Pejuang Hak-hak Sipil, Nama Martin Luther King Abadi dalam Sejarah

Kamis, 26 November 2020 – 17:30 WIB

Pejuang Hak-Hak Sipil, Martin Luther King Namanya Abadi dalam Sejarah (Foto: Istimewa)

Pejuang Hak-Hak Sipil, Martin Luther King Namanya Abadi dalam Sejarah (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Martin Luther King Jr kerap lantang menyuarakan hak-hak warga sipil untuk orang kulit hitam. Berkat aksinya yang luar biasa itu, kini ia dikenang sebagai aktivis HAM paling berpengaruh di Amerika Serikat.

Pemilik nama lengkap Michael Luther King Jr ini lahir pada 15 Januari 1929 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Ayahnya adalah seorang pendeta bernama Martin Luther King Sr dan Ibunya Alberta Williams King seorang mantan guru sekolah.

Peristiwa Bus Montgomery masih membekas dalam ingatan, sebagai cikal-bakal sebuah aksi protes terbesar di Amerika Serikat. Dan King menjadi garda terdepan demi menuntut keadilan bagi hak-hak warga sipil.

Kejadian itu bermula ketika seorang wanita bernama Rosa Louise baru pulang dari tempat kerjanya di pasar swalayan, naik bus Cleveland Avenue. Saat itu ada peraturan tempat duduk depan untuk orang kulit putih, bagian belakang untuk orang kulit hitam.

Kemudian Rosa duduk di bagian belakang. Banyak orang yang naik bus tersebut di waktu pulang kerja. Kebetulan bagian depan saat itu sudah penuh sehingga ada beberpa orang kulit putih yang berdiri.

Supir bus yang melihat itu langsung menyuruh orang kulit hitam berdiri memberikan tempat duduknya untuk orang kulit putih. Sebagian dari mereka menuruti perkataan supir, tapi tidak dengan Rosa.

Ia tetap bersikukuh duduk sehingga supir memanggil polisi untuk menangkapnya. Gara-gara tidak memberikan kursi duduknya Rosa diganjar hukuman karena melanggar undang-undang pemisah bus di Montgomery, Alabama.

Hukuman yang diterima Rosa membuat semua warga kulit hitam turun ke jalan melakukan protes termasuk King.  Ia bersama warga kulit hitam lainnya melakukan pemboikotan transportasi kendaraan umum di kota Montgomery, mengakibatkan semua kegiatan bus terhenti. Krisis perekonomian terjadi pada perusahaan angkutan umum dan pemilik bisnis pusat kota.

Pemboikotan itu didukung sekelompok menteri setempat yang kemudian membentuk Montgomery Improvement Association (MIA) untuk mendukung perubahan hukum pemisah bus yang telah lama menjadi perdebatan warga Montgemery. Martin Luther King Jr terpilih menjadi presiden MIA. Ia menjadi orator terkuat dalam aksi pemboikotan dan aksi protes tersebut.

MIA memberikan beberapa tuntutan untuk memberikan hak yang sama kepada warga Afrika-Amerika dalam menggunakan alat transportassi umum. Bahwa mereka bisa duduk di bagian belakang maupun di bagian depan. Tapi tuntutan itu ditolak oleh pejabat Montgomery dan perusahaan bus.

Warga kulit putih yang tidak suka dengan gerakan MIA yang dipimpin oleh King melakukan pembalasan dengan membakar rumah King. Para aktivis pemboikotan juga diancam akan dipecat dari pekerjaannya. Walau diintimidasi mereka tetap menjalankan aksi pemboikotan tersebut hingga 381 hari.

Percobaan pembunuhan juga pernah menyerang King, tahun 1958, saat ia sedang berjalan di kota New York seorang wanita berkacamata berpayet kucing mendekatinya dan bertanya, “Apakah kamu Martin Luther King,” King menjawab, “Iya.”

Wanita itu langsung menusuk dada King dengan pisau lipatnya. King tetap bersikap tenang dengan mengatakan, “Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja” meskipun pisau itu terlihat tertancap di dadanya.

Kemudian pada 4 April 1968, Martin Luther King dibunuh dengan luka tembak di bagian lehernya, King di bawa ke rumah sakit satu jam kemudian dinyatakan meninggal dunia. Pelakunya seorang narapidana yang kabur dan ditahan kembali dengan hukuman 99 tahun penjara.

Sebanyak 300.000 orang menghadiri pemakaman King pada 9 April 1968, di Atlanta Georgia, Amerika Serikat.