Kisah Benno Ohsernorg, Simbol Ketidakadilan Gerakan Mahasiswa

Rabu, 10 Juni 2020 – 19:03 WIB

Kisah Benno Ohsernorg, Mahasiswa yang Jadi Simbol Ketidakadilan Jerman

Kisah Benno Ohsernorg, Mahasiswa yang Jadi Simbol Ketidakadilan Jerman

BERLIN, REQnews – Jalan Krummestrasse jadi saksi bisu kematian Benno Ohsenorg. Ia adalah seorang mahasiswa asal Berlin yang tewas tertembak aparat kepolisian. Kematiannya memicu pembentukan gerakan mahasiswa sayap kiri di Jerman.   

Sebenarnya Benno bukanlah sosok yang populer di kalangan mahasiswa. Ia cuma seorang mahsiswa jurusan sastra.

Namun yang bikin sedih, saat kejadian ia meninggalkan seorang istri dan anak yang masih di dalam kandungan. Anak itu tidak akan pernah bertemu dengan ayahnya untuk selamanya akibat aksi protes mahasiwa pada 2 Juni 1967.

Waktu itu, para mahasiswa memprotes kedatangan Mohammad Reza Pahlavi dari Shah Iran dalam rangka kunjungan kenegaraan. Mereka menduga kedatangan Pahlavi sebagai awal pembelokan Jerman kembali ke pemerintahan otoriter. Mereka hanya khawatir ‘Nazi kedua’ akan kembali menghantui warga Jerman.

Setibanya di Berlin, rombongan Pahlevi disambut baik oleh Wali Kota Berlin Heinrich Albertz. Mereka melakukan perjalanan menuju opera. Namun, sepanjang jalan sudah dipenuhi oleh mahasiswa dengan telur dan jeruk di tangannya.

Tahu bakal ada aksi yang besar oleh kalangan mahasiswa yang menolak kedatangan Pahlavi, segera Heinrich menurunkan aparat keaman berjaga-jaga di sana.

Saat mobil iring-iringan lewat, beberapa telur dan jeruk berhasil mengenai mobil tersebut. Malu atas kejadian itu, Heinrich segera meminta kepolisian agar mengamankan gedung selama pertunjukan opera selesai.

Bukannya tambah aman, keadaan malah semakin semrawut. Aparat polisi bentrok dengan mahasiswa, adegan pukul dan lempar batu menjadi pemandangan mengerikan saat itu.

Kemudian suasana semakin tegang saat seorang polisi berteriak bahwa salah satu rekannya mengalami luka parah dan berlumuran darah.

Semakin beringaslah perlawanan polisi terhadap mahasiswa. Benno dan beberapa temannya memilih jalan aman, minggir ke samping jalan. Malangnya ia terpisah dari rekan-rekan yang lain, akibat suasana yang semakin riuh.

Tepat di jalan Krummestrasse No. 66, kepala Benno ditembak oleh seseorang tidak dikenal. Orang itu memakai baju sederhana, setelah diselidiki ia adalah seorang perwira polisi. Benno langsung terkapar lemah di jalan, dalam foto yang beredar terlihat seorang wanita membantunya sambil teriak, “Tolong panggil ambulance,” ucapnya saat itu.

Benno dinyatakan meninggal di tempat. Kematiannya membakar amarah mahasiswa di Berlin yang membentuk gerakan sayap kiri melawan ketidakadilan atas kematian Benno. Pasalnya, Karl Heinz Kurras polisi yang membunuh Benno cuma ditahan 6 bulan.

Rudi Dutscke pemimpin mahasiswa sayap kiri merasa pemerintah telah melakukan kesalahan membiarkan tahanan berkeliaran. Keadilan bagi Benno harus segera terselesaikan dengan sempurna. Aksi protes Dutscke mendapat perlawan dari pemerintah, beberapa kali ia mendapat penganiayaan dari orang yang tidak dikenal.

Kemarahan mahasiswa semakin memuncak dengan melakukan percobaan pembunhuan terhadap pejabat negara dan pemboman. Walau berbagai cara telah dilakukan demi mendapat keadilan untuk Benno, sampai detik ini kasus tersebut belum selesai. Tahun 1990, pemerintah membuat monumen patung Benno persis di tempat kematiannya. (Anita/Bins)