Mikhail Gorbachev dan 30 Tahun Keruntuhan Uni Soviet

Kamis, 05 Agustus 2021 – 00:59 WIB

Foto: Russia Today

Foto: Russia Today

Moskwa, REQNews.com -- Tahun ini, entah siapa yang akan memperingati, dunia akan mengenang 30 tahun keruntuhan Uni Soviet. Mikhail Gorbachev, pemimpin terakhir imperium komunis itu, menulis artikel menarik di Russia in Global Affairs.

"Bukan perestroika yang menghancurkan Uni Soviet," tulis Gorbachev. "Tapi percobaan kudeta pada 19 Agustus 1991."

Gorbachev memimpin Uni Soviet dari tahun 1985, menggantikan Konstantine Chernenko, sampai Desember 1991 -- atau ketika Uni Soviet secara resmi dinyatakan bubar.

Ia dipandang sebagai tokoh terpenting abadke-10, menikmati reputasi positif di luar negeri tapi tidak di Rusia saat ini. Banyak orang menyalahkannya atas krisis eonomi pasca-Uni Soviet, yang menyebabkan penurunan dramatis standar hidup, status Moskwa di panggung dunia.

Banyak orang menyalahkan perestroika, kata dalam bahasa Rusia yang berarti reformasi politik, melulu dituding sebagi faktor penyumbang signifikan keruntukan Uni Soviet. Mikhail Gorbachev, sang pelaku sejarah, punya pandangan lain,

Perestroika, menurut Gorbachev, secara historis menang dan diperlukan untuk Uni Soviet. Perestroika merupakan upaya merestrukturisasi sistem eonomi dan mengakhiri stagnasi.

Sebagai bagian kebijakan, Gorbachev memperkenalkan reformasi pasar ke dalam sistem sosialis. Yang terjadi adalah kekurangan pangan dan ketegangan politik.

"Mereka lupa atau tidak ingin mengingat seperti apa situasi moral dan psikologis dalam masyarakat Soviet tahun1985," tulis Gorbachev. "Orang-orang menuntut perubahan. Semuanya, pemimpin maupun warga biasa merasa ada yang tak beres dengan negara."

Uni Soviet saat itu, masih menurut Gorbachev, tenggelam dalam stagnasi. Pertumbuhan ekonomi nyaris terhenti.

Menurut Gorbachev, penyebab sebenarnya keruntuhan Uni Soviet adalah pembangkangan di dalam jajaran partai. "Dua pukulan bagi perestroika sangat fatal," tulisnya.

Pertama, demikian Gorbachev, percobaan kudeta yang diorganisir kekuatan reaksioner, termasuk kelompoknya, pada Agustus 1991. Kedua, kolusi pemimpin Rusia, Ukraina, dan Belarusia pada Desember 1991, mengakhiri sejarah Uni Soviet.

Gorbachev masih belum lupa bagaimana sejumlah perwira dan orang-orang partai membawanya ke istana musim dingin Almaty, dan dibiarkan sendiri di dalam kamar tenpa alat komunikasi. Itu berlangsung selama dua hari.

Kudeta itu gagal. Gerakan perlawanan di Moskwa membawa kembali Gorbachev ke kursi pemimpin Uni Soviet.

Khusus kolusi Desember 1991, Gorbachev secara khusus menunjuk Boris Yeltsin. Saat itu, Yeltsin adalah pemimpin Republik Sosialis Federal Soviet Rusia yang berjanji satu serikat akan bertahan.

"Yeltsin ingkar janji," kenang Gorbachev. "Ia berkumpul bersama pemimpin Ukraina dan Belarusia, lalu memutuskan menghancurkan Uni Soviet."

Yeltsin, masih menurut Gorbachev, mengorbankan Uni Soviet untuk ambisinya memerintah di Kremlin.