Kesaksian Wartawan Perang Jim Laurie tentang Saigon, Kabul, dan Tentara Hantu

Selasa, 24 Agustus 2021 – 16:24 WIB

Foto: military.com

Foto: military.com

Washington, REQNews --Jim Laurie, wartawan perang yang meliput Saigon 1975, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat di Kabul, ibu kota Afghanistan, dalam beberapa hari terakhir.

Ia menyebut situasi Kabul dalam sepekan terakhir memperlihatkan betapa AS benar-benar tidak siap dengan skenario kalah perang, yang membuat banyak orang Afghanistan layak pergi harus tertinggal.

Ekstraksi terus-menerus terhadap warga asing dan penduduk lokal, yang dulu bekerja untuk pasukan pendudukan, memiliki kemiripan mencolok dengan kegagalan militer AS di Vietnam Selatan.

"Saya menyaksikan evakuasi dan jatuhnya Saigon tahun 1975 dari Kamboja," kata Laurie kepada Russia Today. "Akhir yang panik dari perang ini memiliki banyak kesamaan."

Menurut Laurie, tidak mudah bagi AS untuk kalah dalam perang yang dikobarkan selama 20 tahun. Kini, AS mengalami kekalahan kedua di medan tempur terpanjang dalam 50 tahun terakhir.


Lebih Terorganisir

Evakuasi Saigon 1975 lebih terorganisir, karena dimulai sebelum ibu kota Vietnam jatuh. Di Afghanistan, evakuasi dimulai ketika lawan hanya berjarak 50 kilometer dari Kabul dan memasuki kota tanpa perlawanan.

Ini menunjukan birokrasi AS ternyata tumbuh semakin kaku dan 'lebih rumit' dibanding tahun 1975.

Faktor lain, menurut Laurie, ada banyak waktu luang bagi warga AS dan orang-orang yang bekerja dengan pasukan pendudukan untuk lari karena tentara Vietnam Selatan melakukan perlawanan.

"Di Vietnam, pasukan Vietnam Selatan melakukan perlawanan selama 55 hari," kenang Laurie. "Dalam beberapa kasus, Vietnam Selatan mampu memukul mundur VietCong dan Vietnam Utara."

Jadi, masih menurut Laurie, ada banyak waktu bagi AS untuk mengevakusi warga dan orang-orang setia-nya ke luar Vietnam. Drama evakuasi di atap Kedubes AS di Saigon tidak bisa dihindarkan karena pasukan Vietnam Selatan terpukul hebat, dan Vietnam Utara bergerak cepat ke Saigon.

Posisi Vietnam Selatan lebih menguntungkan karena berbatasan dengan laut. Afghanistan terkurung gunung, yang mempersulit evakuasi lewat udara..


Tentara Hantu

Penyebab pasti keruntuhan moral pasukan Afghanistan masih menjadi spekulasi. Bagaimana mungkin pasukan terlatih menolak bertempur dan menyerahkan senjata kepada lawan.

Laurie percaya pasukan Afghanistan terjangkit penyakit sama seperti semua pasukan yang didukung AS, yaitu pada struktur komando. Tidak ada yang salah dengan prajurit, yang keliru adalah Afghanistan tidak memiliki figur komandan yang baik, kuat, dan berdedikasi tinggi.

"Tidak ada komandan yang memiliki pengikut setia di Afghanistan," kata Laurie. "Lainnya, mungkin ini yang terpenting, adalah korupsi di semua lapis birokrasi militer."

Laurie juga menyebut adanya laporan tentang tentara hantu, atau sekelompok orang bersenjata yang hanya ada di atas kertas. Tentara hantu terdapat di Kamboja dan kini di Afghanistan.

"Saya membaca tentang tentara hantu di Afghanistan. Ada sejumlah nama tentara Afghanistan yang sebenarnya tidak pernah ada," kata Laurie.

Di Kamboja, kata Laurie, ada daftar ribuan personel tentara. Padahal, nama-nama itu tidak pernah ada. Nama-nama itu mendapat gaji, tapi kepada siapa pemerintah Kamboja membayarnya, tidak ada yang tahu.

Tentara Hantu di Kamboja muncul saat negeri itu diperintah Lon Nol, jenderal pro-AS yang berkuasa antara 1975-1979. Lon Nol terguling dan lari ke Hawaii setelah Khmer Merah memasuki Phnom Penh.

Analisis post factum tentang kegagalan AS di Afghanistan adalah Washington memulai pembangunan bangsa di negara yang dilanda perang dengan polannya sendiri. "Itu pekerjaan yang hampir mustahil," kata Laurie.

Misi di Afghanistan, menurut Laurie, seharusnya berakhir setelah Osama bin Laden terbunuh. Bukankah kehadiran AS di negara itu hanya untuk mencari Bin Laden.

Sayangnya, setiap kali AS terlibat dalam perang di negara asing, Washington cenderung ingin membangun kembali sebuah bangsa seperti model ideal AS.

"Inilah yang membuat AS harus mengeluarkan banyak uang, dan akhirnya kalah," Laurie mengakhiri.