Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Teladan Jaksa Agung Singgih, Sang Jaksa Karier

Senin, 22 April 2019 – 17:30 WIB

Jaksa Agung Singgih (Ist)

Jaksa Agung Singgih (Ist)

JAKARTA, REQnews - Hari itu, tanggal 23 Juni 1934 lahir seorang pria bernama Singgih di Jombang. Tidak ada yang tahu jika anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut bakal menjadi Jaksa Agung RI di 56 tahun kemudian.

Semasa kecil, Singgih sudah tinggal bersama kakaknya di Jombang. Menempati sebuah rumah di Jalan Madura Nomor 50, Jombang (selatan stasiun).

Bahkan ia tercatat bersekolah di salah satu SR (Sekolah Rakyat) di Jombang dan lulus di tahun 1947. Singgih kemudian mengenyam pendidikan SMP di Kabupaten Kediri, dan melanjutkan ke SMA Wijayakusuma Surabaya. 

Memasuki usia remaja, Singgih sudah bercita-cita menjadi penegak hukum. Impiannya pun kesampaian ketika ia menjadi salah satu pelajar yang menerima beasiswa kuliah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya. 

Singgih akhirnya menyelesaikan kuliahnya pada 1960. Berkat prestasinya semasa kuliah, pria seringkali tampil dengan rambut rapi ini berhasil diterima sebagai sebagai jaksa pada Direktorat Reserse Kejaksaan Agung. 

Semasa menjadi jaksa, prestasi lelaki berkacamata yang jarang merokok itu terus menanjak. Ia pernah menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Denpasar dan Jakarta Pusat, Kajati NTB, Kajati Sulawesi Utara dan Kajati DKI Jakarta. 

Saking berprestasi, Singgih sempat ditarik Menteri Kehakiman Ismail Saleh menjadi Irjen pada Departemen Kehakiman, sebelum diangkat menjadi Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus. 

Singgih juga menangani banyak kasus penting, antara lain G-30S-PKI, Malari, Peristiwa Tanjung Priok, Mega korupsi Golden Key yang akhirnya menjebloskan Eddy Tanzil ke dalam bui, Peristiwa 27 Juli 1996 di kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia dan Terbongkarnya kasus korupsi pada Bank Duta dengan terdakwa Dicky Iskandardinata. 

Singgih dilantik Presiden Soeharto menggantikan Jaksa Agung Sukarton Marmosudjono yang meninggal dunia pada 29 Juni 1990. Jaksa Agung Sukarton Marmosudjono berasal dari korps ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). 


Terpilihnya Singgih sebagai Jaksa Agung merupakan fenomena baru di kalangan kejaksaan. Sebab belum pernah ada jaksa agung yang diangkat dari kalangan jaksa sendiri alias jaksa karier. 

Singgih SH merupakan Jaksa Agung kedua (yang pertama adalah Gatot Taroenamihardja) yang sempat dua kali memegang jabatan sebagai jaksa agung. 

Menduduki jabatan sebagai jaksa agung di era Orde Baru bukan merupakan posisi yang mudah, peran kejaksaan sangat bergantung pada sikap politik presiden pada masa itu. Bila tidak berhati-hati tentu akan mengakibatkan benturan yang berefek pada eksistensinya sebagai jaksa agung. 

Namun ketegasan dan keteguhannya membongkar perkara besar serta kepiawaiannya berdiplomasi sangat menginspirasi. Kala itu Singgih berupaya menghapus perilaku korupsi dan kolusi di lingkungan institusi kejaksaan. 

Terlebih saat dua tahun masa berakhirnya era Orde Baru, kinerja institusi kejaksaan yang bobrok benar-benar dikritisi. Singgih kala itu menekankan upaya pembersihan praktik kolusi dan korupsi harus benar-benar bisa dihapus di era itu.

“Pokoknya, kita harus terus menerus melakukan pengawasan, Dalam kaitan ini saya bertindak tegas terhadap semua perilaku yang merusak citra kejaksaan. Saya tekankan, kalian tidak hanya bertanggung jawab pada pimpinan tetapi juga pada Tuhan,”demikian ucapnya saat itu di hadapan para Jaksa dan karyawan kejaksaan. 

“Ya, sudah waktunya lah para penegak hukum harus berhenti. Artinya, kalau mau terus ya ‘pulang’saja,” terangnya kepada wartawan kala itu.

Wajar bila banyak orang menilai Singgih sebagai pejabat yang tak neko-neko. Keberaniannya dalam mengungkap kasus-kasus besar hingga keteguhannya pada pendirian sangat menginspirasi. 

Tak salah jika pada tahun 1993, Singgih mendapatkan penghargaan Bintang Pratamabhorn Knight Grand Cross of The Most Exalted Order of The White Elephant dari Raja Thailand setelah seblumnya ia menerima Bintang Mahaputra Adiprana. 

Jaksa Agung Singgih meninggal pada tanggal 30 Juli 2005 setelah menjalani perawatan di rumah sakit Siloam Kawaraci, Tangerang akibat penyakit stroke yang dideritanya.(RET)