Catatan Kelam 347 Tahun Silam, 2.500 Orang Tewas Akibat Gempa Disertai Tsunami di Ambon

Rabu, 17 Februari 2021 – 22:34 WIB

Ilustrasi gempa disusul tsunami yang terjadi di Ambon pada 17 Februari 1674 silam (Foto: Ilustrasi)

Ilustrasi gempa disusul tsunami yang terjadi di Ambon pada 17 Februari 1674 silam (Foto: Ilustrasi)

MALUKU, REQnews - Gempa bumi dahsyat yang disusul tsunami terjadi di Ambon, Maluku pada 17 Februari 1674 silam. Kini sudah 347 tahun berlalu, namun kejadian tersebut masih tercatat sebagai bencana gempa dan tsunami tertua di Indonesia.

Kejadian tersebut dicatat oleh seorang ilmuwan Eropa bernama Georg Everhard Rumphius. Sebelumnya ia pernah tinggal di Ambon. Kejadian itu pun menewaskan anggota keluarganya.

Rumphius merupakan seorang ahli botani asal Jerman yang bekerja di Vereenigde Oostindische Compagnie di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Ia terkenal akan karyanya Herbarium Amboinense. Julukan untuk ilmuwan ini adalah "ilmuwan buta dari Ambon."

Gempa dan tsunami itu berdampak pada kerusakan rumah warga. Selain itu, menelan korban yang diperkirakan mencapai 2.500 orang meninggal dunia.

Dilansir dari website BNPB, Rabu 17 Februari 2021, kejadian tersebut terjadi pada pukul 19.30-20.00 waktus setempat. Yaitu bertepatan dengan suasana tahun baru Cina atau Imlek, yang berlangsung meriah di sekitar pasar.

Guncangan sangat dahsyat pun melanda seluruh Pulau Ambon dan pulau-pulau di sekitarnya. Saat itu, mengakibatkan 86 orang meninggal dunia akibat tertimpa runtuhan bangunan.

Selain itu, rumah-rumah yang terbuat dari batu mengalami banyak retakan sehingga tidak bisa digunakan lagi.

Setelah terjadi gempa bumi, tiba-tiba gelombang pasang terjadi di seluruh pesisir Pulau Ambon. Karena itu, Pesisir Utara di Semenanjung Hitu menderita kerusakan yang paling parah, terutama di daerah Ceyt di antara Negeri Lima dan Hile.

Kemudian di daerah tersebut, air naik setinggi 40–50 toises atau sekitar 70–90 meter. Rumphius menjadi salah satu saksi bencana besar yang melanda Ambon masa itu.

Korban gempa dan tsunami tercatat diperkirakan mencapai lebih dari 2.500 jiwa, termasuk istri dan anak Rumphius. Catatan sang ilmuwan ini merupakan sebagian dari catatan sejarah gempa dan tsunami terkait bencana rapid onset yang pernah terjadi dan paling mematikan di Maluku serta sekitarnya.