Muhammad Toha Sang Pemberani di Peristiwa Bandung Lautan Api

Jumat, 27 Maret 2020 – 12:32 WIB

Muhammad Toha (Foto:Istimewa)

Muhammad Toha (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQNews - Nama Muhammad Toha terkenal lantaran aksinya dalam melakukan perlawanan terhadap sekutu. Namnya selalu dikaitkan dengan peristiwa "Bandung Lautan Api" peristiwa yang mengisahkan tentang perjuangan masyarakat Jawa Barat untuk mempertahankan tanah mereka.

Pada masa itu, terdapat beberapa wilayah yang mengalami dampak Bandung Lautan Api, lantaran pertempuran yang lumayan besar, khususnya pada bagian selatan Bandung.

Di wilayah ini juga terdapat gudang amunisi milik sekutu. Muhammad Toha beraksi terhadap penghancuran gudang amunisi tersebut. Toha menggunakan dinamit untuk melakukan serangan.

Toha lahir pada tahun 1927 dan meninggal pada saat peristiwa pembakaran gudang tersebut pada tanggal 24 Maret 1946.

Pada saat itu, bukan hanya Muhammad Toha yang menjadi korban, akan tetapi rekanya juga bernama Ramdan. Keduanya merupakan tokoh pergerakan Nasional di Indonesia dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Toha digambarkan sebagai pemuda pemberani dengan tinggi 1,65 meter, bermuka lonjong dengan pancaran mata yang tajam.

Muhammad Toha adalah seorang komandan Barisan Rakjat Indonesia, sebuah kelompok milisi pejuang yang aktif dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia.

Toha dilahirkan di Jalan Banceuy, Desa Suniaraja, Kota Bandung. Ayahnya bernama Suganda dan ibunya yang berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, bernama Nariah.

Toha menjadi anak yatim ketika pada tahun 1929 ayahnya meninggal dunia. Ibu Nariah kemudian menikah kembali dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun tidak lama kemudian, keduanya bercerai dan Muhammad Toha diambil oleh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Bapak Jahiri dan Ibu Oneng.

Toha mulai masuk Volk School (Sekolah Rakyat) pada usia 7 tahun hingga kelas 4. Sekolahnya terhenti ketika Perang Dunia II pecah.Saat masa pendudukan Jepang, Toha mulai mengenal dunia militer dengan memasuki Seinendan.

Sehari-hari Toha juga membantu kakeknya di Biro Sunda, kemudian bekerja di bengkel motor di Cikudapateuh. Selanjutnya, Toha belajar menjadi montir mobil dan bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga ia juga mampu bercakap dalam bahasa Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, Toha terpanggil untuk bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakjat Indonesia (BRI), yang dipimpin oleh Ben Alamsyah, paman Toha sendiri.
BRI selanjutnya digabungkan dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam laskar ini ia duduk sebagai Komandan Seksi I Bagian Penggempur.

Dari para tokoh yang mengenalnya, Toha dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdas, patuh kepada orang tua, memiliki disiplin yang kuat serta disukai oleh teman-temannya.