Polemik Pembelian 39 Kapal Bekas Jerman, Biaya Membengkak Hingga Disapu Badai Laut Spanyol

Selasa, 27 April 2021 – 08:32 WIB

Kapal perang bekas Jerman Timur (Foto: Istimewa)

Kapal perang bekas Jerman Timur (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sekitar tahun 90-an, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto saat BJ Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Indonesia pernah membeli 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur.

Dengan modal nekat, pemerintah memborong kapal-kapal tersebut dengan cara berhutang. Biaya yang dikeluarkan pun tak tanggung-tanggung yakni sekitar 482 juta dolar AS. 

Kapal-kapal tersebut terdiri dari 16 kapal jenis Parchim Corvette, 14 kapal jenis Frosch Troop Landing Ship Tanks (LSTs), dan 9 kapal jenis Condor Penyapu Ranjau. Pembelian tersebut terkesan dipaksakan, ditengah kas negara yang 'amburadul' kala itu.

Bahkan sebelum kapal tersebut berlabuh di Tanah Air, dikabarkan sempat terjadi tarik ulur antara BJ Habibie dengan Mar'ie Muhammad, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Jika Habibie nafsu untuk memboyong kapal-kapal tersebut maka Mar'ie sebaliknya, enggan membeli kapal tersebut. Karena, harga yang dipatok Menristek berbeda dengan perhitungan Menteri Keuangan.

Dikutip dari Majalah Tempo pada 26 April 2021, tercatat bahwa dalam budget yang disodorkan oleh Menristek senilai 482 juta dolar AS. Namun, hanya disanggupi oleh Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad sebesar 319 juta dolar AS.

Sebelum itu, utamanya besaran harga kapal bekas tersebut berkisar12,7 juta dolar AS, namun Habibie kala itu membuat perkiraan harga menjadi 1,1 miliar dolar AS. Tentu, biaya tersebut membuat sejumlah pihak mempertanyakan darimana ditentukannya kisaran biaya itu.

Menurutnya, kapal-kapal yang sudah tak melaut selama tiga tahun itu, perlu diservice dan direnovasi terlebih dahulu. Karena harus disesuaikan dengan kondisi saat itu, agar bisa berlayar kembali.

Awalnya, Tim Pengadaan Kapal (TPK) TNI AL menyodorkan biaya sebesar 12,7 juta dolar AS untuk pembelian kapal. Namun, biaya perkiraan setelah dilakukan renovasi dan service, biaya membengkak menjadi 733 juta dolar AS. 

Setelah itu, Wakil Ketua TPK TNI AL, Laksda TNI (Purn.) Aboe menyampaikan hasil kalkulasi terbaru yaitu mencapai 345 juta dolar AS. Dengan rincian, satu kapal Parchim Corvette 11,95 juta dolar AS, satu Frosch Troop Landing Ship Tanks (LSTs) 11,7 juta dolar AS dan satu Condor Penyapu Ranjau senilai 4 juta dolar AS. 

Kemudian jika ditambahkan dengan repowering mesin pokok menjadi 63 juta dolar AS, perbaikan di PT PAL 64 juta dolar AS. Sementara perbaikan pangkalan terutama untuk amunisi 10 juta dolar AS, yang jika ditotalkan menjadi 482 juta dolar AS.

Tetapi, menteri keuangan saat itu-- Mar'ie Muhammad-- tak bisa menyanggupi total biaya tersebut. Karena, anggaran yang disiapkan hanya 319 juta dolar AS saja. Untuk itu, TPK TNI AL harus merancang anggaran ulang agar sesuai dengan jumlah yang disanggupi kementerian.

Pada proposal yang diajukan kedua kalinya, TPK tetap mengajukan biaya sebesar 482 juta dolar AS. Itu dilakukan untuk biaya modifikasi, keandalan penginderaan, senjata, dan komando pengendalian.

Itu pun menjadi pertanyaan, karena harga masing-masig kapal naik drastis. TPK pun berdalih mengatakan bahwa biaya tersebut sudah termasuk reparasi dan perlengkapan senjata.

Proposal tersebut akhirnya kandas juga di tangan Mar'ie, karena ia memangkas beberapa biaya dalam pembelian kapal tersebut. Seperti biaya adminlog dan penyeberangan yang diturunkan sekitar 19 juta dolar AS,serta biaya konservasi/penyiapan di PT PAL dipangkas sebesar 54,5 juta dolar AS lebih.

Ia pun tak segan-segan untuk menolak usul pembelian 18 mesin Parchim dengan nilai 63,7 juta dolar AS. Jadi total biaya yang bisa dipangkas oleh Mar'ie sebesar Rp 327 miliar.

Niat ingin membeli kapal dengan harga murah namun kualitas bagus, justru menjadi beban tersendiri. Salah satu yang keberatan yaitu Departemen Keuangan, saat itu mereka mempertimbangkan pembelian kapal bekas dari Jerman Timur. 

Kapal yang hanya dihargai 12 juta dolar AS, ternyata tak bisa dibilang murah karena biaya yang dikeluarkan untuk reparasi, modifikasi, dan peralatan lainnya nilainya membengkak. 

Belum tuntas pembahasan pembelian kapal perang tersebut, KRI Teluk Lampung yang merupakan salah satu dari 39 kapal yang dibeli, dihantam oleh badai di perairan Spanyol dan nyaris tenggelam.

Banyak pihak yang mempertanyakan, mengapa baru dihantam badai saja sudah loyo? Ada yang berspekulasi, bahwa kasus pembelian 39 kapal bekas tersebut bisa menjadi pengalaman.

Awalnya ingin membeli kapal dengan harga murah. Namun, jika dihitung dengan biaya penyelamatan KRI Teluk Lampung yang hampir tenggelam, ujung-ujungnya mahal juga.