Menegangkan! Detik-detik Pasukan Kopassus Sikat Habis Pembajakan Pesawat

Sabtu, 17 April 2021 – 11:32 WIB

Detik-detik pembebasan penyanderaan pesawat Garuda Indonesia pada 1981 (Foto: Istimewa)

Detik-detik pembebasan penyanderaan pesawat Garuda Indonesia pada 1981 (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-69 pada Jumat 16 April 2021. Dalam sejarahnya Kopassus tak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Hampir tujuh dekade keberadaannya, Kopassus senantiasa mampu menjalankan misi yang diberikan dengan motto "Berani, Benar, Berhasil."

Anggota Korps Baret Merah pernah dihadapkan dalam sejumlah pertempuran dan misi berbahaya. Tanpa ragu mengorbankan nyawa demi tegaknya kedaulatan negara.

Seperti aksi penyelamatan sandera korban pembajakan pesawat Garuda di Bangkok, Thailand pada 28 Maret 1981.Kala itu, pesawat DC 9 milik Garuda Indonesia yang dikenal dengan sebutan "Woyla" rute penerbangan Jakarta-Medan, dibajak oleh kelompok Komando Jihad.

Kopassus pun kemudian bergerak melakukan aksi heroik yang fenomenal, yaitu dengan menggagalkan dan menyelamatkan sandera pembajakan Garuda di Bangkok. Pembajakan Woyla tersebut menjadi satu-satunya aksi terorisme dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.

Dihimpun dari berbagai sumber, pesawat itu dibajak di udara antara Palembang-Medan sekitar pukul 10.10 WIB.

Sebelumnya, pesawat tersebut sempat transit di bandara Talangbetutu, Palembang sebelum lepas landas menuju Bandara Polonia, Medan. Namun, pesawat dibelokkan ke arah bandara internasional Penang, Malaysia. 

Tak ada yang tahu, siapa yang membajak pesawat dengan nomor penerbangan 206 saat itu. Tetapi, Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) mengungkap, pembajak itu bisa berbahasa Indonesia.

"Pesawat dibajak oleh enam orang yang dapat berbahasa Indonesia. Mereka bersenjatakan pistol dan beberapa buah granat," ujar Menteri Pertahanan dan Keamanan Muhammad Jusuf kala itu.

Dephankam kemudian menginstruksikan Wakil Panglima ABRI Laksamana Sudomo untuk menangani pembajakan pesawat itu. Kemudian diketahui pembajakan tersebut dilakukan oleh lima orang. 

Mereka menuntut agar 80 orang tahanan yang terlibat dalam penyerangan Kosekta 8606 Pasir Kaliki di Bandung pada 11 Maret 1981 dibebaskan. Kemudian, mereka meminta tebusan uang sebesar 1,5 juta dollar AS.

Pesawat yang membawa 48 penumpang dan 5 awak tersebut, pada pukul 11.20 WIB tiba di Penang. Awak pun meminta pengisian bahan bakar,  tanpa memberi tahu tujuan berikutnya.

Namun, pembajak hanya menurunkan seorang penumpang berusia 76 tahun bernama Hulda Panjaitan. Pesawat yang tidak dilengkapi peta rute penerbangan internasional ini kemudian diterbangkan ke Bangkok, Thailand, setelah permintaan pembajak terpenuhi.

Pada Selasa 31 Maret 1981 dini hari, pembajakan pesawat ini menjadi semakin menegangkan. Operasi pembebasan pun dilaksanakan di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand.

Operasi dilakukan setelah Pemerintah Thailand mengizinkan pasukan komando Indonesia bergerak dan hanya berlangsung selama tiga menit saja.

Kemudian, pada Senin malam pukul 21.00 waktu setempat, sebuah mobil katering mendekat usai mendapat kode lampu dari pesawat.  Itu merupakan sinyal dari pembajak agar permintaan mereka seperti makanan dan bahan bakar terpenuhi.

Saat mobil katering mengantar makanan, suasana di sekitar pesawat menjadi sunyi lagi. Pada Selasa, sekitar pukul 02.30 waktu setempat, ada gerakan di semak-semak sekitar 400 meter dari pesawat.

Mereka adalah Para Komando dari Komando Pasukan Sandi Yudha (Koppasandha) sekarang bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pimpinan Letkol Infanteri Sintong Panjaitan.

Mereka lalu bergerak mengendap dan teratur dalam formasi dua baris mendekati pesawat dengan membawa tiga tangga. Dua tangga dilekatkan di masing-masing sayap dan satu tangga di bagian belakang pesawat.

Mereka kemudian bergerak masuk ke pesawat dari pintu darurat dekat sayap dan bagian belakang di bawah badan pesawat. "Tiba-tiba terdengarlah tembakan-tembakan, mungkin dalam waktu dua detik," kata Henk Siesen, warga negara Belanda di dalam pesawat.

"Komando itu berteriak 'Semua penumpang tiarap.' Dan berjatuhanlah sosok-sosok tubuh campur baru berusaha untuk tiarap ke lantai," katanya. Penumpang yang tiarap berusaha dikeluarkan satu per satu lewat pintu depan.

Akan tetapi, upaya penyelamatan itu tak mudah, karena ada seorang pembajak yang ikut tiarap bersama para penumpang. Ia membawa granat dan kemudian ia lempar setelah pinnya ditarik.

Beruntung, granat itu tidak meledak dan diamankan pasukan komando. Pembajak yang melempar granat itu pun ditembak mati saat berusaha melarikan diri lewat pintu depan.

Ada pula seorang pembajak yang disebut bernama Fahrizal, yang melepas tembakan ke arah pasukan komando, namun berhasil didesak oleh pasukan komando, sehingga pembajak tersebut bunuh diri dengan menembak keningnya.

Dua pembajak lainnya juga berupaya kabur, namun mereka ditembak mati. Keterangan resmi pemerintah mengungkap semua nama pembajak yang tewas dan diketahui bahwa pimpinan pembajak bernama Imran bin Mubammad Zein. Ia kemudian ditangkap dan dihukum mati pada 28 Maret 1983.

Selang beberapa hari, pilot bernama Kapten Herman Rante dan anggota Koppasandha bernama Achmad Kirang menjadi korban tewas dalam operasi tersebut. Keduanya menderita luka tembak, dan gagal diselamatkan meski sudah dibawa ke rumah sakit.

Operasi pembebasan itu membuat pesawat Woyla dilubangi sejumlah peluru. Pesawat itu diperbaiki di Thailand dan kemudian dibawa ke Indonesia. Lewat operasi itu, 36 orang yang berada 4 hari di pesawat, setelah beberapa penumpang lain dilepaskan pembajak, berhasil diselamatkan.

Keberhasilan operasi ini tak hanya melambungkan perjalanan karier Sintong Pandjaitan selaku pimpinan lapangan, melainkan juga Letjen LB Moerdani yang saat itu merupakan Kepala Pusat Intelijen Strategis.

Kini, reputasi Koppasandha diakui dan dikenal dengan nama Kopassus yang tercatat sebagai salah satu satuan elite terbaik di dunia.