Perilaku Koruptif Awal Lahirnya Perbuatan Korupsi

Rabu, 28 Agustus 2019 – 15:00 WIB

Tia Heriskha, Mahasiswa Fakultas Hukum Univeritas Diponogoro

Tia Heriskha, Mahasiswa Fakultas Hukum Univeritas Diponogoro

Sebagai agent of change , mahasiswa diminta bukan saja menjadi yang paling keras menyuarakan perubahan namun mahasiswa juga lah yang harus melakukan perubahan itu sendiri. Jangan sampai seperti peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya”.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual mempunyai tanggung jawab besar dalam menyuarakan aspirasi masyarakat. Sejarah mencatat mahasiswa mempunyai peran besar dalam perubahan bangsa. Kasus tragedi Trisakti misalnya. Bukti nyata bahwa mahasiswa tidak bisa melihat masyarakat diperlakukan otoriter oleh penguasanya. 

Di dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (uu tipikor) hanya mengatur mengenai perbuatan apa saja yang termasuk perbuatan korupsi. Perbuatan korupsi dikelompokkan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi yaitu perbuatan merugikan keuangan Negara, menyalahgunakaan jabatan, suap-menyuap , penggelapan dalam jabatan, pemerasan, konflik kepentingan, korupsi yang berhubungan dengan kecurangan , dan gratifikasi. Ke tujuh perbuatan tersebut lah yang dapat dikenakan sanksi pidana seperti yang tertuang dalam uu tipikor. 

Lalu bagaimana dengan perilaku koruptif? Perilaku koruptif adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap, tindakan, dan pengetahuan seseorang yang menjebakkan dirinya pada kegiatan korupsi. Apa saja yang termasuk kedalam perilaku koruptif? Dalam peraturan perundang-undangan memang tidak ada rumusan mengenai apa itu perilaku koruptif. Namun perilaku sehari-hari yang merugikan orang lain termasuk kedalamnya. Misalnya, mencontek, plagiarisme, berbohong, mencurangi, buang sampah sembarangan, memberi uang pelican dalam hal pelayanan publik seperti KTP dan SIM, pemberian hadiah saat hajatan, dan tidak tepat waktu.

Seringkali perilaku koruptif dianggap sebagai hal yang wajar untuk dilakukan dan telah membudaya dalam masyarakat. Persepsi yang sudah tertanam di dalam masyarakat bahwa korupsi hanya apa yang diatur di dalam uu tipikor. Namun, korupsi bukanlah budaya. Karena budaya adalah nilai budi baik yang sudah tertanam. 

Perlu kita cermati bersama. Perilaku koruptif dapat menjadi tombak awal lahirnya pelaku-pelaku perbuatan korupsi. Jika perilaku-perilaku ini terus dimaklumi dan dibiarkan menjamur dalam kehidupam masyarakat maka korupsi akan terus ada dan pelaku korupsi terus bertambah.

Mahasiswa di sini mempunyai tugas besar dalam memberikan contoh kepada masyarakat. Menyuarakan antikorupsi sembari menerapkan kepada dirinya sendiri nilai-nilai luhur dan budi pekerti agar perilaku koruptif yang dimaklumi tersebut dapat berubah menjadi sesuatu hal kebiasaan yang bukan untuk dipertahankan namun justru yang harus ditinggalkan.
Penulis : Tia Heriskha, Mahasiswa Fakultas Hukum Univeritas Diponogoro