IFBC Banner

Ngeri! Begini Proses Hukuman Mati Amrozi 'The Smiling Assassin' Bom Bali

Selasa, 09 November 2021 – 20:02 WIB

Amrozi bin Nurhasyim, terpidana mati kasus Bom Bali (Foto: Istimewa)

Amrozi bin Nurhasyim, terpidana mati kasus Bom Bali (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Amrozi bin Nurhasyim merupakan seorang terpidana yang dihukum mati karena menjadi penggerak utama dalam peristiwa pengeboman di Bali pada 2002. Bahkan sebelumnya ia pernah terlibat dalam kasus Bom Malam Natal 2000.

Pria kelahiran 5 Juli 1962 itu, disebut-sebut termotivasi ideologi Islam radikal dan anti-Barat yang didukung organisasi bawah tanah Jemaah Islamiyah. 

Pada 7 Agustus 2003, Amrozi dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas tuduhan keterlibatan dalam peristiwa pengeboman tersebut dan divonis hukuman mati.

Namun undang-undang yang digunakan untuk memvonisnya ternyata kemudian dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah Agung (MA) pada Juli 2004.

Sebelumnya, ia ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan di Denpasar. Namun, dipindahkan ke LP Nusakambangan pada 11 Oktober 2005 bersama dengan Imam Samudra dan Mukhlas, dua pelaku Bom Bali lainnya.

Walaupun vonis hukuman mati telah berlaku tetap semenjak 2003, tetapi pelaksanaan hukuman tertunda berkali-kali karena tim pengacara mereka berusaha mengajukan sejumlah keberatan.

Pertama kali yang dilakukan adalah melakukan Peninjauan Kembali (PK), setelah ditolak pada tahun 2008 tim pengacara mengajukan uji terhadap keputusan MA ke Mahkamah Konstitusi.

Usaha terakhir adalah dengan mengajukan uji terhadap pelaksanaan hukuman mati, karena ketiga terpidana tidak menginginkan dihukum mati dengan ditembak, melainkan dengan dihukum pancung sesuai syariat Islam, namun ditolak kembali oleh Mahkamah Konstitusi.

Amrozi yang tampak acuh sepanjang pengadilan, membuatnya sering dijuluki media massa The Smiling Assassin (pembunuh yang tersenyum). Bahkan sebelum pelaksanaan hukuman mati tersebut, tim pengacara sempat menyatakan akan membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional.

Awalnya, pelaksanaan eksekusi akan dilakukan sebelum bulan Ramadan tahun 2008, tetapi kemudian ditunda, diduga dengan alasan belas kasihan.

Pelaksanaan menjadi jelas sejak tanggal 5 November 2008 setelah ketiganya dipindah ke ruang pengamanan maksimum dan diberitahu bahwa paling lama dalam 3 kali 24 jam akan segera dieksekusi. Dalam seluruh proses meminta agar mata mereka tidak ditutup, bahkan tidak ada perlawanan yang mereka lakukan.

Iring iringan mobil mulai berangkat dari LP Batu, Nusa Kambangan sejak pukul 23.15 WIB menuju lokasi eksekusi di bekas LP Nirbaya, sekitar 6 km ke arah selatan Lapas Batu. Ketiganya dinyatakan meninggal sekitar pukul 00.15 WIB pada Minggu 9 November 2008.