Sekilas Mengenang Upaya Pembunuhan Sukarno 14 Mei 1962

Kamis, 14 Mei 2020 – 22:01 WIB

Presiden Sukarno

Presiden Sukarno

JAKARTA, REQnews -Suasana khusyuk pagi itu saat salat Idul Adha di Istana Merdeka, 14 Mei 1962, berubah mencekam, setelah tiga tembakan melesak ke arah barisan depan jemaah, yang salah satunya berdiri Presiden Sukarno.

Tembakan itu datang dari seorang lelaki yang memegang pistol, sembari meneriakkan 'Allahuakbar'. Rupanya, ia ingin membunuh kepala negara.

Dari tiga peluru yang dilepaskan si pelaku, tak ada satu pun yang mengenai Sukarno. Peluru itu malah bersarang di tubuh anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden Sukarno bernama Soesilo dan Soedrajat, sementara satu lagi mengenai bahu Ketua DPR KH Zainul Arifin.

Seluruh jemaah salat lari terbirit-birit, sebagian menjerit melihat ada korban yang terluka berdarah-darah. Salat di hari raya kurban itu benar-benar terhenti, berubah menjadi kebisingan baru yang penuh kepanikan.

Sementara imam salat, Ketua Nahdlatul Ulama KH Idham Chalid mengalami luka ringan. Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo dan Menteri Pertahanan Jenderal AH Nasution tampak sibuk melindungi presiden.

Setelah melesakkan tembakan, si pelaku berusaha mendekati Sukarno. Ia dicegat dan ditendang kakinya oleh seorang penjaga bernama Sribusono, dibantu Musawir. Pelaku itu jatuh, pistolnya direbut, dibuat babak belur, dan diringkus.

Pasca Penembakan

Tiga korban yang terluka parah, Soedrajat, Soesilo dan Zainul Arifin buru-buru dilarikan ke rumah sakit. Ketika suasana sudah kondusif, Idham Chalid melanjutkan salat, namun tanpa Presiden Sukarno.

Selesai salat, Sukarno yang seharusnya memberi sambutan diwakili oleh Jenderal AH Nasution. Setelah itu, jemaah diminta bubar, sambil diperiksa satu per satu.

Ketika suasana sudah sepi dari jemaah, kepolisian melakukan penyisiran merata di seluruh sudut Istana Merdeka. Secara mengejutkan polisi menemukan sarung pistol FN 45 di bawah tikar alas salat jemaah.

Berita penembakan itu menyebar cepat setelah disampaikan melalui Radio Republik Indonesia (RRI). Laporan berita menyebut, Presiden Sukarno selamat dari insiden, sementara korban luka lima orang, tiga di antaranya serius, dan pelaku telah diamankan.

Identitas Pelaku

Dari hasil pengusutan, diketahui pelaku berjumlah tiga orang. Mereka adalah anggota kelompok pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin SM Kartosoewirjo.

Polisi melaporkan, ketiga anggota DI/TII itu bisa manyelinap dengan mudah ke Istana Merdeka, karena mengantongi kartu undangan masuk yang didapat dari salah satu ormas.

Nama ketiga pelaku itu adalah Sanusi alias Fatah alias Soleh alias Uci Sanusi Fikrat alias Sanusi Ufit, Kamil alias Harun bin Karta, dan Jaya Permana bin Embut alias Hidayat bin Mustafa.

Ketiga pelaku dan yang terlibat dalam penembakan itu divonis mati oleh Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang untuk Jawa dan Madura pada Juli hingga Oktober 1962. 

Sementara sang kepala, Kartosoewirjo ditangkap pada 5 Juni 1962. Dia dinyatakan bersalah karena melakukan makar untuk merobohkan negara Republik Indonesia, memberontak terhadap kekuasaan yang sah di Indonesia, dan makar untuk membunuh kepala negara Republik Indonesia yang dilakukan berturut-turut dan terakhir dalam peristiwa Iduladha.

Negara menjatuhkan hukuman mati kepada Kartosoewirjo pada 16 Agustus 1962. Aparat juga mengamankan Haji Bachrun, yang memberikan undangan masuk untuk para pelaku. Ia dituduh telah mengatur rencana pembunuhan presiden.