Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Jaksa Agung Ismail Saleh, Alkisah Tamu Tak Diundang

Rabu, 08 Mei 2019 – 09:30 WIB

Foto : ist

Foto : ist

Jaksa Agung Ali Said diganti Jaksa Agung Ismail Saleh (1981-1084). Kepemimpinan Jaksa Agung Ismail Saleh agak berbeda dengan Jaksa Agung Ali Said dan jaksa agung lainnya. Jaksa Agung Ismail saleh gemar melakukan blusukkan ata sidak (inspeksi mendadak).

Lazimnya sidak yang menjadi fokus perhatian Ismail adalah kebersihan dan kerapian ruang dan lingkungan kantor, tata tertib dan disiplin kerja, administrasi dan lainnya. Bukan cuma di Jakarta, dia juga lazim blusukkan ke daerah.

Ismail Saleh juga dikenal dekat dengan masyarakat dan merakyat. Ia dikenang pula dengan program kerja Jaksa Masuk Desa (JMD). Program JMD ini direspon sangat baik oleh seluruh pemangku kepentingan dan seluruh elemen masyarakat.

Selama empat tahun memimpin lembaga kejaksaan, beberapa kali saya bertemu dengan Pak Ismail. Pertama kali tahun 1981 pada saat saya menjadi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajar) Jakarta Barat. Ketika itu, Pak Ismail sidak ke kantor Kejari Jakarta Barat dan langsung masuk ruang kerja Kajari (saya). Pada saat hendak masuk ruangan saya, seorang petugas keamanan (Kamdal) bernama Abas langsung mencegatnya.

Menghadang tamu atau lebih tepat menanyakan lebih dahulu latar belakang tamu, berikut tujuan kedatangan tamu adalah prosedur yang telah saya terapkan sebelumnya sejak saya menjabat sebagai Kajari Jakarta Barat pada tahun 1978.

Kebetulan Abas belum mengenaal Ismail dan pada saat itu Pak Ismail mau "nyelonong" saja masuk ruangan kerja saya. Dia juga tidak bilang, "Hei..., saya ini Jaksa Agung lho...!" Dia juga datang sendiri.

Lucu memang, tetapi ini adalah kebiasaan Pak Ismail. Ia sangat rendah hati, dikenal sederhana, tidak suka tonjolkan diri dan karena itu saya sangat menghormati dan mengaguminya. Jaksa Agung Ismail Saleh dan Jaksa Agung R Soeprapto adalah dua jaksa agung yang telah menginspirasi saya sebagai seorang jaksa. Baharuddin Lopa yang juga teman kuliah saya di Makassar, juga turut menginspirasi saya. Sayangnya Lopa memimpin kejaksaan hanya sebentar.

Jadi, ketika Pak Ismail masuk ruangan, saya sedang shalat dhuhur. Saya kaget dengan kehadirannya. Abas sempat menggerutu dan kecewa ketika Pak Ismail tetap ngotot masuk ruangan saya tanpa menjelaskan dengan terang maksud kedatangannya. Namun setelah mengetahui tamu tersebut adalah jaksa agung, Abas sangat malu. Untung saja Pak Ismail tidak marah pada Abas.

Ketika keluar dari ruangan kerja saya dan kembali menjumpai Abas di depan pintu, Pak Ismail hanya tersenyum kecil pada Abas.

"Alhamdulilah...! seru Abas setelah tidak dimarahi Pak Ismail. Saya hanya tertawa. Teman-teman lain juga ikut tertawa.

Sidak Pak Ismail pada hari itu memang membuat kami panik. Sangat panik! Jadi, begitu tahu sang pemimpin tertinggi datang, para jaksa dan par pegawai tata usaha langsung siaga satu, hiruk-pikuk, membersihkan dan merapikan semua meja dan ruangan masing-masing.

Pak Ismail sempat datang memeriksa semua ruangan dan menyapa seluruh jaksa dan pegawai tata usaha yang ada.

Kepada kami, Pak Ismail memberikan motivasi, arahan dan nasihat. Pak Ismail senang karena selama sidak tidak ditemukan hal aneh. Kantor Kejari Jakarta Barat pada saat itu cukup bersih dan rapi. Tidak ada juga hal aneh lainnya yang ditemuinya.

Ditegur karena Jaksa RT

Pertemuan kedua saya dengan Pak Ismail adalah ketika dia menelepon saya datang ke kantor Kejaksaan Agung. Ternyata saya dipanggil terkait dengan seorang jaksa, anak buah saya, RT, yang diduga kuat menerima suap dari tersangka.

Kata Pak Ismail, "Djoko..., saya mengetahui ini karena saksi pelapornya adalah teman baik saya. Anak buahmu itu bukan menerima tetapi meminta di awal penyelesaian kasus!"

Mendengar itu saya kaget sekaligus marah. Malu juga.

Di hadapan Pak Ismail, saya langsung merespon bahwa saya tidak tahu-menahu dengan ulah anak buah saya itu. Saya juga langsung meminta maaf karena bagaimana pun Jaksa RT adalah anak buah saya dan saya bertanggung jawab membinanya.

