Sepak Terjang Jaksa Priyatna Abdurrasyid, Berantas Korupsi Kakap di Era Soekarno

Senin, 06 Januari 2020 – 15:00 WIB

Almarhum Priyatna Abdurrasyid (istimewa)

Almarhum Priyatna Abdurrasyid (istimewa)

JAKARTA, REQnews – Mungkin banyak orang yang asing dengan sosok Priyatna Abdurrasyid. Namun, tak bisa dipungkiri kalau sosok kelahiran Bandung 5 Desember 1929 itu termasuk dalam bilangan Jaksa yang bersih dan anti korupsi.

Mengutip historia.id, pengalaman hidup sebagai jaksa, membuatnya paham betul seluk-beluk permainan culas yang melibatkan banyak pihak untuk menguras uang negara ke kantong pribadi. Ia pun kembali menyibak lembaran lalu, kala masih aktif bertugas sebagai jaksa.

 

Ujung Tombak Pemberantasan Korupsi di Zaman Orba

Di era Soekarno memerintah, Priyatna menjadi salah satu ujung tombak dalam pemberantasan korupsi. Kala itu Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie melancarkan Operasi Budhi (kemudian dijadikan program nasional pemberantasan korupsi oleh KSAD AH Nasution) pada akhir 1950-an, Priyatna ada di dalamnya, tergabung dengan orang-orang yang sangat berani menentang korupsi.

“Kawilarang, Adjie, Mas Ton (HR Dharsono, red.), Poniman, Kemal, berani-berani semuanya,” ujarnya.

Keterlibatan Priyatna dalam pemberantasan korupsi terjadi tak lama setelah kepidahan tugasnya dari Kejaksaan Negeri Palembang ke Kejaksaan Tinggi di Bandung. Kedekatannya dengan Adjie yang dikenalnya sejak zaman perang kemerdekaan di Bogor membuat dia dipercaya Adjie ikut menjalankan Operasi Budhi.

“Suatu hal yang sangat mengesankan di Bandung, ialah di sana saya dipercayai oleh Panglima untuk ikut aktif dalam pemberantasan korupsi,” kenangnya dalam otobiografinya yang ditulis Ramadhan KH, Dari Cilampeni ke New York Mengikuti Hati Nurani. H. Priyatna Abdurrasyid.

 Tangkap Pengusaha Tekstil, Sahabat Soeharto

Kala itu, modus kejahatan korupsi sudah beragam bentuknya. Seingat Priyatna, mulai dari surat kaleng, penggelapan pajak oleh pengusaha, hingga korupsi aparat sipil maupun militer. Priyatna tak pernah lupa, di Bandung dia berhasil menangkap dan menyeret seorang pengusaha tekstil nakal bernama Jacob Van ke pengadilan. Setelah pengadilan menghukum Jacob dan menyita barang bukti, Priyatna menyumbangkan barang bukti itu ke Kostrad atas izin Jaksa Agung.

Belakangan, Priyatna baru tahu kalau Jacob sahabat Pangkostrad Soeharto. Jauh setelah itu, Priyatna bertemu Jacob di Singapura. Jacob bilang dia sudah dikucilkan keluarga Soeharto karena ketahuan Ibu Tien menyembunyikan dua juta dolar keuntungan CV Waringin (perusahaan milik Jacob).

Dalam setahun, Siliwangi berhasil memejahijaukan beberapa perwira, memecat hingga memenjarakan banyak pejabat korup. Priyatna tak lupa suasana Hotel Telaga Sari, Bandung, tempat pemeriksaan dan penahanan pejabat korup, yang saat itu dipenuhi pejabat hingga menteri yang ditahan.

 Ditarik Nasution Bergabung ke PARAN

Keberhasilan Operasi Budhi menarik perhatian Jenderal Nasution, yang saat itu juga memimpin lembaga anti-korupsi bernama Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran). Setelah berjalan kira-kira 18 bulan, Nasution, kala itu menjabat sebagai Menko Hankam/Kasab, menjadikan Operasi Budhi sebagai program di tingkat nasional.

Priyatna ikut bergabung di Paran, mewakili Kejaksaan RI. Sasaran yang menjadi target utama Operasi Budhi/Paran adalah perusahaan-perusahaan negara. Untuk itu, Nasution membentuk tim kecil yang terdiri dari orang beragam latar belakang guna menyusun pertanyaan pemeriksaan para pejabat perusahaan negara. Dalam waktu singkat, Operasi Budhi berhasil menyelamatkan uang negara sekira Rp11 miliar – sementara menurut Rosihan Anwar, jumlahnya Rp 14 miliar.

 Miris dengan Penanganan Korupsi di Masa Kini

Untuk penyelesaian kasus korupsi di masa ini, Priyatna pun mengungkapkan kekesalannya. Ia mengatakan, saat ini banyak orang yang memilih diam, ketika menyaksikan kejahatan yang terjadi di sekitarnya, terutama pada korupsi.

“Orang sekarang kebanyakan takut. Mau ini takut, mau itu takut,” ujarnya.

Akibatnya, kata Priyatna, banyak orang cenderung diam terhadap kesalahan atau kejahatan yang dilihatnya. Langsung atau tidak, hal itu ikut membesarkan keadaan buruk hingga seperti sekarang.

Korupsi dan perilaku korup bisa sampai membudaya seperti kini akibat banyaknya orang yang diam. Para pejabat yang seharusnya menjadi penindak, justru kongkalikong supaya kecipratan hasil curian yang mereka bilang rezeki.

Lelaki pemberani itu pun telah berpulang, 22 Mei 2015 pada usia 85 tahun. Jenasahnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. (Binsasi)