Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Samuel Snipes, Pengacara Pertama bagi Keluarga Kulit Hitam

Senin, 14 Januari 2019 – 16:18 WIB

Samuel Snipes bersama kudanya yang bernama Snipes. (BucksLocalNews.com/The Advance of Bucks County via AP)

Samuel Snipes bersama kudanya yang bernama Snipes. (BucksLocalNews.com/The Advance of Bucks County via AP)

Saat bicara tentang isu rasialisme atas dasar perbedaan warna kulit, kita akan mengingat nama Nelson Mandela di Afrika Selatan yang melawan apartheid. Di Amerika Serikat, ada sosok Martin Luther King Jr. yang memperjuangkan persamaan hak sipil bagi warga negara Amerika Serikat yang berkulit hitam. Namun bagaimana dengan nama Samuel Snipes? 

Samuel Snipes adalah seorang pengacara berkulit putih di Amerika Serikat yang memperjuangkan hak atas tempat tinggal bagi sebuah keluarga kulit hitam pada 1957. Sebuah keberanian pada zaman itu untuk memperjuangkan hak dasar atas tempat tinggal yang layak di sebuah negara yang dikenal menjunjung tinggi hak asasi manusia.

“Tiga puluh keping perak”

13 Agustus 1957, sepasang suami isteri, Daisy dan Bill Myers, beserta tiga anaknya pindah ke Levittown, sebuah kawasan hunian yang terletak di Bucks County, Pa., berjarak 20 mil dari Philadelphia. Keluarga kulit hitam ini dapat menempati sebuah rumah di kawasan tersebut karena bantuan Samuel Snipes, mulai dari penawaran penjualan hingga tuntasnya transaksi dan ditempatinya rumah tersebut oleh keluarga Myers. Mereka adalah satu-satunya keluarga kulit hitam yang masuk ke kawasan hunian ini.


(Keluarga Myers/ Associated Press)

Alhasil, selama berminggu-minggu sesudahnya, keluarga kulit hitam ini mengalami gangguan berupa surat, teriakan kasar hingga ludahan dari para pemrotes yang menyuarakan penolakan di depan rumah keluarga Myers. 

Namun Snipes sudah menduga hal semacam ini. Maka sebelum keluarga Myers pindah ke dalam kawasan Levittown, Snipes telah menginformasikan kepada polisi mengenai perpindahan ini, demikianlah penuturan David Kushner, penulis buku “Levittown: Two Families, One Tycoon, dan the Fight for Civil Rights in America’s Legendary Suburb.”

Kushner mengatakan, “Dia (Snipes) memainkan peran sangat penting dalam membantu keluarga Afrika Amerika pertama pindah ke Levittown dan meninggalkan warisan yang sungguh indah dalam hal ini, menempatkannya dalam sistem dan melakukan apa yang benar.” 

Dalam sebuah interview dengan The Associated Press pada 1999, Snipes mengingat dirinya dipanggil di luar rumah oleh sekelompok orang yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Mereka menyebutnya pengkhianat orang kulit putih. Snipes mengatakan massa itu berteriak, “Tiga puluh keping perak,” sebuah ungkapan yang merujuk kepada jumlah uang yang seharusnya diterima Yudas Iskariot untuk mengkhianati Yesus. 


(Para pemrotes keberadaan Keluarga Myers di Levittown, Pa., pada 19 Agustus 1957 (Foto: The Washington Post/ AP)

Gubernur Pennsylvania memerintahkan di kepolisian negara bagian. Keluarga Myerses menetap di rumah mereka hingga 1961.

Levittown dan keputusan bisnis

Ketika Levittown sedang dalam pembangunan dari 1952-1957, William J. Levitt sang pembangun menyebut kawasan itu sebagai “satu-satunya komunitas yang terancang secara sempurna di Amerika (Serikat).” Sebanyak 17.311 rumah tersebar di tanah seluas 8 mil persegi, termasuk taman-taman dan area-area publik yang dipakai bersama. 

Tapi sebagaimana yang terjadi di proyek Levittown di Nassau County, New York dan New Jersey, Levitt menolak untuk menjualnya ke orang kulit hitam. Ia mempertahankan praktik itu sebagai keputusan bisnis.

Sensus terkini memperkirakan menempatkan populasi kulit hitam di Levittown Pennsylvania berjumlah kurang dari 4 persen.


(Samuel Snipes/ Foto: Joan Hellyer/ Teh Patriot-News/ The New York Times/ AP)

Snipes merupakan aktivis perdamaian Quaker, sebuah lembaga sosial masyarakat dari Inggris. Ia adalah salah satu penentang perang selama Perang Dunia II. Dari penuturan kedua anaknya, Jonathan Snipes dan Sussan Snipes-Wells, setelah perang usai, ia bekerja bagi PBB di Jerman, membantu merelokasi pengungsi dan mengawal mereka dalam perjalanan dipindahkan kembali dari ghettos dan kamp konsentrasi ke rumah mereka di Polandia dan Hungaria melalui jalur Rusia.

Samuel Moon Snipes lahir pada 15 Agustus 1919 di Morrisville, dari pasangan Edgar dan Jane (Moon) Snipes. Ia lulus dari Sekolah Hukum Temple (Temple Law School) di Philadelphia pada 1953, lalu berpraktek sebagai pengacara di Yardley, Pa., selama 50 tahun, dengan spesialisasi di perencanaan perumahan dan hukum perdata. 

Selain keberaniannya membela keluarga Myers, setidaknya ada 2 peristiwa penting yang menjadikan ia patut diperhitungkan sebagai pembela hak asasi manusia di Amerika Serikat. 

Pada 1967, ia merepresentasikan kliennya melawan kebijakan mendistribusikan Alkitab oleh the Centennial School Distric kepada murid-murid sekolah. Mahkamah Agung Pennsylvania memutuskan melawan kebijakan distrik tersebut. 

Sebagai solisitor Falls Township pada 1972, Snipes menggagalkan upaya pembangunan pembangkit listrik tenaga nukir di sebuah pulau di Sungai Delaware, seberang Pennsbury Manor.

“Inilah kemenangan terhebat saya di ruang pengadilan,” ujarnya kepada the Bucks Country Courier Times.

Tepat 31 Desember 2018, Snipes menghembuskan nafas terakhirnya di perkebunan keluarganya di Morrisville, Pa., di usia 99 tahun. Sepanjang hidupnya, ia menikahi dua orang wanita. Pertama, Barbara Taylor Snipes yang meninggal pada 2001 di usia 51 tahun. Pada 1989, salah seorang puteranya meninggal dunia. Kemudian Snipes menikah lagi dengan Marion Smith Snipes. Samuel Snipes meninggalkan isteri keduanya beserta lima anak dair pernikahan pertama, sembilan cucu dan tujuh buyut. (Praz)


Sumber: The Washington Post