Pak Ismail meminta saya agar menghukum RT. "Siap Pak! Tugas akan saya laksanakan," jawab saya dengan tegas.

Setelah itu, tiba-tiba Pak Ismail memberikan saya sebuah "badik" atau pisau antik. Saya pikir dia marah kepada saya karena ulah RT. Pak Ismail malah memberikan saya kenang-kenangan.

"Ini untukmu Djok. Sebagai kenang-kenangan ya. Kalau ada apa-apa hubungi saya!"

Saya jawab, "Siap Pak..., terima kasih banyak!"

Seterusnya saya pulang dengan perasaan campur-baur, antara kagum pada Pak Ismail dan sedih, kecewa, malu dan marah pada RT.

Begitu tiba di kantor Kejari Jakarta Barat, saya langsung memanggil jaksa RT. Saya menegur dan memarahinya. Sebetulnya saya tidak menyangka RT melakukan perbuatan seperti itu sebab yang saya tahu dia jaksa yang baik, juur dan pintar.

Jaksa RT mengakui perbuatannya, namun dia mengatakan bahwa dirinya tidak memeras atau meminta tetapi hanya menerima. Pengakuan RT kemudian saya cek silang pada saksi pelapor dan tetap pada pengakuannya bahwa RT meminta.

Atas dasar bukti dan saksi, Jaksa Agung Ismail Saleh dan pimpinan di Kejaksaan Agung menghukum Jaksa RT. Jaksa RT menjadi pegawai tata usaha. Namun setelah melampaui masa hukumannya, RT kembali mendapatkan pangkat dan jabatan hingga sempat menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) kelas IA.

Trio Punakawan

Sebagaimana dikutip dari www.kejaksaan.go.id., Letnan Jenderal TNI Ismail Saleh, S.H., lahir di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, 7 September 1926 dan wafat di Jakarta, 21 Oktober 2008 dalam umur 82 tahun. Ia diangkat sebagai jaksa agung dengan Keppres No. 32/M tahun 1981 Tanggal 9 Februari 1981 pada saat ia masih menjabat Mayor Jendral TNI. Perkembangan penting di era kepemimpinan Jaksa Agung Ismail Saleh adalah diadakannya Program Penertiban di berbagai bidang serta Program Jaksa Masuk Desa (JMD) dalam rangka upaya penyuluhan hukum untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat.

Bersama Almarhum Mudjono, S.H., (Ketua MA) dan Ali Said, S.H., (Menteri Kehakiman), Ismail Saleh (Jaksa Agung) pernah dijuluki "Trio Punakawan/Pendekar Hukum" lantaran sepak terjang dan ketegasan mereka dalam penegakan hukum. Ismail Saleh juga dikenal sebagai jaksa agung yang kerap mengadakan kunjungan mendadak ke kantor-kantor kejaksaan. "Bukan untuk menjebak, tetapi agar mengetahui keadaan yang sesungguhnya," kata Ismail pada saat itu. Tentang tujuannya mengadakan inspeksi mendadak atau ''sidak'' Ismail Saleh berujar, "Bila kita mengharapkan ketertiban masyarakat, maka instansi penegak hukum harus tertib lebih dulu."

Perkembangan penting di era “Mas Is” begitu panggilan akrabnya adalah munculnya Keputusan Presidium No 86 Tahun 1982 tanggal 29 Desember 1982 tentang Pokok-pokok Organisasi Kejaksaan Republik Indonesia. Keppres ini banyak dianggap sebagai acuan baru yang menempatkan Kejaksaan pada kedudukan, tugas pokok dan fungsi yang lebih sesuai. Berdasarkan pasal 2 Kepres tersebut, perombakan struktural yang diadakan adalah:

Pertama, meniadakan jabatan Jaksa Agung Muda Bidang Operasi dan menggantikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum dan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus.

Kedua, mengadakan Pusat Penelitian dan Pengembangan, Pusat Penyuluhan Hukum dan Pusat Operasi Intelijen.

Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, selain dibantu oleh 5 JAM, jaksa agung juga dibantu oleh, staf ahli sebanyak 6 orang dan satu Koordinator. Jaksa agung juga dibantu satuan tugas yang terdiri dari unsur-unsur POLRI, Opstib, POM ABRI dan instansi lain untuk penanggulangan, pencegahan dan pemberantasan tindak pidana khusus.

Ismail Saleh berulangkali mengemukakan gagasan untuk melakukan peninjauan kembali terhadap UUPK. Alasannya, poin-poin seperti penempatan kejaksaan sebagai departemen, ketidakselarasan isi UUPK dengan KUHAP, dan perlunya batasan pengertian wewenang jaksa agung dalam menyampingkan perkara (Pasal 8).

Pada masa jabatannya pula, pembangunan gedung bulat di kompleks kejaksaan agung dimulai. Setelah tidak lagi menjabat jaksa agung, Ismail Saleh kembali menyusul Ali Said dengan mengisi jabatan Menteri Kehakiman pada tahun 1984.(*)

Ditulis oleh Prof Djokomoelyo S.H., A.P.U. (Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah dan Mantan Penasihat Jaksa Agung)