Lukisannya Jadi Simbol Kekuatan Wanita, Artemisia Diakui Dunia

Minggu, 17 Mei 2020 – 23:02 WIB

Lukisannya Jadi Simbol Kekuatan Wanita, Artemisia Diakui Dunia

Lukisannya Jadi Simbol Kekuatan Wanita, Artemisia Diakui Dunia

JAKARTA, REQnews – Artemisia Gentileschi pelukis asal Italia, merupakan simbol kekuatan seorang wanita pada masanya. Ia pernah diperkosa oleh teman ayahnya sendiri, semenjak itu karya lukisannya semakin ekspresif dan mendapat pengakuan dunia.  

Susanna and the Elders adalah karya pertama Artemisia saat umurnya 17 tahun. Bakat lukisnya turunan dari ayahnya Tuscan Orazio. Karya-karyanya banyak dipengaruhi oleh pelukis ternama Caravaggio, lukisannya cenderung mengisahkan tentang manusia baik fisik maupun emosional digambarkan secara dramatis.

Seperti wanita muda pada umumnya, Artemisia lebih banyak mengurung diri di rumah. Jarang sekali diizinkan orang tuanya keluar rumah, kecuali melakukan ibadah di gereja. Bahkan mereka sempat ingin menjadikan anak perempuannya itu sebagai biarawati namun ditolak.

Di waktu luangnya Artemisia sering bereksperimen berbagai jenis gambar lukisan di tempat kerja ayahnya, yaitu di rumahnya sendiri. Ia terus mengasah bakatnya mulai dari pembuatan sketsa hingga cara mewarnai yang baik dan benar.

Impiannya menjadi pelukis ternama sempat dibuat pesimis. Pasalnya wanita di tahun 1600-an dipandang sebelah mata oleh laki-laki. Tapi atas dukungan dari ayahnya, Artemisia kembali optimis menggapai cita-citanya.

Dukungan Orazio terlihat dari niat baiknya menjadikan Agostino Tassi sebagai mentor bagi anaknya. Tassi merupakan pelukis terkenal yang identik dengan lukisan pemandangan alamnya. Artemisia senang mendapat kabar tesebut dari ayahnya.

Beberapa waktu kemudian Tassi ke rumah Orazio untuk mengajari Artemisia teknik melukis. Kebetulan Orazio sedang bekerja, ia menyuruh pendamping Artemisia pergi karena ia hanya ingin berdua saja agar lebih fokus mengajarinya.

Tapi alih-alih mengajarkan teknik melukis, Tassi malah merayu dan memperkosanya. Setelah kejadian itu ia berjanji akan menikahinya. Janji itu hanya palsu belaka, tidak sedikitpun niat Tassi untuk menikahi Artemisia akan terwujud.

Sepulang kerja saat mengetahui kejadian itu Orazio langsung membawa masalah tersebut ke ranah hukum. Tahun 1612, Tassi resmi dibawa ke pengadilan dan mengelak saat di persidangan telah memperkosa Artemisia. Namun alasannya itu terbantahkan dengan kesaksian seorang dokter yang memeriksa kondisi wanita malang itu.

Tassi terancam diasingkan selama 5 tahun. Sejak kejadian itu Artemisia mulai membuat lukisan lebih ekspresif menggambarkan seorang wanita yang kuat dan tangguh menghadapi laki-laki. Seperti hasil karyanya Judith Slaying Holoferners, Yeal dan Sisera, dan Salome dengan Kepala Santo Yohanes Pembaptis.

Diantara lukisannya itu ia juga membuat lukisan potret diri berjudul Alegori. Artemisia akhirnya menjadi pelukis wanita terkenal di Italia. Ia meninggal di Naples tahun 1652. Sampai saat ini karyanya telah menajadi sejarah dan menginspirasi seniman wanita di seluruh dunia. (Anita/Bins)