Mengenang Yan Loe, Prajurit Asal Atambua yang Gugur dalam Kecelakaan Helikopter MI-17  

Rabu, 19 Februari 2020 – 03:00 WIB

Almarhum Praka Yanuarius Loe semasa hidup (istimewa)

Almarhum Praka Yanuarius Loe semasa hidup (istimewa)

 

ATAMBUA, REQnews – Salah satu korban dari kecelakaan helikopter MI-17 yang jatuh di Papua pada 28 Juni 2019 silam adalah Praka Yanuarius Loe.

Sosok yang karib disapa Yan ini berasal dari Rinbesit, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Almarhum adalah anggota TNI dari satuan Batalyon Infantri (Yonif) 725/Woroagi, NRP: 31140295430193 yang berkedudukan di Boro-boro, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Adapun Yonif 725/Woroagi berada di bawah komando Korem 143/Halu Oleo, Kodam XIV/Hasanuddin.

 

Sudah 6 Tahun Jadi Tentara

Menurut penuturan sang ayah, Fransiskus Loe, almarhum sudah 6 tahun menjadi anggota TNI. Yan adalah anak kedua dari 11 bersaudara.

"Dia jadi TNI sudah 6 tahun. Setelah selesai pendidikan, dia ditugaskan di Batalyon 725 sampai saat ini", katanya kepada Pos Kupang di rumah duka didampingi sang istri, Elisabeth Dahu, Senin 17 Februari 2020.

 

Terakhir Pulang ke Atambua pada Tahun 2017

Sejak bertugas di Woroagi Kendari, Yan sempat cuti dan pulang ke kampung halamannya pada tahun 2015.

Sekitar bulan September di tahun yang sama, Yan lantas ditugaskan sebagai anggota Satgas Pamtas RI-Republik Demokratik Timor Leste Sekto Timur. Tugas itu diembannya hingga Juni 2016.

Di tahun 2017, almarhum sempat mendapatkan cuti lagi dan kembali ke kampung halamannya.

“Tahun 2018 dan 2019 tidak pulang", ujar Fransiskus.

Namun, apa mau dikata, kerinduan kedua orang tua untuk melihat sang putra pulang libur, pupus seketika setelah mendapat kabar bahwa Yan adalah salah satu personel TNI dalam helikopter yang dikabarkan hilang kontak di Papua.

 

(Fransiskus Loe dan Elisabeth Dahu, orang tua almarhum Praka Yan Loe)

 

Mendapat kabar tersebut, orang tua dan seluruh kekuarga terus mendoakan agar putra kelahiran 29 Januari 1993 itu dapat ditemukan kembali. Tak hanya berdoa, keluarga terus membangun komunikasi dengan pemerintah Kabupaten Belu agar bisa berkoordinasi lintas pemerintah guna mengetahui informasi keberadaan anaknya.

Beberapa hari setelah mendapat kabar tersebut, Fansiskus dan Elisbeth memutuskan berangkat menuju Markas Batalyon Infantri 725/ Woroagi, kendari.

Tujuannya untuk memastikan kabar dan kondisi anak mereka. Namun, selama tiga minggu di sana hingga pulang ke Atambua, belum juga ada titik terang.

 

Akhirnya Dikabarkan telah Tiada

Akhirnya sekitar 12 Februari 2020 lalu, mereka mendapat kabar dari Komandan Yonif 725/Woroagi bahwa sang putra tercinta telah meninggal dunia. Pihak Yonif pun berjanji akan mengantar jenazah Yan sampai kampung halaman.

"Saya sudah komunikasi dengan Komandan Yonif menyangkut keberangkatan jenazah almarhum. Terus tentang dia punya hak-hak juga saya sudah komunikasi dengan beliu. Mereka berjanji akan menyusul di kemudian hari", kata Fransiskus.

Meski perasaan hancur, namun kedua orang tua Yan dan segenap anggota keluarga cuma bisa pasrah dan ikhlas atas kematiannya.

Jenasah sang prajurit dijadwalkan akan tiba hari ini dan sebagai bentuk penghormatan segenap warga setempat mengibarkan bendera setengah tiang di depan rumah masing-masing. Rencananya jasad yan akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja, Atambua.