-hal seperti memantau KIPI secara terus menerus, mengkaji secara ilmiah terhadap kemungkinan adanya hubungan langsung reaksi simpang vaksin dengan vaksin, melakukan respon apabila ada risiko baru terhadap vaksin, memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang manfaat vaksin dan risiko apabila tidak diimunisasi oleh tenaga Kesehatan.

 

Indonesia menjadikan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari strategi penanggulangan pandemi COVID-19. Vaksinasi COVID-19 dilakukan untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat seseorang terpapar dengan penyakit tersebut, ia tidak akan sakit atau hanya mengalami gejala ringan.

Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Konsep imunisasi modern dikenalkan pertama kali pada tahun 1796, dimana berhasilnya dilakukan inokulasi bahan yang didapatkan dari nanah cowpox (cacar sapi) kepada pasien untuk mencegah cacar yang disebabkan oleh virus sejenis.

Pada tahun 1900, dikenal ada dua jenis vaksin virus untuk manusia, yaitu vaksin cacar dan vaksin rabies, serta tiga vaksin dari bakteri untuk mencegah typhoid, kolera, dan pes. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan vaksin antara lain Difteri, Tetanus, Pertusis, Tuberculosis (TBC), hepatitis, pneumonia, polio, rubella, campak, dan sekarang COVID-19.

Indonesia punya sejarah panjang dalam upaya penanggulangan penyakit menular dengan vaksinasi atau imunisasi. Sebagai contoh, sejak pertama kali imunisasi cacar dicanangkan pada tahun 1965, akhirnya penyakit cacar bisa dieradiaksi yaitu dimusnahkan atau dihilangkan dari seluruh dunia pada tahun 1974, sehingga pelaksanaan imunisasi distop pada tahun 1980. Pun demikian dengan polio, sejak imunisasi polio dicanangkan  pertama kali tahun 1972, Indonesia akhirnya mencapai bebas polio tahun 2014.

Kedepan pemerintah juga perlu memperhatikan cara berkomunikasi dengan memperhitungkan kemampuan dan perhatian dari target pendengar kita – apa yang mereka perlu pahami agar mereka bisa membuat keputusan setelah mendengar informasi yang diperlukan, pertimbangkan juga rentang umur dari pendengar, pertimbangkan perbedaan tingkat pendidikan, pertimbangkan masalah Bahasa, pertimbangkan perbedaan agama dan menghormati perbedaan gender.

Dapat disimpulkan bahwa pentingnya mengetahui apa fungsi dan dampak dari vaksin melalui sumber yang dapat dipercaya, dan tugas pemerintah menyediakan wadah untuk masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar.

Pemerintah harus mengedukasi dalam tingkatan mikro dan makro secara menyeluruh dan melakukan pengawasan pada masyarakat, juga memastikan keamanan dan ketersediaan fasilitas kesehatan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap vaksin Covid-19.

 

Penulis: Risyad Hasyim, S.Ked. Universitas Trisakti