Cerita Jusuf Manggabarani, Ketika Senjata ‘Diguna-guna’ dalam Pertempuran dengan Fretilin

Senin, 06 Januari 2020 – 17:30 WIB

Jusuf Manggabarani (istimewa)

Jusuf Manggabarani (istimewa)

JAKARTA, REQnews – Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente alias Fretilin merupakan sebuah gerakan pertahanan yang berjuang untuk kemerdekaan Timor Timur atau Tim-tim (kini Timor Leste). Mulanya mereka berjuang membebaskan Tim-tim dari Portugal dan kemudian dari Indonesia, antara tahun 1974 dan tahun 1998.

Konon pasukan ini sakti mandraguna, kebal peluru dan memiliki kekuatan magic yang bisa membuat senjata lawan tak bisa memuntahkan peluru.

Mengutip Historia.id, kejadian ini dialami sendiri oleh Jusuf Manggabarani, saat bertugas sebagai Komandan Brimob di Marcado, Kota Dili.

Kala itu, 10 Juni 1980 pukul satu dini hari. Pasukan Fretilin, yang menginginkan Timor Timur merdeka penuh, menduduki studio TVRI di Kota Dili. Mereka menembaki pos polisi.

Suara tembakan itu membangunkan Jusuf. Dia langsung mengambil senjata dan memberikan pistol kepada istrinya, Sumiati, yang juga seorang polisi wanita dan baru melahirkan.

Jusuf lalu mengumpulkan 16 anggota untuk merebut studio TVRI dan mengamankan anggotanya di pos penjagaan. Dia menaksir pasukan Fretilin berjumlah 32 orang.

Jarak antara asrama Brimob dengan studio TVRI tidak jauh, namun jalannya berkelok-kelok karena perbukitan. Jusuf dan anak buahnya berangkat dengan mobil Datsun tua. Fretilin menembaki mobil itu.

“Maju terus pantang mundur. Awasi segala arah dengan sigap. Awas, jangan ada yang menembak. Selama bersama saya yakinlah tak akan kena peluru. Maju saja. Lurus. Terus,” kata Jusuf dalam biografinya, Cahaya Bhayangkara.

 

Gara-gara Magasin

Setelah mobil berhenti. Jusuf memerintahkan anggotanya naik ke atas untuk memberikan bantuan kepada pos polisi yang diserang. Jusuf terus memantaunya.

Tiba-tiba. Seorang anak buahnya berteriak, “Sial komandan…”

“Sial kenapa?”

“Senjata kita diguna-guna!”

“Diguna-guna?”

“Tidak bisa meletus!”

Jusuf merayap dan mendekati anak buahnya itu. Dia mengambil senjatanya. “Sial apa? Mana magasinnya? Belum dipasang ini!” bentak Jusuf.

“Siap salah komandan, belum dipasang,” kata anak buahnya yang segera mengambil magasin dari ransel dan memasangnya.

“Apanya yang diguna-guna? Magasin belum dipasang,” kata Jusuf kepada anggotanya. Sambil tersenyum, mereka pun segera memeriksa senjatanya jangan sampai magasinnya belum dipasang.

 

TVRI Kembali Dikuasai, Dua Orang Prajurit Gugur

Pertempuran berlangsung sampai ayam berkokok. Seiring matahari terbit, Fretilin mundur. TVRI bisa dikuasai. Namun, beberapa anggotanya di pos penjagaan terluka, dua di antaranya, Kelau Nahak dan Marzuki, terluka parah.

Jusuf memangku Kelau Nahak. “Bapak Bot (Bapak Besar). Maafkan saya komandante. Saya tidak bisa melindungi Komandante Polis Komando,” kata polisi asal Timor Timur itu.

“Sudah begini kamu masih mikirin Komandan. Bertahanlah Kaonahak, kami berikan bantuan,” kata Jusuf. Namun, Kelau Nahak dan Marzuki tidak tertolong. Jusuf sedih karena istri Kelau Nahak belum lama melahirkan. Dia baru saja menjadi seorang bapak.

Keberhasilan merebut TVRI dari Fretilin membuat Jusuf ditawari kenaikan pangkat kehormatan. Namun, dia menolak dan sempat diprotes anak buahnya. Namun, Jusuf meminta dia dan anak buahnya diberikan kesempatan sekolah.

Jusuf bertugas di Brimob selama sepuluh tahun dari Dansat Brimob Polda Sulsera sampai Danmen II Korps Brimob Polri. Kariernya terus naik dengan menjabat Kapoltabes di Ujung Pandang kemudian Kapolwiltabes Bandung. Polisi spesialis daerah konflik ini kemudian menjabat Wakapolda Sulsel, Dankor Brimob Mabes Polri-Kapolda Aceh, dan terakhir menjabat Wakapolri. (Binsasi)