Kisah Hidup Soesalit, Anak Kartini yang Jadi Polisi Rahasia Belanda

Jumat, 24 Juli 2020 – 13:00 WIB

Kisah Hidup Soesalit, Anak Kartini yang Jadi Polisi Rahasia Belanda

Kisah Hidup Soesalit, Anak Kartini yang Jadi Polisi Rahasia Belanda

JAKARTA, REQnews - Semua pasti mengenal ketenaran Raden Ajeng Kartini. Seorang tokoh nasional yang memperjuangkan kesetaraan gender dan hak perempuan Indonesia.

Namun, nama besar Kartini tak serta merta membuat nama putranya, Soesalit Djojoadhiningrat harum di benak masyarakat Indonesia. Ya, Soesalit merupakan anak Kartini dari pernikahannya bersama Raden Mas Adipati Ario Djojohadiningrat yang merupakan Bupati Rembang.

Kisahnya menarik diulas lantaran perjalanan hidupnya yang terbilang cukup mengharukan. Ya, pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 13 September 1904 ini harus menerima kenyataan pahit ditinggal kedua orang tuanya di masa kecil.

Kartini meninggal dunia empat hari sesudah melahirkan Soesalit. Ketika Soesalit Djojoadhiningrat berusia delapan tahun, giliran Ario Djojodiningrat meninggal dunia.

Nama Soesalit sendiri diambil merupakan akronim kalimat dalam bahasa Jawa "susah naliko alit” (susah di waktu kecil) dikarenakan tidak pernah mengenal ibunya. Ia pun diurus dan dididik oleh kakak tiri tertuanya Abdulkarnen Djojoadiningrat, yang memangku jabatan sebagai Bupati Rembang menggantikan sang ayah.

Mulai dari urusan sekolah hingga pekerjaan Soesalit, diatur oleh Abdulkarnaen. Termasuk menyekolahkan Soesalit di Europe Lager School (ELS), sekolah elit untuk anak Eropa dan pembesar pribumi. Dulu, Kartini sempat bersekolah di tempat yang sama sebelum akhirnya 'ditarik pulang' untuk dipingit.

Setelah lulus dari ELS, Soesalit meneruskan pendidikannya di Hogare Burger School (HBS) Semarang dan berlanjut ke Recht Hoge School (RHS) Jakarta. Setahun di RHS, Soesalit memilih pergi dan bekerja sebagai pegawai pamong praja kolonial.

Berselang beberapa tahun kemudian, Abdulkarnen Djojoadiningrat memasukkan adik tirinya ke Politieke Inlichtingen Dienst (PID) yang merupakan polisi rahasia Hindia Belanda. Padahal, rasa cinta Soesalit kepada NKRI dan pergerakan kaum pribumi saat itu begitu tinggi.

Kegalauan pun dirasakannya, selama menjadi polisi rahasia. Kala itu, Soesalit kerap seolah tidak tahu terkait berbegai pelanggaran yang dilakukan pribumi.

Akhirnya, setelah Jepang masuk ke Indonesia, Soesalit akhirnya keluar dari PID dan bergabung dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Dia memegang kendali divisi dari 1946-1948.

Soesalit pun dikenal sebagai jenderal kerakyatan dan mengidolakan Jenderal Chu Teh (Mandarin Zhu De) dari Tentara Pembebasan Rakyat yang menjadi panglima melawan Jepang di Cina semasa perang Cina-Jepang.

Pada saat Agresi Militer Belanda II, Soesalit disebutkan bergerilya di lereng Gunung Sumbing. Sayangnya, semasa reorganisasi dan rasionalisasi alias Re-Ra Angkatan Perang Republik Indonesia, Soesalit diturunkan pangkat menjadi Kolonel lalu menjadi pejabat di Kementerian Perhubungan.

Padahal, saat itu pangkatnya adalah Jenderal Mayor atau sekarang disebut Mayor Jenderal. Pada program Re-Ra ini ia juga ditunjuk menjadi salahsatu anggota komisi 3 jenderal di mana ia dianggap mewakili kalangan bekas PETA dan Laskar, sementara Mayor Jenderal Suwardi mewakili kalangan bekas KNIL dan Abdul Haris Nasution mewakili kalangan perwira-perwira muda.

Peristiwa Madiun tahun 1948 lah yang menjadi awal penderitaan Soesalit. Saat itu pasukan komunis tengah memberontak. Ada satu dokumen yang disebut milik pemberontak jatuh ke tangan tentara pemerintah.

Di sana tertulis nama Soesalit yang disebut sebagai 'orang yang diharapkan'. Singkat cerita, Soesalit pun menjadi tahanan rumah dan pangkatnya diturunkan.

Ia akhirnya menjadi pejabat di Kementerian Perhubungan dengan pangkat militer tak berbintangnya. Kehidupan Soesalit pun dikenal sangat sederhana dan tidak ingin show off soal sepak terjangnya, apalagi membawa-bawa nama besar ibunya.

Soesalit wafat di RSPAD, 17 Maret 1962 dengan meninggalkan seorang putra bernama RM Boedhy Setia Soesalit. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Djojoadhiningrat di Rembang dipimpin Wakil KSAD Jenderal Gatot Subroto.

Berkat jasanya selama berkarir di dunia militer Indonesia, pemerintah memberikan penghargaan berupa Bintang Gerilya pada 1979. Ada satu pesan yang diwariskan Soesalit adalah agar keturunannya tak membangga-banggakan diri sebagai keturunan Kartini dan harus selalu rendah hati.