Tutup Usia, Mengenang Begawan Hukum JE Sahetapy Beserta Warisan yang Ditinggalkan

Selasa, 21 September 2021 – 13:35 WIB

 Prof Dr Jacob Elfinus (JE) Sahetapy (Foto: Istimewa)

Prof Dr Jacob Elfinus (JE) Sahetapy (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Jika sejarah perkembangan hukum sejak kemunculannya pertama kali sudah berabad-abad lamanya, begitupun dengan para begawannya. Dunia hukum kembali kehilangan sosok pujangga, Prof Dr Jacob Elfinus (JE) Sahetapy. Kepergiannya pada Selasa 21 September 2021, pukul 06.57 WIB pagi tadi, tentu menyisakan duka mendalam terutama untuk hukum itu sendiri.

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) J.E. Sahetapy meninggal dunia pada usia 89 tahun.

 

Pria kelahiran Saparua, Maluku pada 6 Juni 1932 ini banyak meninggalkan sumbangsih terutama bagi perkembangan hukum di tanah air. 

Ia sudah membidani RUU KUHP sejak awal 90-an. Untuk memperdalam RUU KUHP, ia bahkan menggali langsung ke negara lahirnya KUHP, Belanda. 

Sayangnya, sama seperti Prof Muladi, Sahetapy tak sempat melihat anak kandungnya RUU KUHP nantinya disahkan.

Profesor emeritus yang juga pelaku sejarah ini juga selalu lantang meneriakkan moral dan pentingnya integritas, kejujuran dan sikap negarawan bagi penegak hukum. Menurutnya, salah satu penyebab bobroknya hukum karena dipicu perilaku para Sarjana Hukum (SH) yang tak menjunjung kode etik profesi sehingga tidak menerapkan hukum dengan jujur.

Terlebih, kini mata kuliah kode etik profesi bukan lagi mata kuliah wajib.

"SH itu kan Sarjana Halal. Kalau tidak jujur, ya jadinya Sarjana Haram," katanya, Senin 22 Maret 2010.

Ketika melihat murid-muridnya yang menjadi penegak hukum tapi telah melenceng jauh dari ajaran kode etik yang dipelajari semasa kuliah, dirinya merasa prihatin. Menurutnya, kejujuran adalah harga mati seorang pelaku hukum.

"Let it be remembered and treasured in the heart of every student, that no man can ever be a truly great lawyer who is not in every sense of an honest man. Jika sudah tidak jujur, mau apa lagi," ucapnya.

Akibat ketidakjujuran aparat hukum, akhirnya Indonesia pun carut-marut. Meski kenyataan hukum di Indonesia masih jauh dari harapan, tapi setiap orang Indonesia harus optimis akan adanya perubahan. 

Sudah bukan rahasia umum lagi, Sahetapy dikenal sebagai orang yang sederhana, lurus hidupnya dan lantang menyuarakan kebenaran. Bahkan di usia senjanya, dia tak pernah letih untuk mencerdaskan murid-muridnya.

Keinginan untuk selalu mencerdaskan kehidupan bangsa, nampaknya juga diturunkan dari kedua orangtuanya. Ia lahir dari pasangan guru. 

Sahetapy menempuh pendidikan dasarnya di sekolah dasar ibunya sendiri, yaitu Particuliere Saparuasche School. Ia belajar banyak dari ibunya tentang nasionalisme dan perjuangan membela rakyat kecil.

Ia kemudian menamatkan SMA di Surabaya. Setelah lulus SMA, Sahetapy memutuskan untuk masuk ke Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Selama kuliah Sahetapy dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas dan fasih berbahasa Belanda. Karena itu, ia kemudian diangkat menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Hukum Perdata.

Bahkan setelah selesai kuliahnya, ia ditawari untuk melanjutkan studinya di Amerika Serikat. Kesempatan ini diterimanya dengan senang hati. Dalam tempo dua tahun ia menyelesaikan program studi magisternya dalam bidang Hubungan Bisnis dan Industri dari Universitas Negeri Utah di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat, lalu kembali ke Indonesia.

Sahetapy pernah diduga menjadi intelijen asing usai kepulangannya menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Tuduhan itu pun langsung menghancurkan karirnya, hingga menganggur dalam kurun waktu yang lama.


Semua itu berawal ketika ia menerima tawaran melanjutkan kuliah S2 Business and Industrial Relations, University of Utah, Salt Lake City, USA, 1962. Sekembalinya dari Amerika Serikat, oleh pihak kiri ia dikenai tuduhan sebagai mata-mata Amerika.


