Yan Apul, Pengacara yang Selalu Bawa Damai

Kamis, 21 Maret 2019 – 08:00 WIB

Foto : Dok REQnews

Foto : Dok REQnews

Alkisah, di awal tahun 2000-an, Alm Indra Sahnun Lubis dan Otto Hasibuan (Waktu itu Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia/Peradi) berseteru. Indra yang tidak "betah" lagi berada di Peradi lalu mendirikan Kongres Advokat Indonesia (KAI). Indra terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya pada Otto Hasibuan. Di mana-mana ia mengeritik Peradi termasuk Otto dan kepemimpinannya.

Perpecahan ini tak pelak mengejutkan jagat advokat Indonesia terutama Peradi. Banyak pula pihak di luar advokat yang sedih dan menyayangkannya. Internal Peradi dan KAI lalu meminta agar kedua tokoh tersebut untuk berdamai dan bersatu kembali. KAI juga kembali ke Peradi. Otto mengatakan, siap bertemu dan berdamai. Indra Sahnun pun mau. Lalu pertanyaan kala itu siapa tokoh yang dapat mempersatukan keduanya?

Jawabannya Yan Apul! Ini salah satu advokat senior yang masih disegani di kalangan advokat. Otto plus Peradi dan Indra plus KAI sepakat untuk "berdamai" dan inginkan Yan Apul menjadi mediator damai.

Lalu malam itu pun tiba. Yan, Indra dan Otto berkumpul di sebuah restoran Jepang milik Yan yang terletak di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Yan dan Otto serta lebih dari 30 advokat berkumpul. Hadir pula belasan wartawan.

Suasananya santai. Mereka ngobrol ngalor-ngidul sambil ngebir, makan kacang, ngopi, dan pangananan lainnya. Ada live music-nya. Bergantian para advokat itu menyanyi termasuk Yan. Asap rokok mengepul di mana-mana. Wow pengap!

Pada mulanya, banyak yang mengira upaya damai gagal, lantaran hingga satu jam dari jadwal yang direncanakan, Indra belum juga datang. Akan tetapi Yan meyakinkan, Indra pasti datang. Tunggu saja!

Dan, Indra datang juga. Ia langsung cipika-cipiki dengan Yan sebagai tuan rumah sekaligus mediator damai. Otto lalu menyalami Indra bahkan cipika-cipiki. Spontan, semua hadirin bertepuk tangan. Yan tersenyum.

"Saya minta maaf terlambat karena macet dan sebelumnya ada acara," demikian Indra memberikan alasan dan semua hadiri mahfum.

Yan kemudian meminta Indra duduk di samping kiri dan Otto di samping kanan Yan. Selanjutnya seorang pembawa acara membuka acara lalu meminta pengantar dari Yan.

Sambil tersenyum Yan mengatakan bahwa malam ini dirinya sangat bahagia. Dua orang yang selama ini berseteru, dua Batak pula, bertemu di satu meja, disaksikan oleh rekan advokat, akan bersepakat damai.

Kata Yan, "Saya ingin kita damai, Adinda Otto dan Adinda Indra. Saya ingin bersatu kembali. Jangan pecah. Mengapa? Sebab pecah berarti merusak nama kita sendiri, merusak nama baik organisasi, merusak nama baik advokat. Profesi advokat itu adalah profesi yang mulia dan terhormat, officium nobile, semua kita sudah tahu itu. Jadi saya minta adinda Otto dan adinda Indra untuk mengakhiri perseteruan, kita bersatu lagi lah...!"

Seterusnya Otto diberi kesempatan bicara pertama. Cukup panjang dia bicara dan tidak ada kata yang eksplisit untuk mengatakan, 'kita damai' dan 'saya mohon maaf...!'

Indra yang bicara kemudian dengan wajah nan serius, bicara lebih keras dan cenderung mencari pembenaran. Dia kembali membuka luka lama dan mengeritik Peradi dan Otto.

