IFBC Banner

12 Mei 1998, Mahasiswa Trisakti Dibantai Aparat

Selasa, 12 Mei 2020 – 08:03 WIB

Potret Tragedi Trisakti 1998

Potret Tragedi Trisakti 1998

JAKARTA, REQnews - Hari ini 22 tahun lalu, tepatnya 12 Mei 1998, suara-suara mahasiswa yang menagih kebenaran dan menolak kediktatoran Presiden Soeharto, dibungkam secara keji oleh aparat yang terdiri dari ABRI dan Polri. Peristiwa yang dikenang sebagai Tragedi Trisakti itu meninggalkan luka mendalam bagi demokrasi yang dibangga-banggakan bangsa ini.

Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie, empat mahasiswa Universitas Trisakti itu mati dalam keadaan penasaran. Pembunuhnya masih berkeliaran bebas di luar sana, tak ada pengusutan. Keempat pahlawan jalanan itu meninggalkan dunia tanpa keadilan.

 

Masih terkenang jelas dalam ingatan, bagaimana suasana pagi menjelang siang kala itu, di kampus Trisakti, lagu Indonesia Raya dikumandangkan lantang, diiringi pengibaran bendera setengah tiang, sebagai tanda keprihatinan atas bobroknya bangsa di tangan Soeharto.

Lalu massa bergerak menuju gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasinya. Kemudian diadang di tengah jalan oleh aparat berseragam lengkap dengan senjata pamungkasnya, tameng dan pentungan.

Sore menjelang malam, mahasiswa yang bergerak kembali ke kampusnya kemudian mendapat provokasi oleh aparat, dengan melontarkan kata-kata makian yang tak pantas. Ketegangan terjadi, hingga puncaknya, aparat menyerang mahasiswa secara membabi buta dengan tembakan dan gas air mata yang terhitung jumlahnya.

Di tengah kepanikan, aparat bertindak keji tak kenal ampun. Tembakan brutal terus dilesakkan, sebagian mahasiswa dipukuli, diinjak-injak, ditendang. Parahnya, aparat juga melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswi.

Tak bersenjata, mahasiswa masih terus dipukul mundur sampai ke dalam kampus oleh pasukan bermotor dengan rompi bertuliskan URC. Mereka yang kabur ke jembatan layang Grogol mendapat hantaman keras, banyak tubuh tergeletak di jalan, dibiarkan begitu saja oleh aparat.

Tembakan terarah terus dilontarkan aparat ke arah kampus, mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia. Yang meninggal dunia seketika di dalam kampus tiga orang dan satu orang lainnya di rumah sakit beberapa orang dalam kondisi kritis. Sementara korban luka-luka dan jatuh akibat tembakan ada lima belas orang.

Tragedi memilukan ini tak pernah menemui titik terang. Wiranto, pada 2006 pernah mengatakan, Tragedi Trisakti adalah salah satu pelanggaran HAM berat di Indonesia, namun hanya akan diselesaikan secara non yudisial dengan musyawarah. Padahal, saat tragedi itu terjadi, Wiranto adalah Panglima ABRI yang juga Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia.