Mukhtamar Mai, Advokat yang Pernah Dirudapaksa di Depan Ayahnya

Kamis, 19 November 2020 – 06:05 WIB

Mukhtamar Mai, Wanita Pejuang Keadilan Asal Pakistan (Foto: Istimewa)

Mukhtamar Mai, Wanita Pejuang Keadilan Asal Pakistan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Keberanian Mukhtamar Mai dalam menegakan keadilan membawa petaka bagi dirinya sendiri. Dalam keadaan tak berdaya ia diperkosa secara bergiliran oleh beberapa pria dari suku Mastoi.

Atas kejadian nahas itu, membawanya sebagai advokat terkenal dunia pembela kaum perempuan. Mukhtamar Mai memiliki nama asli Mukhtaran Bibi lahir sekitar tahun 1972 di sebuah desa kecil di Jatoi, Pakistan. Ia mempunyai adik laki-laki bernama Shakoor yang menjadi cikal-bakal insiden bersejarah itu dimulai.

Sore itu, 22 Juni 2002, Shakoor diculik oleh beberapa pria yang diketahui berasal dari suku Mastoi.  Ia mengaku telah disodomi oleh beberapa pria tersebut di sebuah perkebunan tebu.

Pengakuan tersebut semakin kuat dengan kesaksian seorang dokter. Suku Mastoi tidak terima dengan pengakuan tersebut yang kemudian menuduh Shakoor telah melakukan hubungan seksual dengan salah satu adik mereka, Salma.

Seorang tokoh masyarakat di sana menyarankan agar Shakoor dan Salma segera dinikahkan. Tapi niat baik tersebut ditolak sebelum Mukhtamar datang meminta maaf kepada suku Mastoi atas perbuatan adiknya.

Demi menyelesaikan perkara, datanglah Mukhtamar ditemani Ayah dan pamannya. Tapi setibanya di rumah lelaki Mastoi, ia diseret secara paksa oleh beberapa pria ke dalam gubuk berlantaikan tanah. Di sanalah peristiwa terburuk dalam hidup Mukhtamar terjadi.

Dalam keadaan tak berdaya, beberapa pria melancarkan aksinya memperkosa Mukhtamar dengan beringas secara bergantian. Ayah dan pamannya yang saat itu menyaksikan tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka dijaga oleh beberapa orang suku Mastoi.

Begitulah kisah kelam yang dialami Mukhtamar pada tahun 2002. Atas permintaan warga sekitar juga pemuka agama mendesaknya untuk melaporkan kejadian pemerkosaan itu ke Kepolisian, agar beberapa pria tersebut segera ditangkap dan diamankan.

Mukhtamar tidak sendiran, beberapa kelompok hak asasi manusia mendukung perjuangannya untuk mendapatkan keadilan, dan pelaku pemerkosa dihukum seberat-beratnya.

Di tahun yang sama, 2002, kepolisian setempat berhasil menangkap 14 orang yang dituduh melakukan pemerkosaan terhadap Mukhtamar. Enam diantaranya dihukum mati karena terbukti melakukan pemerkosaan. Sedangkan delapan orang lainnya dibebaskan.

Hatinya yang lega mendengar keputusan pengadilan di tahun 2002, tiba-tiba terguncang di tahun 2005. Secara mencengangkan Pengadilan Tinggi Lahore membebaskan lima dari enam terpidana, sementara hukuman mati satu orang diubah menjadi penjara seumur hidup.

Jelas Mukhtamar menentang keputusan itu dengan melakukan banding ke Mahkamah Agung, tetapi bandingnya ditolak pada tahun 2011. Merasa tidak puas atas keputusan Pengadilan Tinggi Lahore dan Mahkamah Agung, ia membuat permohonan untuk melakukan peninjauan kembali.

Keberanian  Mukhtamar untuk mendapat keadilan menjadi sorotan media internasional. Seperti majalah Glamour dari Amerika Serikat yang mengangkatnya sebagai ‘Women of The Year’di tahun 2005.

Mukhtamar sekarang terkenal sebagai advokat yang membela kaum perempuan dengan membangun organisasi ‘Mukhtar Mai Women’s Organization’. Ia juga merilis buku yang berjudul ‘In the Name of Honor’ yang sudah ditermahkan ke dalam 23 bahasa.