Yan tampak santai mendengarkannya semua itu. Ia terus menenggak minuman spesial-nya. Sementara Otto hanya manggut-manggut. Kadang memegang dagu. Para advokat lainnya tampak serius.

Yan lalu bicara. Dia meminta Indra dan Otto melupakan semua yang telah berlalu. Ia juga meminta keduanya untuk rendah hati, melawan ego demi kepentingan advokat Indonesia.

Upaya damai malam itu pun tanpa hasil maksimal. Walaupun Otto dan Indra saling berpelukan dan damai tetapi untuk KAI kembali lagi ke Peradi menjadi sulit. Otto termasuk Yan beserta jajaran pimpinan Peradi membuka diri, tetapi Indra dan pimpinan KAI belum sepakat.

Kepada wartawan di akhir pertemuan, Indra mengatakan, bisa saja kembali tetapi ada sejumlah syarat, di antaranya, Otto iklas melepas jabatannya dari Ketua Umum Peradi dan segera buat kongres. Syarat yang tentunya juga sulit diterima Otto dan pimpinan lainnya.

Meski masih ada ganjalan, toh Yan bisa tersenyum lega karena secara pribadi Otto dan Indra sudah bisa duduk bersama dan bisa ngobrol lagi. "Memang tidak ada yang instan. Semua ada prosesnya!" ungkap Yan bijak.


Posbakum

Syahdan, di tahun 1980-an, datanglah rombongan asosiasi advokat dari Jepang. Mereka berkunjung ke PN Jakarta Barat. Serta-merta advokat-advokat dari Jepang ini melihat sejumlah terdakwa berkepala plontos sedang digiring ke ruang sidang. Sang ketua asosiasi advokat-nya bertanya kepada Yan, "mana pembelanya?" Spontan Yan menjawab, "tidak ada!"

Peristiwa itu mengusik hati nurani dan pikiran Yan. Dia lalu bertekad mendirikan Pos Bantuan Hukum (Posbakum). Lembaga ini diinginkannya sebagai tempat pengabdian para advokat untuk masyarakat yang memiliki masalah hukum lalu membutuhkan jasa advokat dengan cuma-cuma (probono).

Sejurus kemudian, Yan berjumpa dengan Ketua PN Jakarta Utara/Timur, Bismar Siregar menyampaikan usulan dan konsep Posbakum. Gayung bersambut, Bismar setuju dan mendukungnya. Bismar juga langsung menyediakan ruang kosong di kantornya sebagai tempat praktek para advokat Posbakum. Pihak Bismar bahkan menyediakan meja-kursi plus sebuah mesin ketik di dalam ruangan tersebut.

Untuk memperkuat Posbakum, Yan menyerahkan 16 anak didiknya dan langsung dilantik Bismar Siregar. Dalam perjalanannya, ternyata Posbakum ini bermanfaat. Banyak sekali masyarakat tak mampu yang datang konsultasi dan meminta bantuan memberikan pembelaan.

Posbakum akhirnya berkembang, tidak hanya di Jakarta tetapi juga dibuka di hampir seluruh Indonesia. Tidak hanya tahun 1980-an, 1990-an, Posbakum pun masih eksis hingga kini.

Kiprah Yan lainnya di organisasi advokat juga fenomenal. Pada mulanya aktif di Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) dan sempat menjadi Sekretaris Peradin lalu terpilih menjadi Ketua Cabang Jakarta di tahun 1979.

Pada saat itu ia memiliki ide cerdas. Ia melontarkan gagasan pendidikan advokat yang diselenggarakan oleh organisasi. Mengapa?  Karena ia sering mendengarkan keluhan para advokat yang haus ilmu dan pengetahuan. Ketua Umum Peradin saat itu, R Soenarto Soerodibroto, merespon positif.

