Kisah Penangkapan Pangeran Diponegoro hingga Diasingkan

Minggu, 29 Maret 2020 – 08:31 WIB

Tanpa Perlawanan, Penangkapan Pangeran Diponegoro hingga Diasingkan Menyayat Hati (Foto: Istimewa)

Tanpa Perlawanan, Penangkapan Pangeran Diponegoro hingga Diasingkan Menyayat Hati (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Bendara Pangeran Harya Dipanegara atau lebih dikenal dengan nama Diponegoro adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Ia terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia Belanda.

Pada 1825, ia menjadi Satria Piningit dan memulai sebuah perang melawan sultan yang memerintah dan pemerintah kolonial Belanda. Dalam perjuangan lima tahun berikutnya, yang menyebar ke sebagian besar Jawa Tengah, lebih dari 200,000 pasukan Jawa dan 15,000 pasukan Belanda tewas.

Hingga pada puncaknya, yakni 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro dijebak oleh Sekutu. Ia ditangkap, kemudian diasingkan hingga akhir hayatnya.

Saat itu setelah bulan puasa berakhir, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Hendrik Merkus Baron De Kock, mengundang Pangeran Diponegoro untuk datang acara ramah-tamah.

Tidak ada pikiran negatif maupun kecurigaan yang terbesit, Pangeran Diponegoro menerima undangan ramah-tamah tersebut dengan tangan terbuka. Pangeran dan pengikutnya melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke tempat jamuan De Kock di Magelang.

Perjalanan yang ditempuh cukup lama yaitu 8 jam dengan berjalan kaki. Dari gambar yang diposing Historia.id , terlihat pangeran sedang menuju Magelang dengan berkuda. Kemudian diiringi pengikutnya yang berjalan kaki di belakang.

Kedatangan Pangeran dengan beberapa pengikutnya, ketiga putranya, penasehat agama, dua punakawan, dan panglimanya Basah Mertanegara, disambut baik De Kock dan prajuritnya. Jamuan ramah-tamah berjalan dengan baik, semua menikmati hidangan yang disediakan.

Namun, sebelum Pangeran izin pulang ke Yogyakarta, De Kock menahan Pangeran Diponegoro hari itu juga. Suasana berubah menjadi tegang saat De Kock mulai serius bicara soal penahanan. Pangeran yang tahu niat busuk tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.

Walaupun ia bisa saja menebas kepala De Kock saat itu juga, tetapi ia sadar kedudukannya sebagai pangeran keraton tidak seharusnya bertindak seperti itu di depan para pengikutnya.

Pangeran Diponegoro tidak melakukan perlawanan yang berarti kepada De Kock dan para prajuritnya. Menurutnya, itu semua sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Meskipun saat itu ia sedang dalam kondisi sakit parah.

Kemudian, Pangeran menghampiri beberapa pengikutnya. Semua tertunduk. Kereta kuda yang telah disiapkan membawa Pangeran Diponegoro dan keluarga kecilnya ke tempat pengasingan, Manado.

Pada tahun 1833 mereka di pindahkan ke Makasar, tinggal di Benteng Fort Rotterdam. Pangeran Diponerogo tetap berada di tempat pengasingan hingga ajal menjemput pada 8 Januari 1855. (Anita)