IFBC Banner

George Stinney, Remaja 14 Tahun yang Dihukum Mati Tanpa Keadilan

Senin, 11 Mei 2020 – 08:02 WIB

George Stinney, Remaja 14 Tahun yang Dihukum Mati Tanpa Keadilan

George Stinney, Remaja 14 Tahun yang Dihukum Mati Tanpa Keadilan

JAKARTA, REQnews – Usianya masih belia, baru mencapai 14 tahun atau setara dengan usia pelajar sekolah menengah pertama tingkat akhir. Tapi hukuman yang harus ditanggung George Junius Stinney Jr benar-benar berat.

IFBC Banner


Ya, remaja keturunan Afrika itu harus menerima nasib dihukum mati atas tewasnya dua perempuan kulit putih. Tanpa peradilan dan pembelaan.

Dia dieksekusi oleh kursi listrik pada bulan 16 Juni 1944. Sejarah pun mencatat Stinney sebagai orang Amerika termuda yang dihukum mati dan dieksekusi

Tragedi itu bermula saat Stinney seperti biasa membantu ayahnya, George Stinney Sr untuk menggergaji kayu. Ia bersama keluarganya tinggal di dalam perusahaan kayu tempat ayahnya bekerja di Alcolu - sebuah wilayah tempat tinggal antara orang kulit dan kulit hitam dipisahkan oleh jalur kereta api- California Selatan.

Pun fasilitas sekolah maupun gereja juga sengaja terpisah. Namun keluarga George Sr tidak mempermasalahkan kondisi tersebut meskipun kesenjangan sosial tersebut.

Kebetulan di hari sialnya, Stinney dan Aime adiknya sedang bermain di sekitar rumah. Tidak beberapa lama keduanya bertemu dengan dua anak perempuan kulit putih, dan bertanya kepada mereka berdua. “Apakah kamu tahu di mana letak buah Mypop?” tanya salah satu gadis itu.

Stinney menunjuk ke sebuah tempat yang diyakini di sana tempat buah tersebut tumbuh. Setelah percakapan itu, baik Stinney maupun Aime tidak pernah melihat kedua gadis itu lagi. Keesokan harinya tiba-tiba rumahnya kedatangan polisi, ia melihat ayahnya sedang berbincang dengan polisi tersebut.

Rupanya ayahnya itu ikut membantu mencari dua anak perempuan yang hilang dari kemarin siang. Stinney langsung teringat dengan dua anak perempuan kemarin yang bertanya kepadanya mengenai buah Mypop.

Kemudian polisi mencurigai Stinney dan kakaknya Jhonny tanpa alasan yang jelas. Keduanya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Beruntung Jhonny dibebaskan, tapi Stinney masih menetap di dalam penjara.

Menurut pengakuan polisi, Stinney mengaku bahwa dirinya telah membunuh kedua gadis itu. Namun menutut pernyaataan beberapa ahli, Stinney terpaksa mengakui kesalahannya karena ia dibuat kelaparan. Para polisi itu akan memberinya makanan jika ia mau mengakui kesalahannya.

Stinney pun duduk di kusi pesakitan sendirian, tidak ada orang tua, saudara, maupun pengacara. Anak laki-laki kulit hitam itu sebatang kara di dalam persidangan. 

Ia pun dinyatakan bersalah atas pembunuhan tingkat pertama kedua gadis itu dalam waktu kurang dari 10 menit oleh juri kulit putih , selama persidangan dua jam. Pengadilan yang diisi dari kalangan ras kulit putih pun menolak untuk mendengarkan bandingnya.

Hakim memutuskan hukuman mati kepada Stinney dengan cara disetrum. Waktu eksekusi pun tiba, yakni pukul 19.30 waktu setempat. Sel penjaranya didatangi beberapa polisi untuk mengantarkannya ke ruang eksekusi.

Di sana sudah tersedia kursi listrik, Stinney duduk di sana. Satu per satu tangan dan kakinya diikat kencang dengan tali.

Tidak ada kata sepatahpun yang diucapkan Stinney. Ia hanya bisa merintih dan menarik napas dalam saat polisi menarik tali dari kursi untuk dimasukan ke dalam mulutnya. Listrik berkekuatan tinggi menyambar tubuhnya kecilnya.

Kejadian ini tercatat sebagai eksekusi mati termuda di Amerika Serikat. Setelah bertahun- tahun kematiannya, pelaku sesungguhnya terungkap. Pelakunya dari orang kulit putih yang masih mempunya hubungan darah dengan hakim persidangan. 

Dalam beberapa dekade sejak hukuman dan eksekusi Stinney, pertanyaan tentang rasa bersalahnya, keabsahan pengakuannya yang dilaporkan, dan proses peradilan yang mengarah ke pelaksanaannya telah banyak dikritik.

Sekelompok pengacara dan aktivis menyelidiki kasus Stinney atas nama keluarganya. Pada 2013, keluarga mengajukan petisi untuk persidangan baru.

Pada 17 Desember 2014, hakim pengadilan wilayah memutuskan bahwa dia belum diadili secara adil. Stinney pun tidak memiliki perwakilan pertahanan yang efektif dan hak Amandemen Keenamnya telah dilanggar. (Anita)