Ngeri! Letnan Sanurip Ngamuk, Tembaki Perwira ABRI di Bandara Timika

Jumat, 16 April 2021 – 09:30 WIB

Danjen Kopassus, Brigjen TNI Prabowo Subianto dan Kasum ABRI Letjen TNI Soeyono, sesaat sebelum menyambut para sandera di landasan udara Halim Perdanakusuma. (Repro Soeyono, Bukan Puntung Rokok).

Danjen Kopassus, Brigjen TNI Prabowo Subianto dan Kasum ABRI Letjen TNI Soeyono, sesaat sebelum menyambut para sandera di landasan udara Halim Perdanakusuma. (Repro Soeyono, Bukan Puntung Rokok).

TIMIKA, REQnews - Tepat 25 tahun lalu, insiden penembakan terjadi di Bandara Timika, Papua atau yang dikenal dengan nama Bandara Mozes Kilangin. Penembakan itu dilakukan oleh seorang anggota Kopassus, Letnan Sanurip (36) pada 15 April 1996 sekitar pukul 05.00 waktu setempat. 

Brigadir Jenderal Amir Syarifudin, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan ABRI bercerita bahwa Letnan Sanurip bangun pagi hari di dalam hanggar. Karena berisik, dia ditegur oleh rekannya.

Tak terima ditegur, ia kemudian langsung memberondong rekan-rekannya dengan senapan yang dibawanya. “Setelah menembaki rekan-rekanya, dia berlari keluar dari hanggar dan menembaki siapa saja yang ada di situ,” ujar Amir, dikutip Kompas cetak 16 April 1996.

Insiden penembakan tersebut menewaskan 16 orang dan melukai 11 orang. Yaitu tiga Perwira Kopassus, 8 perwira ABRI dan 5 warga sipil, salah satunya pilot Airfast Michael Findlay dari Selandia Baru.

Pihak ABRI mengindikasikan jika Letnan Sanurip melakukan aksi koboi itu karena mengalami gangguan kejiwaan akibat malaria yang merusak sistem saraf.

Tetapi, keterangan berbeda dikemukakan mantan Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI, Letnan Jenderal Soeyono. Menurutnya, Letnan Sanurip adalah penembak jitu dan pelatih tembak tempur yang diterjunkan di daerah operasi untuk membantu pembebasan sandera oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Sebelumnya, OPM menyandera selama 130 hari Tim Lorentz 95 yang terdiri dari sebelas peneliti dari Indonesia dan Inggris, serta dua orang dari WWF (World Wildlife Fund) dan seorang dari Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

“Karena stres dan kecewa tidak diikutkan dalam beberapa gerakan operasi, pada suatu subuh dia nekat menembaki siapa saja yang dilihatnya di kawasan landasan lapangan terbang Timika," ujar Soeyono dalam biografinya, Bukan Puntung Rokok, karya Benny S. Butarbutar.

"Sekitar lima belas orang menjadi korban penembak jitu pelatih tembak tempur itu. Yang menjadi korban antara lain Komandan Satgas, yakni seorang pewira menengah Kopassus yang sedang naik daun,” sambungnya. 

Sanurip kemudian ditangkap dan dibawa ke Jakarta untuk diperiksa. Nemun, diduga Kopassus terkesan menutupi kasus tersebut, sehingga tim dari Pusat Polisi Militer (Puspom) ABRI, tidak bisa leluasa memeriksa Sanurip. 

Komandan Puspom ABRI, Mayor Jenderal Syamsu Djalal, kemudian melapor ke Kasum ABRI, Soeyono. Setelah diperintahkan langsung oleh Soeyono, Kopassus akan menyerahkan Sanurip ke Puspom.

Tetapi, Syamsu Djalal dan tim tetap mendapat hambatan dalam melakukan pemeriksaan terhadap Sanurip. Mereka dilarang masuk ke Ksatrian Kopasus untuk memeriksa Sanurip.

“Nampaknya Prabowo khawatir Sanurip akan mengungkapkan hal-hal yang dapat membuka aibnya,” ujar Syamsu dalam biografi Soeyono.

Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Brigadir Jenderal Prabowo Subianto pun mengambil kesimpulan bahwa Sanurip dicurigai karena berasal dari lingkungan tidak bersih, atau berhubungan dengan Orde Lama yang erat kaitannya dengan komunis. 

“Sanurip merupakan personel yang keadaan mental ideologinya harus dicurigai karena berasal dari keluarga yang tidak bersih lingkungan," ujar Prabowo. 

Namun, Soeyono tidak bisa mengikuti kelanjutan penyelidikan kasus Sanurip karena dinonaktifkan dari dinas. “Yang saya dengar berikutnya adalah Sanurip mengalami keadaan yang mengenaskan karena bunuh diri di selnya,” ujarnya. 

Selanjutnya, Sanurip dihukum mati pada 23 April 1997. Namun, Soeyono mendapat kabar, jika Sanurip mati bunuh diri.