Mohammad Yamin, Pahlawan Pencetus Bahasa Persatuan

Jumat, 20 Maret 2020 – 15:34 WIB

Muhammad Yamin (Foto:Istimewa)

Muhammad Yamin (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQNews - Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H. merupakan tokoh yang memiliki berpengaruh besar dalam sejarah persatuan Indonesia. Dia merupakan sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang juga pahlawan nasional Indonesia.

Pria kelahiran Sumatra Barat, 24 Agustus 1903 ini merupakan salah satu perintis puisi modern Indonesia dan pelopor Sumpah Pemuda.

Terlahir dari 16 bersaudara dari pasangan Usman Baginda Khatib dan Siti Saadah yang berasal dari Sawahlunto dan Padang Panjang, Muhammad Yamin beserta saudra-saudara sukses menjadi intelektual yang berpengaruh.

Yamin menempuh pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, dan melanjutkannya ke Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta.Namun setelah tamat, niat untuk melanjutkan pendidikan ke Leiden, Belanda harus diurungnya dikarenakan ayahnya meninggal dunia.

Ia kemudian menjalani kuliah di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, yang sekarang menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia), dan berhasil memperoleh gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada tahun 1932.

Dalam bidang sastra Mohammad Yamin memulai karier sebagai seorang penulis pada dekade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan. Karya-karya pertamanya ditulis menggunakan bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatra, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada tahun 1920.

Kumpulan puisi pertamanya berjudul, Tanah Air; yang dimaksud tanah airnya yaitu Minangkabau di Sumatra. Lalu kumpulan puisi yang ke kedua yakni Tumpah Darahku, muncul pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dari segi sejarah, karena pada waktu itulah Yamin dan beberapa orang pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal.

Yamin semasa kuliah bergabung dalam organisasi Jong Sumatranen Bond dan menyusun ikrah Sumpah Pemuda yang dibacakan pada Kongres Pemuda II. Dalam ikrar tersebut, ia menetapkan Bahasa Indonesia, yang berasal dari Bahasa Melayu, sebagai bahasa nasional Indonesia.

Melalui organisasi Indonesia Muda, Yamin mendesak supaya Bahasa Indonesia dijadikan sebagai alat persatuan. Kemudian setelah kemerdekaan, Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi serta bahasa utama dalam kesusasteraan Indonesia.

Setelah menamatkan kuliahnya, ia bekerja dalam bidang hukum di Jakarta hingga tahun 1942. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Yamin bertugas pada Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Lalu dia terpilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Setelah Indonesia merdeka, Yamin pernah menjadi anggota DPR sejak tahun 1950, Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953–1955), Ketua Dewan Perancangan Nasional, Menteri Sosial dan Kebudayaan (1959–1960), Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961–1962) dan Menteri Penerangan (1962–1963).

Pada saat menjabat sebagai Menteri Kehakiman, Yamin membebaskan tahanan politik yang dipenjara tanpa proses pengadilan. Tanpa grasi dan remisi, ia mengeluarkan 950 orang tahanan yang dicap komunis atau sosialis.

Keteika dia menjabat Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan, Yamin banyak mendorong pendirian univesitas-universitas negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Di antara perguruan tinggi yang ia dirikan adalah Universitas Andalas di Padang, Sumatra Barat.

Dia meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962. Ia dimakamkan di Desa Talawi, makamnya sangat luas, dan dilindungi oleh atap bernuansa Minang. Di depan makam terdapat patung dirinya.