IFBC Banner

Catatan Busthanul Arifin, Sang Arsitek Hukum Islam Indonesia

Senin, 16 Maret 2020 – 14:03 WIB

Prof. Dr. H. Busthanul Arifin, SH (Foto:Istimewa)

Prof. Dr. H. Busthanul Arifin, SH (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQNews - Prof. Dr. H. Busthanul Arifin, SH. salah satu tokoh muslim nasional dari Payakumbuh yang semasa hidupnya begitu gigih memperjuangkan syari’at agar masuk dalam sistem hukum nasional.

IFBC Banner


Busthanul Arifin meraih gelar sarjana hukum dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Setamat kuliah di Fakultas Hukum UGM pada akhir tahun 1955, Pria yang biasa disapa dengan 'Pak Bus' ini merupakan kelahiran Payakumbuh, 2 Juni 1929 memulai kariernya sebagai hakim di Semarang, Jawa Tengah.

Ia juga mengajar di salah satu SMA sambil bekerja. Pada tahun 1966, ia dipercaya menjabat Ketua Pengadilan Tinggi Kalimantan Selatan dan Tengah di Banjarmasin selama dua tahun.

Busthanul kemudian diangkat menjadi Hakim Agung pada 3 Februari 1968. Pada tahun 1982 ia diangkat menjadi Ketua Muda Mahkamah Agung Urusan Lingkungan Peradilan Agama yang diembannya hingga pensiun pada 30 Juli 1994.

Setelah pensiun dari Mahkamah Agung pada tahun 1994, Busthanul Arifin berkiprah sebagai Penasihat Menteri Agama di Bidang Hukum. Beliau pakar dan praktisi hukum Islam yang menjadi inisiator dan mengarsiteki lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang dipakai sebagai hukum materil di peradilan agama sampai sekarang.

Dalam menyiapkan RUU PA, Pak Bus adalah ketua tim. Ia juga mengetuai Tim Asistensi Menteri Agama ketika RUU PA dibahas di DPR. Dalam penyusunan KHI, Pak Bus adalah sebagai penggagas dan juga ketua tim.

Busthanul juga pendiri dan sekaligus menjabat rektor pertama Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jawa Tengah. Kapasitas Busthanul sebagai pakar Hukum Islam juga mengantarkannya dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Ahli Hukum Islam Asia Tenggara