Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Benjamin Mangkoedilaga: "Saya Telah Menanam Kebaikan"

Kamis, 04 Juli 2019 – 20:30 WIB

Almarhum Benjamin Mangkoedilaga (Foto: Istimewa)

Almarhum Benjamin Mangkoedilaga (Foto: Istimewa)

REQnews - Benjamin Mangkoedilaga menjalani masa pensiunnya sebagai hakim dan hakim agung. Bersama sesama mantan hakim agung, Bismar Siregar dan Adi Andojo, Benjamin menjadi hakim arbitrase. Pria kelahiran Garut 30 September 1937 itu, mengaku lebih sibuk di masa pensiun dibandingkan menjadi hakim dan hakim agung.

Banyak orang yang mencarinya. Orang-orang yang mencari adalah orang-orang kecil yang teraniaya, yang diperlakukan tidak adil oleh aparat penegak hukum dan kekuasaan. Tidak hanya berasal dari Jakarta, orang-orang kecil itu juga berasal dari daerah. Membantu orang-orang semacam itu membuat hidupnya lebih enjoi, bahagia, puas, walau tak dibayar.

“Saya menjadi lebih sibuk karena dipercaya. Tetapi meski sibuk, saya enjoi, enjoi banget. Saya bukan advokat, tetapi banyak pula advokat yang cari saya, konsultasi kasus hukum. Saya bilang, you butuh saya, konsultasi, ok, tetapi saya percaya you tidak akan memberi saya Rp 50 ribu. Mereka tau, saya setaraf dengan Mulya Lubis, dengan Adnan Buyung, tetapi saya kan tidak menentukan tarif. Dulu waktu jadi hakim, kemudian jadi hakim agung, saya hanya lihat uang Rp 10 ribu, tetapi setelah pensiun saya lihat uang $ 10 ribu,” ujar Benjamin dengan nada canda dan tertawa.

Sepanjang 38 tahun menjadi hakim, lalu menjadi hakim, sepanjang itu pula Ben atau Benjamin melakoni profesi hakim yang sesungguhnya, yakni hakim yang benar-benar bekerja keras dan profesional. Ia bekerja lurus, jujur, antisuap, hidup sederhana, menjunjung tinggi integritas dan moralitas. Banyak putusan perkaranya yang monumental, adil dan bijaksana, yang benar-benar berpihak pada keadilan dan kebenaran, misalnya, putusan perkara majalah TEMPO.

Berkali-kali disuap dan berkali-kali itu jua, Ben menolaknya. Ben selalu berdalih, tolong deh bantu dirinya menjadi hakim nan baik. Pada saat dia menjadi hakim agung dan mau memutuskan perkara majalah TEMPO, dirinya menerima ancaman pemecatan, track record-nya ditelusuri, dicari-cari kelemahannya, kinerja masa lalunya diselidiki.

Pengintel pergi ke Cianjur, ke Surabaya di mana pun Ben pernah bertugas kala menjadi hakim dan mencari tahu apakah Ben pernah menerima duit.
“Duit tidak membahagiakan saya, tetapi yang membuat saya bahagia dan puas adalah saya telah menanamkan kebaikan, saya telah bekerja dengan baik, melakukan yang benar, adil, bijak untuk orang lain, menanamkan kebajikan di masa muda, membuat putusan yang selalu pakai hati nurani. Saya juga selalu bilang kepada para hakim, jangan dikira apa yang kau lakukan sekarang kau akan selamat, belum tentu. Apa yang kau lakukan sekarang yang tidak benar itu, satu ketika akan terungkap, lima atau 10 tahun kemudian. Misalnya pada saat ikut seleksi hakim agung. Sekarang ini, masyakat sendiri yang melaporkannya,” demikian pesan suami Rooslina dan ayah dua putri ini.

Lalu, jebolah FH UI dan pendidikan khusus hakim dari Perancis itu berkomentar, “Jelek-jelek begini, bekas atlit nasional lho, atlit atletik untuk lari 400 meter, 800 meter, estafet 4 X 4 meter dan lari gawang 400 meter. Masa jaya saya adalah tahun 1958. Prestasi saya, nomor satu tidak pernah tetapi selalu masuk 4 besar. Makanya sampai sekarang saya masih suka olahraga lari di Senayan setiap Sabtu dan Minggu, tetapi larinya sekitar 20 menit, makan buburnya sampai 2 jam, santai, ngobrol dengan teman-teman.”

Sehari-hari, Benjamin berkantor di RS Jakarta, kawasan Sudirman. Ia menempati sebuah ruangan kecil dan sederhana di lantai II pada sebuah gedung di rumah sakit yang didirikan jaman Belanda tersebut. Di rumah sakit tersebut Ben menjadi pembina yayasan. Di sanalah dia menerima berbagai tamu. Jika tidak ada di ruangannya, maka dia berada di pengadilan arbitrase di kawasan Mampang, Jakarta Selatan atau menghadiri seminar atau tugas lainnya.

“Saya mau jadi Pembina yayasan RS Jakarta, karena ini rumah sakit perjuangan. Rumah sakit ini didirikan oleh kaum republik. Mereka dokter-dokter pejuang di Jakarta yang ketika itu tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Pada mulanya rumah sakit ini didirikan sebagai pengimbang RS Carolus, RS Cipto Mangunkusumo, RS Sumber Waras. Rumah sakit ini bagi orang-orang yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda,” papar Benjamin dengan semangat.

Ya, artikel ini merupakan bagian dari kenangan Benjamin Mangkoedilaga meninggal dunia pada Kamis 21 Mei 2015 silam di RS Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Artikel ini ditulis dari hasil wawancara REQuisitoire Magazine, sekarang REQnews pada tahun 2013, sebelum almarhum meninggal.

Pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 30 September 1937 itu meninggal dalam usia 77 tahun karena menderita sakit jantung. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka, di Pintu Barat Ragunan, Kavling Polri No 36 B, Jakarta Selatan, lalu dimakamkan di TPU Jeruk Purut.