Dunia Terbalik! Andre Rela Jadi Polisi Sekaligus Perampok

Kamis, 25 Juni 2020 – 21:01 WIB

Andre Stander Polisi Sekaligus Perampok yang Menyelidiki Kasusnya Sendiri (Foto: Istimewa)

Andre Stander Polisi Sekaligus Perampok yang Menyelidiki Kasusnya Sendiri (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Berwajah tampan, berbadan kekar, dan sudah terlahir kaya, tak membuat kehidupan Andre Stander bahagia. Bahkan dia rela meninggalkan jabatannya sebagai polisi dan memilih menjadi perampok.

Kenangan buruk pun terjadi dalam hidupnya, saat dirinya terlibat penembakan. Tanpa sadar, Stander menembak mati seorang anak kulit hitam tanpa memegang senjata. Kemudian ia melihat rekan di sekelilingnya sudah menewaskan lebih dari satu orang kulit hitam dengan pelurunya.

Insiden itu terjadi saat aksi protes dari anak-anak sekolah mengenai pelajaran bahasa Inggris, yang perlahan mulai menggeser bahasa resmi orang Afrika. Dari hanya sekadar pembelajaran, bahasa Inggris mulai mengusai perdagangan, puncaknya dijadikan bahasa resmi Afrika.

Anak sekolah menengah ke atas tidak setuju dengan kebijakan tersebut, mereka khawatir negerinya akan dipenuhi orang Inggris yang rata-rata berkulit putih. Maklum saja, peraturan Apartheid di negara tersebut sudah diberlakukan.

Pada 16 Juni tahun 1976, sekitar 2.000 siswa menengah ke atas juga aktivis, mahasiswa, dari kulit hitam berkumpul melakukan protes di kota Soweto. Stander bersama dengan anak buahnya melakukan penjagaan di sepanjang jalan Soweto, lengkap dengan seragam polisi.

Namun pernyataan itu dibantah oleh rekan sesama polisi, van Deventer. Ia mengatakan bahwa Stander tidak ada di tempat kejadian. Pengakuan itu mengejutkan banyak orang yang sudah percaya dengan ceritanya.

Terlepas dari kontroversinya, Stander dari awal memang tidak tertarik menjadi polisi seperti jejak ayahnya, Mayor Jenderal Frans Stander. Dari kecil ayahnya sudah mendidik Stander agar menjadi polisi mengikuti jejaknya.

Setelah gagal dua kali masuk sekolah menengah atas, Frans mendaftarkan anaknya itu ke sekolah kepolisian dan lulus dan diduga terdapat campur tangan ayahnya.

Ia bekerja sebagai polisi sesuka hatinya, tapi berhasil juga mencapai posisi pewira di kepolisian Afrika Selatan.

Saat berada di puncak kariernya, pada tahun 1977, Stander terbang ke Durban. Bukan untuk jalan-jalan, tetapi melakukan pekerjaan lain yaitu membobol bank pertama kalinya. Uniknya dalam kasus penyelidikan pelaku pencurian ia ikut menyelidiki kasus tersebut yang dimana dialah pelaku utamanya.

Strategi itu berhasil dipecahkan oleh kepolisian dan Stander di tangkap. Namun tidak ada kapoknya, pada tahun 1983, ia bersama rekan narapidana lainnya berhasil mengelabui polisi dengan berpura-pura sakit punggung.

Setelah berada di ruang pengobatan, Stander bersama McCall temannya penjaranya menghabisi dokter fisioterapi dan melarikan diri. Kemudian keduannya kembali ke penjara untuk membebaskan temannya Allan Heyl.  

Ketiganya mulai merampok baik dilakukan bersama-sama maupun saat waktu bersamaan. Di tahun 1984 markas besar mereka berhasil dikepung polisi. Dari mereka bertiga hanya Stander yang sulit untuk ditangkap. Profesinya sebagai polisi menyelamatkan nyawanya beberapa kali dengan aksi penyamaran.

Pada akhirnya, Stander tertembak saat terjebak disebuah tempat apartemen milik seorang petugas polisi. Nyawanya tidak bisa tertolong karena pendarahan yang cukup banyak. (Anita)