Syahrir, Pejuang yang Wafat dalam Status Tahanan Politik Negara

Senin, 16 November 2020 – 09:30 WIB

Syahrir, Pejuang yang Wafat dalam Status Tahanan Politik Negara (Foto: Istimewa)

Syahrir, Pejuang yang Wafat dalam Status Tahanan Politik Negara (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Sutan Syahrir pernah diangkat menjadi perdana menteri di masa-masa sulit awal kemerdekaan. Perjuangan hingga kisah penculikannya, seakan terlupakan sampai di akhir hayatnya ia ditetapkan sebagai tahanan politik Indonesia.

Mengenang perjalanan Sutan Syahrir pun tak lepas dari aksi heroiknya bersama golongan muda menculik Sukarno-Hatta ke Rangesdengklok. Penculikan dilakukan pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum naskah proklamasi dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

Keberanian Syahrir memimpin golongan muda menjadikannya figur yang disegani, tak terkecuali di kalangan golongan tua. Perjuangannya bersama kawan-kawan terus berlanjut seiring munculnya berbagai polemik mengenai arah politik dan hukum yang belum jelas.

Belanda pun sempat kembali dan berniat menguasai Indonesia. Mereka tidak suka melihat pejabat pribumi yang melakukan kerja sama dengan Jepang, termasuk Sukarno-Hatta.

Kondisi itulah yang membuat Syahrir naik menjadi Perdana Menteri. Tujuannya agar Belanda lebih mudah mengakui kemerdekaan Indonesia.

Syahrir dan jajarannya memang menggunakan strategi diplomasi dengan Belanda dan Sekutu. Karena ia sadar Indonesia tidak akan mampu melawan secara fisik atau peperangan.

Tapi di sisi berseberangan, ada Tan Malaka atau Sutan Ibrahim anggota kelompok Persatuan Perjuangan. Mereka berpendapat bahwa perjuangan kemerdekaan harus dilakukan dengan angkat senjata dan peperangan.

Kekecewaan terhadap langkah Syahrir berimbas penculikan yang dilakukan oleh kelompok Persatuan Perjuangan. Penculikan tersebut dipelopori oleh Mayor Jenderal Soedarsono, dan menyeret nama Jenderal Soedirman yang diduga turut andil dalam kasus penculikan tersebut.

Kemudian pada tanggal  3 Juli 1946, Soedarsono dan 14 rekannya berhasil ditangkap, sesaat sebelum melanjutkan aksi pemberontakan di Istana Presiden. Sampai sekarang, tanggal tersebut dikenal dengan pemberontakan yang gagal.

Di akhir hayatnya Syahrir wafat dalam status tahanan politik yang dianggap terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolisioner Republik Indonesia (PRRI). Yaitu suatu gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.

Sebelum meninggal, Syahrir diketahui sudah dua kali terserang sakit stroke membawanya berobat ke luar negeri di Zurich , Swiss, semua biayanya ditanggung pemerintah. Setelah melakukan perawatan di sana, ia dinyatakan meninggal pada 9 April 1966. 

Saat pemakamannya Hatta berkempatan memberikan pidato, ia berujar, “Ia berjuang untuk Indonesia merdeka, melarat dalam pembuangan Indonesia merdeka. Ikut serta membina Indonesia merdeka. Tetapi ia sakit dan meninggal dalam tahanan Republik Indonesia yang merdeka."

Selamat jalan bung, semoga ketenangan menyertaimu di sana.