Sosok Arswendo Atmowiloto, Penulis Ternama Indonesia Asal Surakarta

Jumat, 26 November 2021 – 12:33 WIB

Arswendo Atmowiloto seorang budayawan, penulis dan wartawan Indonesia (Foto: Istimewa)

Arswendo Atmowiloto seorang budayawan, penulis dan wartawan Indonesia (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Arswendo Atmowiloto merupakan seorang budayawan, penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah hingga surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Ia biasanya menulis cerpen, novel, naskah drama, dan skenario film.

Lahir dengan nama Sarwendo di Surakarta, Jawa Tengah pada 26 November 1948 itu kemudian mengganti nama depannya menjadi Arswendo dan menambahkan nama bapaknya, Atmowiloto di belakang.

Setelah lulus SMA, Arswendo kuliah di fakultas bahasa dan sastra IKIP Solo, tetapi tidak tamat. Kemudian pada tahun 1979, dirinya pun mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa.

Ia pernah memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo (1972), wartawan Kompas dan pemimpin redaksi Hai, Monitor, dan Senang. Kakaknya, Satmowi Atmowiloto merupakan seorang kartunis.

Pada tanggal 15 Oktober 1990, monitor merilis tabel nama berjudul 'Ini Dia: 50 Tokoh yang Dikagumi Pembaca.' Dari 50 tokoh yang ada dalam daftar itu, Arswendo menempati peringkat ke-10, di atas Muhammad (ke-11).

Peringkat ini menuai kritik dari para tokoh Muslim, kecuali Abdurrahman Wahid yang berpendapat bahwa Monitor punya hak terbit. Massa yang marah berdatangan ke kantor Monitor pada 17 Oktober 1990, dua hari setelah daftarnya dirilis.

Arswendo pun kemudian meminta maaf secara terbuka melalui siaran televisi pada tanggal 19 Oktober 1990. Ia meminta maaf karena menerbitkan hasil jajak pendapat 'tanpa penyuntingan.' Tabloid Monitor juga merilis permohonan maaf di berbagai surat kabar di seluruh Indonesia.

Keesokan harinya, unjuk rasa pecah di Jakarta dan Bandung. Staf Monitor mulai menyelamatkan arsip dan dokumen tabloid pada malam tanggal 21 Oktober 1990. Monitor edisi 22 Oktober memuat pernyataan maaf. Pada 22 Oktober, sejumlah kelompok pemuda Muslim berunjuk rasa di jalanan dan merusak kantor Monitor.

Monitor, tabloid yang peredarannya mencapai 470.000–720.000 eksemplar saat itu, berhenti terbit setelah izinnya dicabut pada 23 Oktober 1990 oleh Menteri Penerangan Harmoko (pemegang saham Monitor).

Arswendo pun kemudian diberhentikan oleh Gramedia, sejak saat itu Pers menjuluki Arswendo sebagai 'Salman Rushdie-nya Indonesia.' Ia secara resmi ditahan polisi pada tanggal 26 Oktober 1990. 

Pada April 1991, Arswendo dituduh melakukan subversi dan dihukum lima tahun penjara. Pengadilan menyatakan Arswendo seharusnya menyunting hasil kuis untuk mencegah provokasi terhadap pembaca yang masih muda.

Persidangan Arswendo menjadi salah satu persidangan yang paling ketat pengamanannya dalam sejarah Indonesia. Tempo menulis sekitar 1.000 personel dikerahkan untuk mengamankan jalannya sidang.

Dalam penjara, Arswendo menulis sejumlah karya sastra, cerita bernada absurd, dan anekdot humor. Salah satu tulisan yang dibuatnya di penjara seperti Menghitung Hari yang bercerita tentang kehidupan di penjara dan diterbitkan tahun 1993.

Pada tahun 1995, Menghitung Hari diangkat menjadi sinetron di SCTV yang kelak memenangi penghargaan film terbaik di Festival Sinetron Indonesia 1995. Atas keberhasilan sinetron ini, kegiatan syukuran diadakan di dalam penjara.

Arswendo menulis kurang lebih 20 buku di tahanan, rata-rata memakai nama samaran. Untuk cerita bersambungnya, Sudesi (Sukses dengan Satu Istri), di harian Kompas, ia menggunakan nama Sukmo Sasmito.

Untuk Auk yang dimuat di Suara Pembaruan ia memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng yang ia pungut sekenanya. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah Said Saat dan B.M.D. Harahap. 

Arswendo kemudian dibebaskan pada bulan Agustus 1993. Usai bebas dari penjara, Arswendo kembali menggeluti sastra dan jurnalisme dan menjadi pemimpin redaksi tabloid Bintang Indonesia selama tiga tahun, kemudian mendirikan perusahaan medianya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, pada tahun 1998.

Perusahaan ini memayungi beberapa media cetak, termasuk tabloid anak Bianglala, Ina (lalu berganti nama menjadi Ino), dan Pro-TV. Dua tabloid ditutup karena Arswendo tidak sejalan dengan mitranya; hanya Ino yang bertahan.

Namun, pada bulan Juni 2019 keluarga mengungkapkan bahwa Arswendo telah mengidap kanker prostat sejak dua bulan yang lalu. Ia meninggal dunia pada sore hari tanggal 19 Juli 2019 di rumahnya di Jakarta Selatan. Jenazahnya dimakamkan keesokan harinya di tempat pemakaman San Diego Hills, Karawang.