Karenanya, suami Lestari Rahayu Lahenda ini tidak diizinkan mengajar. Setelah PKI tersingkir, ia pun tidak langsung mengajar karena munculnya tuduhan-tuduhan lain. Namun semua itu tidak membuatnya putus asa, bahkan ia semakin bertekad untuk membela rakyat kecil.

Setelah lama menganggur, ia akhirnya boleh mengajar dan pada 1979 ia terpilih menjadi dekan Fakultas Hukum di alma maternya. Ia mengambil gelar doktor dan menulis disertasi dengan judul "Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana".

Karirnya pun kian moncer, pelbagai jabatan di bidang hukum pun pernah diemban Sahetapy, termasuk sebagai Ketua Komisi Hukum Nasional. Ia pernah menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) Provinsi Jawa Timur dan sempat pula menjadi asisten Gubernur Mohammad Noor.

Ia mengatakan bahwa semua capaian prestasinya tersebut tak lepas dari peran sang ibu. Masih teringat dalam kenangan JE Sahetapy bagaimana ibunya mengajar dengan sabar tanpa pilih kasih. Ibunya tidak memandang mana anak yang pintar atau bodoh, kaya atau miskin, dan berstatus anak kandung atau bukan. Pembelajaran berharga dari sang ibu inilah menjadi bekal masa depanya.

Mantan Guru Besar Tamu di Fakultas Hukum Leiden, Belanda dan Universitas Katholik Leuven, Belgia, ini pun pernah menyebut negara kita ini ibarat “Rumah Sakit Gila” yang dihuni sebagian orang yang sudah “gila” (gila kekuasaan, KKN, pangkat, dan jabatan). Sebagian penghuni sudah setengah “gila” karena keinginan, ambisi yang ambisius tidak tercapai sehingga berperilaku dan berpikir yang tidak lagi rasional.

Ia menambahkan ada pula penghuni yang mengalami 'depresi' dan sudah pada tahap fatalistik, karena bingung melihat gejolaknya kejahatan yang sadistik, KKN ibarat kanker yang tengah merajalela dengan ganas.

Sebagian penghuni lain seperti sudah kehilangan akal, karena melihat orang-orang yang begitu tekun menjalankan ibadah agamanya, tetapi kalau diamati dengan cermat seperti orang-orang ateis yang tidak berperikemanusiaan, yang amoral, tetapi justru mereka berdalih sebagai penyelamat dunia ini.

Yang paling besar jumlahnya ingin berteriak tetapi apa daya seperti tidak berkekuatan karena perut mereka terus keroncongan. Tetapi, mereka yang di akar rumput ini “have nothing to loose” kalau dihasut untuk menjadi radikal dan bersedia mati untuk suatu kausa yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka.

Pada tahun 1979, ia terpilih menjadi dekan Fakultas Hukum di Universitas Airlangga, selanjutnya ia melanjutkan pendidikan untuk mengambil gelar doktor dan menulis sebuah buku berjudul “Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuh Berencana”. Selain sebagai pengajar ilmu hukum di Universitas Airlangga, ia juga mengajar di Program Pasca Sarjana Hukum Universitas Indonesia dan Universitas Diponegoro. Selain itu ia menjabat sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra.


Keluarga

Selama membangun bahtera rumah tangga bersama Lestari Rahayu Lahenda, mereka dikaruniai tiga orang putri yang bernama Elfina Lebrine yang lahir pada tahun 1969 dan merupakan lulusan S2 di Fakultas Hukum, Universitas Leiden di kota Belanda, kemudian Athilda Henriete yang lahir pada 1971 dan lulusan S2 Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, di kota Semarang dan Wilma Laura yang lahir pada tahun 1979, ia lulusan Fakultas Sastra Universitas Kristen Petra dan S2 Fakultas Hukum Universitas Surabaya.

Selain memiliki 3 anak kandung, ia juga memiliki satu orang anak angkat yang bernama Kezia, lahir pada tahun 1992. Kezia kini masih menempuh studi di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Raga Sahetapy mungkin sudah meninggalkan kita semua, namun warisannya berupa ilmu akan abadi selama-lamanya. Peninggalannya memang bukan berupa materi, namun keteladanannya patut di contoh. Akan terkenang dan menjadi warisan untuk anak muda, sosok berintegritas, lurus, dan idealis. Semoga kita semua terutama mahasiswa hukum dapat melanjutkan perjuangannya dan meneladani sosok begawan hukum yang kritis dan bermoral itu.