Tersungkurnya King dan Kisah di Baliknya

Kamis, 24 Januari 2019 – 07:00 WIB

Martin Luther King Jr. nyaris tersungkur. (Foto: Bettmann / Getty Images / TIME)

Martin Luther King Jr. nyaris tersungkur. (Foto: Bettmann / Getty Images / TIME)

JAKARTA, REQnews – Jika anda mencari foto Martin Luther King Jr. di mesin pencari semacam Google, akan muncul sosok pria berkulit hitam yang berkumis, mengenakan setelan jas dan tatapan mata yang tajam. Banyak dari foto-foto itu memperlihatkan sosoknya sebagai seorang yang berpendidikan. Tak jarang kita menemukan fotonya sedang berorasi di hadapan massa.

Kini, kita mengenalnya sebagai seorang aktivis gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat, terutama bagi kalangan Afrika-Amerika, yang gencar berjuang sejak 1954 hingga kematiannya di tahun 1968 lantaran dibunuh. Setiap tahun, rakyat Amerika Serikat memeringatinya pada Senin ketiga di bulan Januari.

Senin (21/1) lalu, TIME menunjukkan sebuah foto King yang berbeda dari kebanyakan foto tentangnya disertai kisah di balik foto itu yang belum terungkap selama ini. Sebagai seorang ahli teologi yang terinspirasi oleh sosok Mahatma Gandhi, King identik dengan gerakan anti kekerasan. Ia lebih memilih diplomasi, orasi publik, bukan kekerasan fisik yang brutal dan tidak manusiawi.

Bermula dari Chicago

“Adalah masuk akal untuk percaya bahwa jika masalah Chicago, kota terbesar kedua di negara ini, dapat diselesaikan, mereka dapat diselesaikan di mana saja,” tulis King. Presiden pertama Southern Christian Leadership Conference (SCLC) ini berpandangan Chicago sebagai titik awal yang masuk akal baginya untuk memperjuangkan hak-hak sipil di bagian Utara Amerika Serikat. Secara lebih spesifik, King berupaya meningkatkan kesadaran tentang kondisi kehidupan yang buruk bagi orang-orang Afrika-Amerika di kota itu.

26 Januari 1966, King pindah ke sebuah apartemen di kawasan Lawndale, sisi Barat Chicago. Sebagaimana dilaporkan Chicago Tribune, King mengatakan, tidak perlu mengkhawatirkan karpet, tapi ada tikus dan kecoa yang merayap di dinding. Di kota itu, King menggelar Kampanye Chicago dengan slogannya yang tenar, “Akhiri Kekumuhan.” Kampanye ini populer dengan sebutan Gerakan Kebebasan Chicago, sebuah kolaborasi antara SCLC yang dipimpinnya dan Dewan Koordinasi Organisasi Masyarakat Chicago yang dikomandoi James Bevel.

10 Juli 1966, setidaknya ada 30.000 orang menghadapi gelombang panas untuk mendengar pidato King di sebuah rapat umum di Soldier Field. “Kami di sini karena kami lelah tinggal di daerah kumuh yang dipenuhi tikus. Kami lelah karena harus membayar sewa rata-rata $97 sebulan di Lawndale untuk empat kamar sementara orang kulit putih di South Deering membayar $73 sebulan untuk lima kamar ...” ujar King di hadapan massa itu.

Kemudian, mereka berjalan menuju Balai Kota untuk menempelkan daftar tuntutan di jalan masuknya. Dalam daftar ini, King memasukkan tuntutan peningkatan pasokan pilihan perumahan bagi keluarga berpenghasilan rendah dan menengah. Selain itu, ia juga menuntut rehabilitasi fasilitas perumahan umum dan “"pengawasan federal atas pemberian pinjaman yang tidak diskriminatif oleh bank dan lembaga tabungan." Beberapa minggu kemudian, muncul pawai kedua yang menghasilkan momen unik yang tertangkap dalam foto di atas.

 Baca juga : Samuel Snipes, Pengacara Pertama Bagi Keluarga Kulit Hitam

Taman Marquette, 5 Agustus 1966, King berencana memimpin pawai ke kantor pengembang untuk meminta penjualan rumah dilakukan kepada semua orang, tanpa memandang warna kulit. King dikerumuni sekitar 700 pengunjuk rasa berkulit putih yang melemparkan batu bata, botol dan batu. Sebuah batu mengenai King dan sekejap para pendukungnya segera melindunginya, seperti yang tampak di foto. Chicago Tribune melaporkan, "Serangan itu membuat King berlutut dan dia mengulurkan tangan agar tidak jatuh. Dia tetap dalam posisi berlutut ini, kepalanya tertunduk, selama beberapa detik sampai kepalanya bersih.”

Kepada wartawan, setelah kejadian itu King mengatakan, “Saya telah melakukan banyak demonstrasi di seluruh Selatan, tetapi saya dapat mengatakan bahwa saya belum pernah melihat, bahkan di Missisippi dan Alabama, massa bermusuhan dan dipenuhi kebencian seperti yang saya lihat di Chicago."

Ganasnya kebencian massa kulit putih itu mengejutkan lantaran pada saat itu banyak orang Afrika Amerika yang berpindah ke Utara seperti Chicago. Mengenai perbedaan antara situasi Selatan dan Utara, James R. Ralph Jr, profesor sejarah di Middlebury College dan penulis The Chicago Freedom Movement, mengatakan, “Anda dapat berargumen bahwa lebih mudah untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan undang-undang yang tampak membuat orang kehilangan haknya di Selatan. Di Utara, lebih kacau, lebih sulit untuk menemukan seutas tali yang dapat Anda tarik."

Pasca kerusuhan itu, secara bertahap terjadi serangkaian demonstrasi di kota-kota terdekat lainnya seperti Louisville dan Milwaukee. Aktivis gerakan ini menutut upaya adanya serikat penyewa yang dapat menentang pemilik tanah tentang hal-hal seperti mengucap cat berbasis timah di dinding rumah, dan memerangi perekrutan pekerja yang diskriminatif.

Undang-Undang Perumahan yang Adil baru disahkan 11 April 1968, seminggu setelah kematian King, oleh Presdien Lyndon B. Johnson.  (Prazz)