Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Hakim Agung Progresif, Amang Bismar Siregar, Dalam Kenangan

Sabtu, 25 Mei 2019 – 09:30 WIB

Bismar Siregar (Foto : TEMPO)

Bismar Siregar (Foto : TEMPO)

Mantan hakim agung, Bismar Siregar, mangkat pada kamis 19 April 2012 lalu dalam usia 84 tahun. Ia meninggalkan seorang istri, tujuh anak dan sejumlah cucu. Jenasahnya dibaringkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada Jumat 20 April 2012.

"Amang" demikian istri dan tujuh orang anak memanggilnya. Dalam bahasa Batak, "Amang" adalah sapaan hormat untuk kaum pria. Bagi keluarga Bismar, "Amang" juga menjadi sapaan kesayangan. Ia senang dengan sapaan itu.

Amang Bismar mantan jaksa, mantan hakim dan mantan hakum agung. Ia juga dikenal sebagai seorang guru dan teladan para hakim, ustad sekaligus pengkotbah yang inspiratif, seorang penulis yang produktif menulis berbagai artikel hukum untuk media cetak dan menulis buku. Pria kelahiran Sipirok, Sumatra Utara, 15 September 1928 dan lulusan Fakultas Hukum (FH) UI itu, mulanya bekerja di Kejaksaan Negeri (kejari) Palembang, Sumatera Selatan.

Dua tahun di Kota Pempek, Amang pindah ke Kejari Ujung Pandang (kini Makasar) dan Kejari Ambon dan dua tahun setelahnya, Amang ganti profesi, jadi hakim. Begitu menjadi hakim, Amang bertugas di PN Pangkal Pinang. Setelah itu dia bertugas di Pontianak, Bandung, Medan dan Jakarta. Amang jadi hakim agung pada 1984-1995.

Amang itu dikenal memiliki sikap dam sifat yang luhur; lembut, santun, sederhana, murah hati, jujur (lurus), selalu berpikir positif pada orang lain, rendah hati, disiplin, dan tekun berdoa.

Keutamaan-keutamaan karakter personal yang dimiliki Amang ini juga merasuki dirinya dalam melakoni tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang hakim. Profesionalisme dan intergritas, sangat Amang junjung tinggi sebagai seorang hakim. Amang yang berkarakter lembut pada keluarga dan para sahabat, misalnya, justru galak alias tegas dalam menegakkan keadilan.

Alkisah, dua terdakwa kasus narkoba yang memperdagangkan 161 kg ganja kering, diputus 10 bulan penjara di Pengadilan Negeri (PN) Medan, namun begitu banding di PT (Pengadilan Tinggi) Sumatera Utara dan Amang sebagai ketua majelis, serta-merta diputuskan masing-masing 15 dan 10 tahun penjara. Seorang kepala sekolah cabul yang diputus tujuh bulan penjara di PN Medan, di tingkat banding, dia putus 3 tahun penjara.

Namun, tidak semua perkara, diputuskan secara 'kejam.' Toh, ada pula perkara yang diputus lebih ringan atau justru diputus bebas, lantaran misalnya dakwaan sang JPU lemah dan tidak cukup bukti atau justru mungkin ada kekeliruan yang dilakukan hakim di tingkat pengadilan negeri.

Dalam setiap perkara, Amang tak pernah mau ada pihak lain yang intervensi sekalipun itu pimpinan termasuk penguasa orde baru. Piha berperkara, jangan coba-coba menyuap atau "membeli" Amang.

Selama menjadi hakim, kemudian menjadi hakim agung, Amang acap kali melakukan berbagai terobosan hukum. Amang juga tidak mau pasrah manakala belum ada undang-undang yang mengatur suatu perkara yang sedang disidangkan.

Atas nama kebenaran dan keadilan, hakim menurut Amang adalah undang-undang itu sendiri. Meski ada pihak yang mengatakan, Amang itu hakim aneh dan kontroversial, tetapi oleh banyak pakar hukum, termasuk pendekar hukum progresif Indonesia, mendiang Prof. Dr. Satjipto Raharjo, Amang disebutnya sebagai sosok hakim progresif.

Bismar Siregar hidup sederhana. Hingga akhir hayatnya, tak tampak harta-harta seperti sejumlah lahan, sejumlah rumah, sejumlah simpanan (deposito) di bank dan lainnya. Istrinya Yunainen F. Damanik mengakui hal tersebut dan menyebutkan bahwa selama 58 tahun hidup bersama,keluarganya hanya hidup dari pendapatan Bismar sebagai hakim.

