Phil Collins, Pengepungan Benteng Alamo, dan Narasi Supremasi Kulit Putih

Rabu, 20 Oktober 2021 – 11:58 WIB

Foto: thoughtco.com

Foto: thoughtco.com

San Antonio, REQNews.com -- Phil Collins, musisi pentolan Genesis, terperosok ke dalam perdebatan rasis menyusul kritik terhadap Museum Pengepungan Benteng Alamo yang dinilai terlalu memuliakan kulit putih dan mengabaikan perjuangan penduduk Latin, orang asli Amerika, dan kulit hitam.

Tahun 2014, Collins -- yang memiliki minat terhadap memorabilia Pengepungan Benteng Alamo -- menyumbangkan koleksinya; berupa senjata, pakaian, surat, dan artefak Alamo ke negara bagian Texas. Harta karun itu ditaksir bernilai 10 juta pound, atau Rp 195 miliar.


Pengepungan Benteng Alamo

Pengepungan Benteng Alamo adalah titik penting Revolusi Texas. Pasukan Meksiko, berkekuatan 3.000 prajurit -- versi lain mengatakan 6.000, mengepung Benteng Alamo yang dipertahankan 200 orang.

Setelah pengepungan 13 hari, Jenderal San Anna -- komandan pasukan Meksiko -- memasuki Benteng Alamo dan membantai seluruh dari 200 pejuang dibawah pimpinan Davy Crockett dan Jim Bowie, pada 6 Maret 1836.

Tidak seluruh dari 200 pejuang di Benteng Alamo adalah kulit putih. Ada puluhan penduduk asli Amerika, dan belasan budak kulit hitam yang berjuang membela tuan merka.

Hari-hari berikutnya, penduduk Texas bergabung dengan tentara dan mengobarkan perang balas dendam. Di San Jacinto pada 21 April 1836, tentara Texas mengalahkan pasukan Meksiko, mengakhiri revolusi dan memerdekakan Republik Texas.

Kisah Pengepungan Benteng Alamo dinarasikan berulang-ulang, dengan berbagai versi, berdasarkan catatan-catatan prajurit terkepung. Narasi mengerucut pada satu hal yang paling tak disuka, yaitu supremasi kulit putih.

Orang-orang Hispanik-Texan, penduduk asli Amerika, dan budak kulit hitam seolah tidak berperan apa pun dalam pertempuran di Benteng Alamo. Perdebatan ras tampaknya akan terus mewarnai narasi sejarah pertempuran ini.


Mitos Alamo dan Supremasi Ras

Sumbangan diberikan dengan syarat pemerintah negara bagian Texas membangun museum yang didedikasikan untuk Pertempuran Alamo -- benteng berusia 300 tahun yang kini menjadi landmark pariwisata San Antonio dan menarik 1,6 juta pengunjung setiap tahun.

Negara bagian Texas memenuhi janjinya. Sebuah museum bernilai 15 juta pound, atau Rp 292 miliar, dibangun dan dibuka musim panas lalu. Koleksi Phil Collins dipamerkan di museum itu.

Alih-alih disambut antusias warga San Antonio, museum itu justru kebanjiran kritik aktivis Hispanik-Texan -- atau orang-orang keturunan Spanyol di Texas. "Istana mahal itu hanya mengagungkan mitos Alamo, menihilkan peran segelintir orang yang membela kulit putih melawan Jenderal Santa Anna, gerombolan Meksiko," bunyi salah salah satu kritik.

Kritikus lainnya mengatakan koleksi Collins, yang seluruhnya berasal dari prajurit kulit putih, membantu mengabaikan narasi Pengepungan 13 hari dan Pembantaian 90 Menit terhadap sekelompok kecil pejuang yang dipimpin pahlawan rakyat AS Davy Crockett dan Jim Bowie.

Narasi 'supremasi kulit putih' dalam Pertempuran Alamo didukung film-film Hollywood. Seolah kontribusi prajurit non-kulit putih sangat minim dan tak layak dinarasikan.

Menurut kritikus, museum harus mencerminkan kontribusi Tejanos, orang Texas keturunan Meksiko, serta penduduk asli AS dan budak kulit hitam. Lebih penting lagi, museum harus menekankan pada konteks sejarah perbudakan dan kolonialisme.

"Kita harus membawa cerita orang lain ke permukaan, karena selama bertahun-tahun semua itu menjadi renungan," kata Ramon Vasquez, juru bicara Tap Pilam Coahuiltecan Nation, kepada The Times.

Namun politisi lokal dan kelompok konservatif ingin museum fokus pada peserta inti pertempuran. Atau saat pengunjuk rasa bersenjata muncul di Alamo.

Tahun lalu, kelompok milisi dikabarkan membantu menghentikan rencana memindahkan tugu peringatan marmer setinggi 17 meter, bertulis nama-nama pemukim yang jatuh dari luar gedung gereja.

Monumen itu tampaknya dicat dengan grafiti bertulis; Supremasi Kulit Putih, Menguntungkan Rakyat, ALAMO.