Sejarah Panjang Prostitusi Jakarta: Ketika JP Coen Gagal Mengekang Libido Pejabat VOC (Bagian 1)

Jumat, 08 Januari 2021 – 06:05 WIB

Ilustrasi: indearchipel.com

Ilustrasi: indearchipel.com

JP Coen, pendiri Batavia, tak bisa menahan amarah ketika mendengar Sarah, putri angkatnya berkencan dengan salah satu pejabat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di kediamannya. Ia memanggil keduanya, dan menjatuhkan hukuman.

Sarah dicambuk di depan umum, dengan tubuh nyaris telanjang, dan dikirim pulang ke Belanda. Pejabat VOC dihukum pancung.

Tindakan tegas Coen, yang dikenal relijius, adalah pesan tidak boleh ada perzijahan di Batavia -- kota yang didirikan di atas puing-puing sebuah kampung bernama Jayakarta.

Namun Coen tidak berdaya ketika pelacuran terselubung merebak di kotanya, dan mendengar kabar hampir seluruh pejabat dan prajuritnya mendatangi ruah pelacuran.

Yang bisa dilakukan Coen adalah mengeluarkan berbagai larangan dan ancaman hukuman kepada bawahannya. Misal, larangan menikahi wanita pribumi dan mendatangi tempat pelacuran.

Upaya lain Coen adalah berkirim surat ke Heeren XVII pada 11 Mei 1620, meminta para pemegang saham VOC mengirim gadis-gadis Belanda usia antara 10 sampai 14 tahun dari panti asuhan ke Batavia.

Coen berniat merawat perempuan-perempuan itu, yang notabene tidak memiliki siapa-siapa, sampai dewasa dan dinikahkan dengan bawahannya. Ia berjanji akan memperlakukan perempuan-perempuan itu secara baik-baik.

Heeren XVII menolak usul itu dengan berbagai alasan. Pertama, tidak masuk akal mengirim perempuan usia 10 sampai 14 tahun ke Batavia. Perjalanan Amsterdam-Batavia antara sembilan bulan sampai satu tahun.

Yang lebih mengejutkan Coen adalah Heeren XVII lebih suka orang-orang VOC menikahi perempuan lokal, dan menghasilkan masyarakat keturunan. Upaya Coen, yang didorong ketaatan pada agama, musnah.

Pada saat yang sama, tempat-tempat pelacuran menjadi terbuka. Dimulai dengan munculnya Macao Po. Sesuai namanya, pelacur didatangkan dari Macau -- sekeping wilayah jajahan Portugis di Cina.

Coen tahu pejabat-pejabatnya mendatangi tempat itu dan punya gundik perempuan keturunan India-Portugis, gadis Tionghoa dari daratan Cina, atau gadis lokal terseleksi. Ia tidak mungkin menerapkan hukuman seperti yang dilakukan pada Sarah dan Pejabat VOC.

Berkuasa dua kali di Batavia, pertama 1619-1623 dan kedua 1627-1629, Coen tak kuasa mencegah perkembangan Macao Po. Lokasi Macao Po berada di dalam tembok kota, hang membuat penggede VOC dan orang-orang kaya Tionghoa leluasa berdatangan.

Situasi sosial Batavia saat itu sangat tidak memungkinkan bagi Coen untuk menggusur Macao Po. Orang-orang Belanda yang datang ke Batavia tidak membawa istri. Situasi serupa juga dialami orang-orang Tionghoa dan etnis dari luar Nusantara lainnya.

Mucikari Portugis terus mengisi Macao Po dengan pelacur dari berbagai bangsa. Namun yang menjadi daya tarik tempat ini adalah perempuan mestizo, anak-anak hasil perkawinan campur Portugis-India.

Setelah Coen meninggalkan Batavia, gubernur jenderal berikutnya juga tidak melakukan apa-apa terhadap Macao Po. Ketika orang-orang Tionghoa semakin mapan secara ekonomi, berkat industri gula Ommelanden, Macao Po beralih kepemilikan ke tangan saudagar Tionghoa.

Era mestizo perlahan berakhir. Macao Po diisi perempuan-perempuan Tionghoa yang didatangkan dari Amoy, sebuah wilayah di Fukien, Cina. Sejak saat itulah Amoy menjadi kata untuk menyebut perempuan Tionghoa.

Moler, sebutan untuk gadis mestizo, entah ke mana. Kebanyakan kembali ke Macau. Ada pula yang melanjutkan kariernya di wilayah jajahan Portugis lainnya, yaitu Melaka.


Gang Mangga

Batavia terus berkembang sepanjang abad ke-17. VOC menjadi perusahaan dagang multinasional besar, dengan wilayah monopoli rempah-rempan sedemikian besar.

Bersamaan dengan itu Macao Po terus berkembang, dan menjadi lokalisasi pelacuran papan atas. Hanya para kapiten Tionghoa dan petinggi VOC yang bisa datang ke sini dan membayar membayar mahal untuk wanita yang diinginkan.

Di penghujung abad ke-17, muncul kekhawatiran akan kesehatan serdadu VOC yang biasanya menyalurkan libido di tempat pelacuran. Muncul peraturan, Macao Po hanya untuk serdadu VOC dan orang-orang kaya.

Terjadi diskriminasi, yang direspon pengusaha bisnis lender dengan mendirikan lokalisasi pelacuran untuk warga sipil kelas bawah dan pribumi. Lokalisasi itu terletak tak jauh dari Macao Pao, dan bernama Gang Mangga.

Gang Mangga lebih ramai, meski koleksi perempuannya tidak secantik di Macao Po. Jika di Macao Po hanya ada mucikari, di Gang Mangga mucikari mendapatkan perempuan dari desa-desa di Pulau Jawa untuk dijajakan.

Tidak ada yang tahu pasti berapa populasi pelacuran di Gang Mangga. Yang pasti, lokalisasi ini adalah destinasi pelaut-pelaut miskin yang singgah di Sunda Kelapa, dan warga kelas bawah Batavia.

Dari Gang Mangga inilah penduduk Batavia mengenal penyakit sipilis. Warga Batavia saat itu menyebutnya penyakit mangga, atau -- menurut budayawan Ridwan Saidi -- pehong atau penyakit sial.

Dari Gang Mangga inilah sejarah pelacuran Jakarta dimulai.