Sederhana dan Antisuap

Bukan hanya istri dan keluarganya yang mengakui Amang sebagai sosok nan sederhana, tetapi keluarga besar, para sahabat termasuk kolega sesama hakim seperti mantan hakim agung Benjamin Mangkoedilaga (kini Almarhum) juga mengakuinya.

“Saya kenal beliau dan saya pernah menjadi anak buahnya. Selan pintar, cerdas, profesional, Pak Bismar itu lurus dan jujur. Hidupnya juga sederhana. Orang semua tahu kalau dia tidak pernah mau disuap. Percuma kalau kalian yang berperkara datang ke beliau untuk minta keringanan atau dibebaskan lalu kasi dia suap. Dia pasti tolak mentah-mentah,” kenang Benjamin.

“Saya kenal beliau dan saya pernah menjadi anak buahnya. Selan pintar, cerdas, profesional, Pak Bismar itu lurus dan jujur. Hidupnya juga sederhana. Orang semua tahu kalau dia tidak pernah mau disuap. Percuma kalau kalian yang berperkara datang ke beliau untuk minta keringanan atau dibebaskan lalu kasi dia suap. Dia pasti tolak mentah-mentah,” kenang Benjamin.

Tanah rumah yang ditinggali Amang hingga akhir hayatnya, yang terletak di belakangan Cilandak Town Square (Citos) Jakarta Selatan misalnya, dibeli pada tahun 1970-an pada saat daerah itu masih jadi hutan.

"Tanah ini kami beli dulu dengan harga sekitar Rp 150 ribu, itu harga tahun 70-an, luasnya 4000 meter persegi dan waktu itu di sini masih hutan banget. Sekarang? Ramainya kayak apa coba," kenang Yunainen dengan mata berkaca-kaca.

Amelia, seorang putri Bismar memuji Yunainen dengan mengatakan, "Saya juga boleh bilang, ibu kami hebat. Bapak kami yang luar biasa seperti itu tidak terlepas dari kehebatan ibu. Sebagai contoh saja, di atas tanah yang luasnya 4000 meter ini, ibu bangun 2 rumah lalu disewakan. Pernah disewa orang bule. Karena itu kita jadi punya uang tambahan penghasilan dan Bapak serahkan sepenuhnya kepada ibu."

Yunainen dan dua putri kembar Bismar-Yunainen, yakni, Amelia-Anita juga mengenang Amang selalu membawa bekal makanan dari rumah ke kantor. Ia tak pernah mau menerima ajakan makan di restoran atau luar rumah oleh siapa pun. Bismar hanya mau makan di restoran bersama istri dan anak-anaknya. Ia juga tidak pernah suka menikmati maknaan cepat saji atau makanan luar negeri.

"Memang sesekali Amang makan pizza atau makanan cepat saji lainnya. Tapi ia tidak pernah betul-betul menikmatinya karena dia lebih menikmati makanan rumahan yang tradisional," papar Yunainen.

Amang yang hobi dan pandai melukis juga dikenal sebagai pribadi yang hangat dan lembut. Ia nyaris tidak pernah marah.

"Amang sangat lembut dan kalau berbicara, hampir tidak pernah marah. Kalau marah beliau hanya diam," ungkap Anita dengan semangat seraya menambahkan, "Tetapi kalau dia sudah diam maka kami semua sudah paham, berarti Amang lagi marah."

Amang memiliki kebiasaan selalu berdoa setiap hendak memutuskan perkara. Ia khusuk melakukan sholat tahajud. Baginya, berdoa sangat membantunya untuk membuat pertimbangan yang matang, obyektif, adil, bijaksana.

Satu ketika Amelia bertanya pada Amang tentang putusan-putusannya yang selalu disebut progresif dan selalu mempertimbangkan keadilan. Jawaban Amang sebagai berikut;

"Saya selalu harus memutuskan perkara yang adil dan benar karena nanti saya akan menghadapi hakim yang Mahahakim. Saya harus pertanggungjawabkan semuanya kepada Allah SWT."

Amang adalah teladan kita semua. Ia telah mewariskan nilai-nilai luhur sebagaimana yang dipaparkan di atas. Karena itu, wajib hukumnya, para penegak hukum, ya terutama hakim, untuk ejawantahkan semua nilai yang diwariskan Amang.Rest in Peace Amang!(*/Bos)