Derita Warga Desa Wae Sano Akibat Proyek Geothermal

Minggu, 27 Maret 2022 – 12:05 WIB

Danau Sano Nggoang, NTT

Danau Sano Nggoang, NTT

JAKARTA, REQnews - Sano Nggoang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat. Kecamatan yang terdiri dari 15 desa ini memiliki sebuah danau vulkanik terluas dan terdalam di Nusa Tenggara Timur. Danau itu biasa disebut sebagai Danau Sano Nggoang atau Danau Nggoang.

Danau ini memiliki luas sekitar 5.500 hektar dengan kedalaman mencapai 600 meter. Oleh karenanya danau Sano Nggoang dipercaya sebagai danau vulkanik terdalam di dunia.

Pemerintah Daerah Manggarai Barat berharap danau yang menyajikan pemandangan indah dan flora serta fauna langka ini dapat memberikan dampak peningkatan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Masyarakat Manggarai Barat, khususnya masyarakat Wae Sano, salah satu desa di wilayah Kecamatan Sano Nggoang, mengetahui rencana adanya eksplorasi panas bumi pertama kali pada tahun 2016 silam.

Diketahui bahwa akan ada sebuah proyek pemerintah yang hendak membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) di sekitar wilayah Desa Wae Sano. Proyek ini dilaksanakan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), sebuah BUMN di bawah otoritas Kementerian Keuangan.

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) selaku lembaga pelaksana Proyek Pengembangan Hulu Energi Panas Bumi (GEUDP) berencana mengembangkan site pertamanya di sekitar Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Provinsi Timur.

Sejak awal masuknya PT SMI, gerakan penolakan terhadap rencana eksploitasi panas bumi Wae Sano terus digulirkan oleh masyarakat. Poin penting dari gerakan ini adalah bahwa proyek ini merusak ruang hidup masyarakat. Sumur-sumur panas bumi hasil pengeboran PT SMI diduga akan menghancurkan tatanan alam, sosial, ekonomi, dan spiritual yang telah dijalani turun temurun.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, terdapat beberapa situs adat dan artefak sejarah yang berhasil diidentifikasi terletak sangat dekat fasilitas proyek, seperti: Compang (altar yang terbuat dari batu, ditempatkan di tengah Desa Lama) dan kuburan tua di Dusun (Kelurahan) Lempe. Maka tak dapat dipungkiri, kekhawatiran warga bila eksploitasi panas bumi akan menghancurkan warisan leluhur yang patut dijaga.

Terdapat banyaknya situs di daerah itu, ada pula gereja tua Wae Sano yang dibangun dari kayu. Lokasinya tepat di tepi Danau Sano Nggoang. Gereja yang masih kokoh berdiri ini merupakan pusat penyebaran agama Katolik pertama di desa Wae Sano dan sekitarnya.

Masih banyak lagi situs budaya yang berpotensi menjadikan Kecamatan Sano Nggoang pusat wisata sejarah yang dikelilingi alam nan indah. Sangat disayangkan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat secara nyata menunjukan keberpihakan pada PT SMI, sebagaimana banyaknya pemberitaan media lokal.

Pemerintah sepertinya hanya berpedoman pada hasil kajian para ahli yang menunjukkan bahwa dampak positif tanpa mengindahkan kerugian yang akan diderita masyarakat beserta lingkungannya.
Penulis tidak akan terlalu banyak mengomentari sikap Pemda Mabar ini, sebab penulis memahami sikap Pemda Mabar ini merupakan salah satu proses terpenting dari bekerjanya kapitalisme, inilah yang disebut oleh Karl Marx sebagai 'akumulasi primitif atau primitive accumulation'.

Konsep ini terinspirasi dari Adam Smith sebagaimana terungkap pada karyanya, 'The Wealth of Nations', yang menyatakan bahwa dalam ekonomi kapitalisme, akumulasi kekayaan alam harus terjadi dulu sebelum pembagian kerja.

Penulis juga teringat sebuah cerita sejarah penindasan atas golongan-golongan rakyat pedesaan di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin dimana para penguasa kolonial, perusahaan kapitalis, maupun para tuan tanah partikelir menggunakan segala cara guna memperoleh hak eksklusif atas tanah dan tenaga kerja manusia di dalamnya.

Perubahan penguasaan tanah ini berakibat sangat pahit bagi petani, rakyat kebanyakan di pedesaan. Mereka tidak lagi dapat memanfaatkan bahkan memperoleh layanan dari alam itu.

Sudah sangat lazim di negeri ini jika sekelompok masyarakat berusaha mempertahankan atau menguasai dan menikmati kembali tanah leluhurnya, maka mereka pasti akan dikriminalisasi dan dijebloskan ke penjara bagai pesakitan.

Penulis sangat berharap agar pemerintah dapat mengembalikan hak hidup warga Wae Sano dan memberikan keleluasaan kepada mereka untuk mengelola potensi yang disediakan alam tanpa menghancurkan lingkungan dan peninggalan leluhur.

Potensi wisata yang ada di Desa Wae Sano diyakini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Selaras dengan harapan pemerintah saat dulu menetapkan Desa Wae Sano sebagai desa wisata.

*Penulis: Anno L. Panjaitan (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Bung Karno)