Sejarah Berdirinya Polwan dan Mengenal Sosok Romiah, Polwan Pertama yang Jadi Kapolda

Rabu, 01 September 2021 – 15:45 WIB

Polisi Wanita/ Polwan (Foto: Istimewa)

Polisi Wanita/ Polwan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Banyak yang penasaran sejarah hari polisi wanita (Polwan) dan siapa ya kira-kira polwan pertama yang jadi kepala polisi daerah (Kapolda)?

Tepat 1 September 1948 lalu ditetapkan menjadi hari Polwan. Hari ini 1 September 2021, Polwan sudah menginjak usia 72 tahun mari kita mengingat kembali sejarah singkat awal mula Hari Polwan diperingati.

Kala itu, polisi sempat kesulitan saat akan memeriksa korban, tersangka ataupun saksi wanita. Kemudian, polisi meminta bantuan dari istri atau pegawai sipil wanita guna memeriksa fisik korban.

Organisasi wanita dan organisasi wanita Islam di Bukittinggi pun memberi saran kepada pemerintah. Organisasi tersebut berharap wanita bisa dilibatkan dalam pendidikan kepolisian. Dari sini lah awal mula Hari Polwan yang sampai saat ini masih terus diperingati.


Saat itu, Cabang Djawatan Kepolisian wilayah Sumatera yang ada di Bukittinggi, langsung memberi pendidikan kepada enam wanita pilihan. Keenam wanita itu adalah Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmaniar dan Rosnalia Taher.

Mereka secara resmi mengikuti pendidikan pada 1 September 1948 bersama siswa laki-laki di SPN Bukittinggi. Oleh sebab itu, 1 September ditetapkan sebagai Hari Polwan atau hari lahirnya polisi wanita.

 

Arti Logo Polwan Logo polwan memiliki arti:

  • Bunga Matahari yang bermakna sifat wanita.
  • Tujuh helai dan empat helai bunga melambangkan pedoman hidup Polri Tribrata dan pedoman kerja Polri Catur Prasetya Polri.
  • Perisai dan obor melambangkan Polwan adalah anggota kepolisian Republik Indonesia yang turut melaksanakan tugas dan fungsi kepolisian Republik Indonesia.
  • Tiga bintang emas bermakna Tribrata sebagai pedoman hidup bagi tiap anggota Polri.
  • 1948 melambangkan saat pertama kali adanya Polwan di kepolisian Republik Indonesia.
  • Esthi Bhakti Warapsari bermakna pengabdian putri-putri pilihan menuju kea rah tercapainya cita-cita luhur yaitu terciptanya masyarakat Tata Tentram Kerta Raharja kepada negara dan bangsa.


Sementara Brigjen Pol (Purn.) Rumiah Kartoredjo merupakan polwan pertama yang pernah menjabat sebagai Kapolda di Indonesia.

Kerja keras serta prinsip keseimbangan yang diyakininya berhasil membawa Rumiah menuju puncak pimpinan tertinggi di Kepolisian Daerah (Polda) Banten. Rumiah dilantik sebagai Kapolda Banten pada Januari 2008.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Rumiah untuk menjadi seorang polisi. Apalagi menjadi pimpinan di jajaran kepolisian. Rumiah kecil memiliki cita-cita sebagai seorang guru. Padahal sang ayah H. Kartoredjo merupakan mantan polisi zaman Belanda, mandor di Pabrik Gula Mojo Agung.

Cita-cita Rumiah rupanya juga menjadi keinginan sang ayah kepada anak-anaknya. Ayah Rumiah memang punya mimpi jika anak-anaknya akan menjadi seorang guru bukan polisi seperti dirinya. Meski begitu, sejak kecil Rumiah dan saudaranya dididik untuk taat beragama dan disiplin soal waktu.