Kemurkaan Pangeran Diponegoro dan Meletusnya Perang Jawa Gegara Patok Perbaikan Jalan

Jumat, 08 Januari 2021 – 22:34 WIB

Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (Ilustrasi)

Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (Ilustrasi)

JAKARTA, REQnews - Pangeran Harya Dipanegara atau yang dikenal dengan Pangeran Diponegoro, merupakan pemimpin Perang Jawa tahun 1825-1830 untuk melawan pemerintah Hindia Belanda. 

Perang Jawa dikenal sebagai perang dengan korban terbanyak dalam sejarah Indonesia. Sebanyak 8.000 orang serdadu Hindia Belanda, 7.000 pribumi, dan 200 ribu orang Suku Jawa menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Diponegoro muda dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul, rendah hati, dicintai berbagai kalangan, serta dekat dengan para ulama. Karena sejak kecil tinggal di luar Istana, ia sering melihat dan bergaul dengan rakyat.

Sehingga, Pangeran Diponegoro tahu persis bagaimana penderitaan rakyat akibat kezholiman yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda maupun Keraton Kasultanan Yogyakarta. Diponegoro yang dibesarkan dengan adat dan norma Jawa murka, dengan bangsa Belanda yang sering melanggar norma-norma di Jawa.

Tak hanya itu, kebijakan pajak yang mencekik rakyat membuatnya ingin merombak kebijakan keraton agar tidak menzolimi rakyat. Namun, selama ini pihak Keraton lebih tunduk dan menuruti kemauan Belanda.

Perang Jawa bermula ketika pertengahan Mei 1825, Smissaert menggantikan Nahuys sebagai Residen baru Yogyakarta. Ia memutuskan untuk memperbaiki jalan-jalan kecil di sekitar Yogyakarta.

Namun, pembangunan jalan yang awalnya dari Yogyakarta ke Magelang melewati Muntilan dibelokkan melewati pagar sebelah timur Tegalrejo. Tapi di salah satu sisi, patok-patok jalan yang dipasang orang-orang kepatihan melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro.

Saat itu, Patih Danurejo tidak memberitahu keputusan Smissaert sehingga Diponegoro baru mengetahui setelah patok-patok tersebut dipasang. Perseteruan terjadi antara para petani penggarap lahan dengan anak buah Patih Danurejo yang memuncak pada bulan Juli.

Namun patok-patok yang telah dicabut kembali dipasang. Sehingga Pangeran Diponegoro menyuruh menggantinya dengan tombak sebagai pernyataan perang.

Kemudian pada 20 Juli 1825, pihak istana mengutus dua bupati keraton senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo sebelum perang pecah.

Meskipun kediaman Diponegoro jatuh dan dibakar, ia dan para pengikutnya berhasil lolos karena lebih mengenal medan di Tegalrejo. Pangeran beserta keluarga dan pasukannya bergerak ke barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan.

Hingga keesokan harinya, mereka tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Kemudian mereka menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya.

Pangeran menempati goa sebelah barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaannya. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih yang merupakan selir paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.

Penyerangan di Tegalrejo, merupakan awal mula Perang Jawa berlangsung selama lima tahun. Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga golongan priyayi. Mereka menyumbangkan uang dan barang-barang berharga lainnya sebagai dana perang.

Dengan semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati" yang artinya "sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati". Sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengannya.

Bahkan Diponegoro juga berhasil memobilisasi para bandit profesional yang sebelumnya ditakuti oleh penduduk pedesaan, meskipun hal ini menjadi kontroversi tersendiri. Tak hanya itu, perjuangan Diponegoro juga dibantu oleh Kyai Mojo yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.

Kemudian, dalam Perang Jawa ini ia juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan. Menurut Diponegoro dan para pengikutinya, perang ini merupakan perang jihad melawan Belanda dan orang Jawa murtad.

Sebagai seorang muslim yang saleh, Diponegoro merasa tidak senang terhadap religiusitas yang kendur di istana Yogyakarta akibat pengaruh masuknya Belanda. Disamping itu kebijakan-kebijakan pro-Belanda yang dikeluarkan istana juga membuatnya geram.

Infiltrasi pihak Belanda di istana telah membuat Keraton Yogyakarta seperti rumah bordil. Di lain pihak, Smissaert menulis bahwa Pangeran Diponegoro semakin lama semakin hanyut dalam fanatisme dan banyak anggota kerajaan yang menganggapnya kolot dalam beragama.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Mojo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap.

Selanjutnya, Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang.

Saat itulah, Pangeran menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. ia pun ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Atas penghormatan terhadap jasa-jasa Diponegoro, banyak kota besar di Indonesia yang mempunyai nama Jalan Pangeran Diponegoro. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pernah diselenggarakan peringatan 100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro. Kemudian ia ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 6 November 1973 melalui Keppres No 87/TK/1973.