Sex Education, Upaya Preventif Tindak Pidana Pelecehan Seksual pada Anak

Kamis, 31 Oktober 2019 – 21:00 WIB

Ilustrasi pendidikan seks (Foto: Istimewa)

Ilustrasi pendidikan seks (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) pada Juli 2019 mencatat bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan sangat signifikan setiap tahunnya. Data pelaporan yang dihimpun, menunjukkan bahwa di tahun 2016 kasus pelecehan seksual pada anak berjumlah 25 kasus.

Sementara pada tahun 2017 terdapat 81 kasus dan pada tahun 2018 mengalami peningkatan luar biasa yaitu sebanyak 206 kasus. Dari laporan yang masuk, terbukti bahwa sebagian besar pelakunya adalah orang terdekat.  Yakni dengan presentasi 80.23 persen dan sisanya sebanyak 19.77 persen dilakukan oleh orang yang tidak dikenal.

Sebagai upaya agar tidak lagi ada anak yang menjadi korban pelaku kejahatan seksual, penulis menilai pentingnya pemberian pendidikan seks (sex education) sejak dini bagi anak. Meski masih dianggap hal yang tabu untuk dilakukan di Indonesia.

Sex education harus dimaknai sebagai upaya memperkenalkan kesehatan reproduksi kepada anak dan bukan tentang bagaimana melakukan seks atau mengajarkan seks bebas. Hal ini yang sering kali dimaknai salah oleh orang tua sehingga menjadikan keluarga sebagai solidaritas organik menutup rapat berbagai hal terkait dengan pendidikan seks.

Edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi anak memiliki peranan penting untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual. Ketika anak-anak memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, mereka akan paham apa yang harus dilakukan ketika ada orang lain yang menyentuh bagian tubuh yang seharusnya tidak boleh disentuh orang lain.

Anak-anak juga mendapat pemahaman bagaimana mengendalikan diri agar tidak terjerumus pada perilaku seksual yang menyimpang. Pendidikan seks sejatinya adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar.

Mulai dari proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual serta berbagai aspek kesehatan fisik dan kejiwaan masyarakat kita.  Pendapat lain menyatakan bahwa pendidikan seks adalah suatu pengetahuan yang kita ajarkan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan jenis kelamin (perempuan atau laki-laki).

Pun dari pertumbuhan jenis kelamin, fungsi kelamin sebagai alat reproduksi, menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Melakukan upaya pencegahan terjadinya pelecehan seksual tentu bukan perkara yang mudah. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama.

Diperlukan keterlibatan dari banyak elemen. Seperti pemerintah sebagai pembuat kebijakan, lembaga perlindungan anak, penegak hukum, sekolah, masyarakat, dan keluarga.

Hubungan erat tersebut dapat digambarkan antara lain, pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus mampu membuat instrumen/aturan yang dapat dijadikan payung hukum dalam upaya preventif maupun represif bagi pelaku kejahatan seksual.

Misalnya UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang saat ini masih belum disahkan.

Selanjutnya lembaga perlindungan anak seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) diharapkan dapat memberikan perlindungan pada para korban dan melakukan tindak lanjut atas laporan-laporan jika ada kekerasan seksual yang terjadi.

Termasuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan dan pemenuhan hak anak, memberikan masukan dan usulan dalam perumusan kebijakan tentang penyelenggaraan perlindungan anak, menerima dan melakukan telaahan atas pengaduan masyarakat mengenai pelanggaran hak anak.

Penegak hukum diharapkan dapat memberi perlindungan terhadap anak-anak dan kepastian hukum terhadap korban dengan memberikan sanksi yang tegas bagi para pelaku kekerasan seksual sesuai dengan instumen hukum yang ada.

Masyarakat adalah salah satu instrumen terpenting dalam upaya agar tindak pidana pelecehan seksual pada anak tidak terjadi karena anak-anak berada pada lingkungan yang harus diawasi dan dilaporkan jika memang terjadi pelecehan seksual.

Masyarakat diminta untuk mencegah terjadinya tindakan pelecehan dengan cara menegur jika melihat atau mendengar atau menduga adanya tindakan yang mencurigakan dan segera melaporkannya kepada keluarga yang bersangkutan.

Pihak sekolah dan keluarga memiliki keterkaitan sangat erat dalam keberhasilan pendidikan seks terhadap anak. Sekolah dan keluarga dapat berbagi tugas dalam memberikan Pendidikan tersebut. Walaupun pengetahuan terkait seks sudah ada dalam pelajaran biologi.

Namun memang hanya terbatas pada berbagai hal pengetahuan terkait perkembang biakan makhluk hidup dan porsi-nya tidak banyak. Sekolah sebagai wadah akademik juga belum dapat memberikan pehamaman secara holistik mengenai pendidikan seks.

Orang tua tentu memiliki peran yang paling penting dalam memberikan pemahaman kepada anak-anaknya tentang kesehatan reproduksi. Intinya orang tua harus mampu menjadi “teman baik” anaknya sehingga tercipta komunikasi secara terbuka terkait seksualitas. Saat ini pendidikan seks sudah tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang tabu lagi.

Jika pendidikan seks diberikan kepada anak oleh orang tua secara baik, jelas dan terbuka maka langkah ini diyakini dapat menjadi salah satu upaya pencegahan tindak pidana pelecehan seksual.

Penulis: Tia Herishka, Mahasiwa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro