Mengenang 19 November 1945: Insiden Kolaka yang Bersejarah Namun Nyaris Terlupakan

Jumat, 19 November 2021 – 18:01 WIB

Monumen Gelora Perjuangan di Kolaka

Monumen Gelora Perjuangan di Kolaka

JAKARTA, REQnews - Bulan November merupakan bulan penuh sejarah bagi masyarakat Indonesia. Di bulan ini, pernah terjadi sejumlah peristiwa patriotik dimana para pahlawan Indonesia berjuang habis-habisan melawan penjajah demi merebut kemerdekaan.

Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah pertempuran 10 November di Surabaya yang membuat momen tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Namun tak hanya peristiwa 10 November, ada pula peristiwa lain yang tak kalha bersejarah. Yakni, peristiwa 19 November 1945 yang dikenal dengan Insiden Kolaka.

Peristiwa 19 November merupakan suatu peristiwa di awal Revolusi Nasional Indonesia dimana iring-iringan kendaraan Belanda disergap pemuda Indonesia di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tanggal 19 November 1945.

Awal Mula Peristiwa Kolaka

Pemuda di Kabupaten Kolaka menyatakan bahwa Kolaka merupakan wilayah Republik Indonesia pada tanggal 17 September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Organisasi pelaskaran PKR (Pembela Keamanan Rakyat) kemudian dibentuk, dan para pemuda Kolaka (di bawah organisasi PRI, Pemuda Republik Indonesia) mencoba menyebarkan kekuasaan Indonesia ke wilayah lain di Sulawesi Tenggara, seperti Kendari.

PKR sendiri dipimpin oleh sekumpulan bekas serdadu KNIL yang diasingkan Jepang ke tambang-tambang nikel di Pomalaa. Tentara Jepang di Kolaka sempat berupaya membuang senjata mereka ke laut supaya tidak direbut oleh para pemuda, tetapi PKR berhasil memperoleh senjata tersebut dengan bantuan penyelam.

Pada bulan Oktober, perwakilan PRI telah berhasil menaikkan bendera merah putih di Kendari, namun bulan berikutnya tentara Australia bersama NICA mendarat di Kendari, dan memulihkan kekuasaan Belanda di sana.

Meskipun dengan dukungan tersebut, Belanda tidak berhasil mengendalikan wilayah Sulawesi Tenggara sepenuhnya, dan untuk memperkuat kendali mereka sejumlah tentara KNIL yang tadinya akan ditugaskan ke Palopo dikirim ke Kendari.

Pada tanggal 19 November, NICA mengirim sejumlah serdadu beserta iring-iringan kendaraan ke Pomalaa untuk menjemput bekas serdadu KNIL (yang telah bergabung ke PKR), mengabaikan protes para pemuda yang menganggap NICA melanggar kedaulatan Indonesia.

Karena itu, PKR memutuskan untuk menghadang iring-iringan tersebut di jalan, dan sekitar 1000 orang dikerahkan, sebagian bersenjata tradisional seperti parang, keris, bambu runcing, dan sebagainya.

Saat kembali, iring-iringan tersebut bertambah satu peleton tentara Jepang, dan mereka disergap oleh para pemuda. Tentara Jepang langsung menyerah, sementara tentara Belanda yang diserang dari segala arah tercerai-berai.

Setidaknya 2 orang tentara NICA tewas dalam sergapan tersebut dan 2 orang tertangkap, sementara seorang pemuda gugur dan satu lagi luka parah.

Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, kedua tahanan dan jenazah NICA dikembalikan ke tentara Australia di Kendari seusai perundingan, namun para pemuda tetap memegang senjata mereka.

Kolaka direbut oleh NICA setelah pertempuran tanggal 5 Februari 1946, tetapi BKR mundur ke pedesaan dan memulai perang gerilya yang bertahan sampai tahun 1948.

Meskipun peristiwa 19 November tidak sebesar Pertempuran Surabaya yang meletus sembilan hari sebelumnya, peristiwa ini cukup dikenang terutama oleh masyarakat Kolaka sendiri.

Peristiwa ini pula yang menginspirasi penamaan Universitas Sembilan Belas November Kolaka. Didirikan pula Tugu 19 November di Kolaka untuk memperingati peristiwa ini.