Greg Louganis dan Kisah Para Legenda Olimpiade yang Jual Medali untuk Hidup

Minggu, 01 Agustus 2021 – 08:09 WIB

Foto: hollywoodreporter.com

Foto: hollywoodreporter.com

Los Angeles, REQNews.com -- Di Tokyo, ribuan atlet berebut 339 medali emas seluruh cabang olahraga untuk menandai kerja kerasnya. Di AS, peloncat indah legendaris Greg Louganis nyaaris menjual emas Olimpiade akibat jatuh miskin.

Louganis merebut dua medali emas Olimpiade Los Angeles 1984, dan mengulangi prestasinya empat tahun kemudian di Olimpiade Seoul. Ia menjadi peloncat indah terbesar dalam sejarah.

Dalam esai yang ditulisnya di Vox, situs berita AS yang dikelola Vox Media, Louganis menulis; "Tahun-tahun setelah kesuksesan itu adalah 'kesengsaraan finansial."

Tanpa menyebut tahun kejadian, Louganis bercerita bagaimana ia tiba-tiba berstatus 'homeless' atau tuna wisma, setelah rumah satu-satunya di Malibu disita bank. Tahun 2012 segalanya menjadi mengerikan setelah dia menghubungi Inggris O'Neil.

O'Neil mengelola rumah lelang di Corona del Mar, California, yang mengkhususkan diri menjual memorabilia Olimpiade; medali, sertifikat, dan peralatan olahraga yang digunakan sang juara untuk merebut medali.

Mitra Louganis menelepon O'Neil dan menjelaskan sang legenda loncat indah ingin menjual medali. "Dia menginginkan 100 ribu dolar AS, atau Rp 1,4 miliar, untuk setiap medali," kata rekan Louganis itu.

O'Neil menjawab; "Saya tidak berpikir bisa menjual dengan harga setinggi itu, tapi saya harus katakan untuk saat itu bisa saja medali itu terjual dengan harga 100 ribu dolar AS."

Louganis tak jadi menjual emas itu. Ia relatif beruntung karena pihak bank, yang menyita rumahnya, meminta Louganis menjual rumah itu dan berhasil. Nama besar Louganis yang melekat di rumah itu membuat harga jual cukup tinggi.

Ia mendapat beberapa ratus ribu dolar, setelah bank memangkas hasil penjualan untuk melunasi utang sang legenda. Dalam kesengsaraan, Louganis menjadi atlet beruntung mampu menyelamatkan medali emas Olimpiade.

Belasan atlet lainnya tidak seberuntung Louganis. Mark Wells dan Mark Pavelic, bagian dari tim hoki legendaris AS yang mengalahkan Uni Soviet di Olimpiade Musim Dingin 1980, lebih sengsara lagi.

Sukses di Olimpiade tidak membuatnya keduanya bersinar di liga domestik. Wells berpindah dari satu ke lain klub kecil sampai akhirnya memutuskan pensiun pada usia 25 tahun.

Ia menjadi manajer restoran di Michigan, kampung halamannya. Saat membongkar peti, Wells terluka dan harus menjalani operasi sebelas jam.

Saat operasi itulah dokter mengetahu Wells memiliki penyakit tulang belakang degeneratif langka. Ia menjalani hari-hari yang panjang di tempat tidur, tanpa uang untuk hidup, dan terpaksa menjual medali emasnya ke kolektor pribadi dengan harga 40 ribu dolar AS, atau Rp 433 juta.

Wells menjadi sangat terhina ketika kolektor melelang medali emasnya, dan terjual dengan harga 310 ribu dolar AS, atau Rp 4,5 miliar.

"Jika saya tak menjual medali itu, saya kehilangan rumah saya," kenang Wells.

Kisah Pavelich, rekan setimnya, lebih menyedihkan. Ia dikabarkan menjadi gelandangan, setelah uang hasil penjualan medalinya habis untuk membayar utang.

Nasib serupa dialami Vin Baker, mantan anggota tim basket AS di Olimpiade Sydney 2000, Walter Davis (Olimpiade Montreal 1976), dan Jerry Lucas (Olimpiade Roma 1960). Ketiganya menjual medali emas setelah pensiun dan tak punya pekerjaan.

Beberapa medali emas yang dijual adalah ikonik. Salah satunya medali emas lari 200 meter putra Olimpiade Maxico City yang dimenangkan Tommie Smith.

Smith meraih medali emas ini dengan melampaui rekor dunia. Ketika Smith terlibat dalam program membantu anak-anak miskin, ia berniat menjual medali itu. Namun, tidak ada kolektor yang berani membeli dengan harga antara 250 ribu sampai 500 ribu dolar, meski medali emas itu adalah simbol sejarah.

Semua kisah di atas adalah gambaran sederhana betapa sukses, dan mencapai puncak karier olahraga, tidak menjamin seseorang bisa menjalani hidup dengan keamanan finansial sampai tua.