"Kursus Advokat Peradin DKI" pun mulai berjalan dan diikuti oleh berbagai cabang Peradin lainnya di Indonesia. Menyusul kemudian "kursus Asisten Advokat.” Model dan konsep pendidikan singkat ini pun diikuti oleh organisasi advokat lainnya dan berkembang hingga kini. Model semacam ini bahkan diikuti berbagai organisasi advokat termasuk kelompok lainnya di luar organisasi advokat semisal kampus-kampus yang memiliki fakultas hukum.

Pada 1990, bersama Gani Djemat (juga telah meninggal dunia), Yan ikut mendidikan AAI atau Asosiasi Advokat Indonesia (AAI). AAI masih bertahan hingga kini dengan jumlah anggota mencapai 4000 orang. Asosiasi ini juga memiliki image dan reputasi yang baik di tengah para pemangku kepentingannya.

Beberapa kali Yan menjadi pengurus senior di Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) dan duduk sebagai penasihat atau semacamnya. Pada mulanya, ia memang ingin ada wadah tunggal (single bar) untuk organisasi advokat di Indonesia. Namun sebelum meninggal dunia pada 27 Februari 2015, Yan tak dapat memungkiri bahwa situasi dan kondisi untuk menjadi single bar, merupakan sesuatu yang sangat sulit.

Beberapa kali Yan dalam perbincangannya dengan REQnews atau dalam berbagai tulisannya yang diterbitkan di majalah REQuisitoire, Yan hanya menginginkan agar konsep organisasi advokat yang multi-bar, yang berarti organisasi advokat memiliki lebih dari satu, harus  berkualitas. Kode etik dan profesionalisme para advokat harus menjadi nomor satu. Ia ingin semua organisasi advokat yang ada, berada di bawah lembaga khsusu bernama dewan advokat. Lembaga ini harus kuat, kompak, dikelola dengan baik atas dasar AD/ART yang ada.

Yan juga ingin agar semua asosiasi bersaing secara sehat, tidak pragmatis, masing-masing memperjuangkan reputasi dan bukan citra. Mantan jaksa ini juga ingin agar semua organisasi advokat memiliki program pendidikan yang baik dan berkualitas. “Saya juga ingin agar semua organisasi advokat memiliki bagian khusus bantuan hukum tersendiri dan harus jalan, jangam hanya jadi simbol!” tukas Yan kala itu.

Yan lahir di Seribudolok, Sumatera Utara, 24 November 1938. Terlahir dengan nama Djanapul Hasiholan Girsang. Namun salah seorang guru SD-nya kala itu menulis menjadi Jan Apul Hasiholan Girsang. Ketika Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) diberlakukan, namanya menjadi Yan Apul Hasiholan Girsang.

Setelah menyelesaikan studi hukum di Universitas Indonesia pada 1963, Yan kembali ke Medan, merintis karir sebagai jaksa. Namun tak lama berselang, Yan memilih menjadi pengusaha ekspor produk pertanian seperti jagung, kedelai, kelapa sawit, ubi kayu, makanan ternak dan impor onderdil kendaraan bermotor. Namun profesi ini tidak berlangsung lama hingga akhirnya Yan jatuh cinta dan mencintai dunia kepengacaraan lalu mendirikan kantor hukum yang hingga kini masih tetap eksis dijalankan oleh putrinya dan sejumlah profesional, “Yan Apul & Rekan!”

Yan dikenal sebagai sosok rendah hati, bijaksana, memiliki sifat kebapaan, suka tertawa, mudah akrab dengan siapa saja dan memiliki hobi menyanyi. Karena itulah banyak pengacara yang datang kepadanya sekedar untuk meminta nasihat hingga meminta bantuan untuk menyelesaikan berbagai konflik antarpengacara atau antara lembaga pengacara. Yan juga menjadi guru yang tidak pelit bagi para pengacara junior sebagaimana diakui oleh pengacara seperti Julianto Pakpahan dan Retiza Suryosumpeno.(*)