JE Sahetapy, Begawan Hukum Asli Maluku yang Dituduh Jadi Intelijen CIA

Jumat, 12 Juni 2020 – 13:03 WIB

JE Sahetapy, Begawan Hukum Asli Maluku yang Dituduh Sebagai Intelijen CIA

JE Sahetapy, Begawan Hukum Asli Maluku yang Dituduh Sebagai Intelijen CIA

JAKARTA, REQnews – Nama Prof Dr Jacob Elfinus (JE) Sahetapy pernah diduga menjadi intelijen asing usai kepulangannya menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Tuduhan itu pun langsung menghancurkan karirnya, hingga menganggur dalam kurun waktu yang lama.

Semua itu berawal ketika ia menerima tawaran melanjutkan kuliah S2 Business and Industrial Relations, University of Utah, Salt Lake City, USA, 1962. Sekembalinya dari Amerika Serikat, oleh pihak kiri ia dikenai tuduhan sebagai mata-mata Amerika.

Karenanya, pria kelahiran Saparua, Maluku pada 6 Juni 1932 silam ini tidak diizinkan mengajar. Setelah PKI tersingkir, ia pun tidak langsung mengajar karena munculnya tuduhan-tuduhan lain. Namun semua itu tidak membuatnya putus asa, bahkan ia semakin bertekad untuk membela rakyat kecil.

Setelah lama menganggur, ia akhirnya boleh mengajar dan pada 1979 ia terpilih menjadi dekan Fakultas Hukum di alma maternya. Ia mengambil gelar doktor dan menulis disertasi dengan judul "Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana".

Karirnya pun kian moncer, pelbagai jabatan di bidang hukum pun pernah diemban Sahetapy, termasuk sebagai Ketua Komisi Hukum Nasional. Ia pernah menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) Provinsi Jawa Timur dan sempat pula menjadi asisten Gubernur Mohammad Noor.

Ia mengatakan bahwa semua capaian prestasinya tersebut tak lepas dari peran sang ibu. Masih teringat dalam kenangan JE Sahetapy bagaimana ibunya mengajar dengan sabar tanpa pilih kasih. Ibunya tidak memandang mana anak yang pintar atau bodoh, kaya atau miskin, dan berstatus anak kandung atau bukan. Pembelajaran berharga dari sang ibu inilah menjadi bekal masa depanya.

Sederhana

Meski dikenal dengan segala profesi mulai dari dosen hingga birokrat, suami Lestari Rahayu ini dikenal sungguh bersahaja dalam hidup sehari-harinya. Tinggal di kompleks perumahan dosen Universitas Airlangga, Jalan Darmahusada III, rumah Sahetapy sendiri jauh dari kesan mewah.

Perabotannya biasa saja. Misalnya, sofa di ruang tamunya bukanlah dari jenis sofa berharga ratusan ribu rupiah. Sehari-hari, untuk mendukung kegiatannya, ia mengendarai mobil Kijang.

Kesederhanaan ini tidak berubah saat ia menjadi anggota DPR dari PDIP pada zaman reformasi yang masih kental praktek korupsi ini. Saat beberapa rekannya, setelah menjadi anggota DPR, tiba-tiba menjadi mewah dengan mobil-mobil mewah. Sahetapy justru masih kerap jalan kaki dari tempat tinggalnya, sekitar satu setengah kilometer dari Gedung DPR.

Waktu itu, ia memang tinggal di tempat kerabatnya, dan mengaku tidak ada taksi yang lewat di lingkungan tersebut. Itu membuatnya harus jalan sekitar lima ratus meter sebelum bisa menemukan taksi. Tapi, karena jarak ke Gedung DPR makin dekat, tidak ada taksi yang bersedia mengantarnya. Jadi, ya, terpaksalah berayun tungkai.

Mantan Guru Besar Tamu di Fakultas Hukum Leiden, Belanda dan Universitas Katholik Leuven, Belgia, ini pun pernah menyebut negara kita ini ibarat “Rumah Sakit Gila” yang dihuni sebagian orang yang sudah “gila” (gila kekuasaan, KKN, pangkat, dan jabatan). Sebagian penghuni sudah setengah “gila” karena keinginan, ambisi yang ambisius tidak tercapai sehingga berperilaku dan berpikir yang tidak lagi rasional.

Ia menambahkan ada pula penghuni yang mengalami 'depresi' dan sudah pada tahap fatalistik, karena bingung melihat gejolaknya kejahatan yang sadistik, KKN ibarat kanker yang tengah merajalela dengan ganas.

Sebagian penghuni lain seperti sudah kehilangan akal, karena melihat orang-orang yang begitu tekun menjalankan ibadah agamanya, tetapi kalau diamati dengan cermat seperti orang-orang ateis yang tidak berperikemanusiaan, yang amoral, tetapi justru mereka berdalih sebagai penyelamat dunia ini.

Yang paling besar jumlahnya ingin berteriak tetapi apa daya seperti tidak berkekuatan karena perut mereka terus keroncongan. Tetapi, mereka yang di akar rumput ini “have nothing to loose” kalau dihasut untuk menjadi radikal dan bersedia mati untuk suatu kausa yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka.